Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 17 Rabiul Awal 1444
Cinta Dzikir
Saudaraku, dalam kapasitasnya sebagai hamba ciptaan Allah, sungguh beruntung bila kita dianugrahi hati yang mampu bersyukur, akal yang terasah melalui tafakur, lisan yang basah dengan dzikir, dan budi pekerti yang diridhai. Apalagi seiring dengan bertambahnya usia, tentu harus semakin bijak memaknai hidup dan kehidupan yang fana ini.
Oleh karena itulah, dzikir mustinya dimaknai dan mencakupi makna space yang amat luas, mengakomodir seluruh aktivitas yang mampu mengingatkan diri kita pada Allah ta'ala. Pemenuhan arkanul iman dan arkanul Islam, tentu menjadi perwujudan dzikir formal yang relatif muktabarah, sedangkan dzikir di pagi hari, siang hari, petang hari dan dzikir usai shalat sejatinya menuntun kita umat Islam agar mencintai dzikir sepanjang kesehariannya. Ya mencintai dzikir musti merefleksi pada bibir yang selalu basah mengingat Allah, hati bersyukur, akal yang gemar bertafakur dan pekerti yang merahmati.
Hal tersebut sekaligus juga menjadikan dzikir sebagai wasilah atau instrumen yang dapat melepaskan diri daripada sifat lengah, lalai dan lupa pada Allah Rabbuna. Apalagi sifat ‘lupa’ atau nisian itu merupakan kata dasar yang melekat pada ‘insan’ (manusia). Allah berfirman yang artinya Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.(Qs. Al-Taubah 67)
Berdasarkan pada normativitas yang terjemahnya tertera di atas, maka di antara natijah yang dapat kita ambil adalah realitas bahwa orang yang melupakan Allah itu merupakan perilaku orang-orang munafik. Hal ini dilihat pada perilakunya yang menyalahi ketentuan Ilahi; beda antara hati, lati dan pekerti. Inilah orang-orang yang lupa pada Allah, sehingga Allahpun lupa pada dirinya.
Dengan pemaknaan yang sedemikian rupa, maka dzikir dapat mengingatkan diri kita pada Allah, sehingga merefleksi pada kesesuaian antara hati dan lati, maupun pekerti hari-hari dalam keridhaan Ilahi.
Secara teoretis, dzikir mengakomodasi aktivitas hati, lati dan pekerti dalam mengingat Allah dengan menyebut nama Allah atau sifatNya atau hukumNya atau perbuatanNya atau menyebut nama para rasulNya, para nabiNya atau berbuat amal kebajikan seperti membaca Al-Quran, bertasbih, memberi nasihat dan lain sebagainya.
Dan secara praktis, kita bisa membasahi bibir dengan membiasakan membaca basmalah dengan melafalkan bismillahirrahmanirahim saat memulai suatu aktivitas yang tdntu betmakna, tahmid dengan alhamdulillah, tahlil dengan lailahaillah), takbir dengan Allahuakbar, tamjid (kata-kata pujian kepada Allah), istighfar dengan astaghfirullah, dan sebutan apapun yang mengaitkan diri (hati, lati dan pekerti) dengan Ilahi Rabby.
Di samping itu juga bisa menyebut dengan lisan dan hati akan sifat-sifat daripada sifat Allah seperti Al-Rahman dan 99 asmaul husnaNya, berselawat ke atas nabi, atsu membaca al-Qur'an. Dengan demikian dzikir melibatkan hati, lati dan pekerti. Hanya dengan
kesemuanya ini, seseorang dapat melaksanakan dzikir itu dengan sempurna. Semoga kita dianugrahi cinta pada dzikir, untuk selalu ingat dan mengingat Allah. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian