Cinta Shalat Dhuha

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 16 Rabiul Awal 1444

Cinta Shalat Dhuha
Saudaraku, di antara sunah Nabi yang sebaiknya kita biasakan secara harian adalah shalat dhuha. Ya shalat dhuha dipahami sebagai shalat sunah yang dilakukan seorang muslim ketika waktu dhuha, saat matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya hingga jelang waktu dzuhur. Shalat dhuha dapat dilakukan setidaknya 2 rakaat dan maksimal 12 rakaat, dengan 2 rakaat sekali salam. 

Meski dihukumi sunah, namun karena keberkahan yang disediakan Allah sungguh luar biasa, maka sayang bila diliwatkan begitu saja. Apalagi  waktu dhuha di pagi hari merupakan saat-saat yang tepat untuk berdoa memohon rezeki melalui penunaian shalat dhuha dan beramal shalih apa saja. Dan tentu kemudian berikhtiar mencari nafkah untuk diri dan keluarga, untuk belajar mengajar, berniaga, ke sawah ladang dan sebagainya.

Karena pentingnya, Allah mengabadikan dalam sumpahNya terhadap waktu dhuha sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an, Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkanQs. Al-Dhuha 1-11)

Di samping itu dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad saw juga menasihati kita betapa berkahnya dhuha. Di antara sabdaya, Dari Abu Dzar, dari Nabi Muhammad saw,beliau bersabda: “Pada pagi hari setiap tulang (persendian) dari kalian akan dihitung sebagai sedekah. Maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, memerintahkan kebaikan (amar ma’ruf) dan melarang dari berbuat munkar (nahi munkar) adalah sedekah. Semua itu cukup dengan dua rakaat (shalat sunat) yang dilaksanakan di waktu dhuha.” (HR. Muslim, Abu Dawud)

Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa yang keluar untuk melaksanakan shalat dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan umrah.” (Al-Targhib)

Diriwayatkan daripada Nu‘aim bin Hammar bahawa ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda; Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, janganlah kamu merasa lemah untuk beribadah kepada-Ku dengan cara mengerjakan shalat empat rakaat di awal waktu siangmu (shalat dhuha), niscaya akan Aku cukupkan untukmu di akhir harimu.” (Hr. Abu Dawud)

Barangsiapa yang menjaga shalat dhuhanya niscaya diampuni Allah baginya akan segala dosanya walaupun seperti buih di lautan.”(Hr Ibnu Majah dan al-Tirmidzi)
“Bahwasanya di surga ada pintu yang dinamakan ‘Dhuha’. Maka apabila tiba hari kiamat kelak, berserulah (malaikat) penyeru: “Manakah orang-orang yang telah mengamalkan shalat dhuha; Inilah pintu kamu, silakan masuk ke dalam surga dengan Rahmat Allah.” (Hr Al-Tabrani)

Secara fisik lahiriyah, karena shalat dhuha ditunaikan pada pagi hari, maka pelaksanaannya akan mengantarkan pelakunya pada kembangtumbuhnya fisik yang sehat, seimbang dan menawan. Di antaranya juga terjadi refleksi fisik yang dengannya dapat membantu menjaga kesehatan badan, melancarkan peredaran darah, menormalkan produksi hormon dalam tubuh. Dan secara phisikologis, penunaian shalat dhuha dapat mengantarkan jiwa menjadi lebih tenang dan memininalisir potensi stres. Mengapa? Di antaranya karena segala urusan dipermudah dan dianugrahi berkah oleh Allah. Persoalan rezeki menjadi melimpah dan bertambah-tambah.

Tentu, setelah mengenali dan mengetahui percikan keberkahan yang disediakan Allah dalam amalan shalat dhuha, maka tinggal saja kita memulai mendekatinya (baca mengerjakannya). Apalah beratnya bila sebelum berangkat kerja atau sembari dalam beraktivitas hariannya di pagi hari sampai jelang siang kita luangkan waktu untuk bersimpuh di haribaan Allah ta'ala sembari bermunajat kepadaNya.

Saat sudah mulai mereguk manisnya iman di dada, maka kitapun senantiasa suka menjumpainya (baca istikamah mengerjakannya), niscaya kita mampu merasakan manisnya mencintai sunah NabiNya. Bila sudah cinta, maka hatipun semakin terbuka, hasrat dan keinginan senantiasa bersepadu dengan ridha Allah ta'ala.

Coba bayangkan ketika kita memperoleh cintaNya Allah. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan, "Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada Ku dengan amalan-amalan sunah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, Aku akan menjadi penglihatannya yang ia pergunakan untuk melihat, Aku akan menjadi langkah kakinya yang dengannya ia beraktivitas. Apabila ia berdoa pasti Ku kabulkan. Apabila ia memohon pertolongan pasti Ku tolong." (HR Bukhari).

Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama