Muhasabah 7 Safar 1444
Amanah Memimpin
Saudaraku, dalam rangka mensukseskan amanah kekhalifahan di muka bumi, manusia (dalam hal ini setiap orang) juga mengemban tugas dan kewajiban memimpin. Inilah yang menjadi latar muhasabah hari ini sehingga diracik di bawah judul amanah memimpin.
Dalam hal kepemimpinan terdapat riwayat yang sudah amat populis.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنَّهُ قَالَ « أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ »(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Artinya: Dari Ibnu Umar ra dari Nabi saw bersabda: sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya (HR. Muslim).
Bila kita merujuk pada normativitas Islam sebagaimana tersebut dalam riwayat tersebut di atas, maka di antaranya dapat dipahami bahwa setiap orang adalah pemimpin setidaknya untuk dirinya sendiri. Tetapi tentang kepemimpinan diri sendiri ini sering diabaikan dan tidak dibahas. Seolah kalau berbicara kepemimpinan itu mesti ada masa atau orang lain yang banyak. Padahal kepemimpinan diri terhadap diri sendiri juga amat penting. Bahkan keberhasilan tidaknya dalam memimpin diri sendiri dapat menjadi di antara tolok ukur atau indikator keberhasilan tidaknya memimpin sesamanya, baik skala kecil maupun besar; skope keluarga maupun negara.
Idealitasnya, di samping mengakomodir aktivitas lahiriyah dan batiniyah, memimpin itu adalah proses memberdayakan segenap potensi dan kemampuan yang dimiliki, mengerahkan dan mengarahkannya pada pencapaian tujuan (baca kebahagiaan) yang diinginkan dalam hidupnya.
Agaknya demikian juga halnya memimpin sesamanya; memimpin anggota keluarga, memimpin istri dan anak-anak, memimpin organisasi, korporasi atau institusi, memimpin perguruan tinggi, memimpin masyarakat sedesa, sekecamatan bahkan sampai sebangsa setanah air dan senegara.
Karena pangkal dan muaranya pada kepemimpinan terhadap diri sendiri, maka mestinya masing-masing kita menyadari dan berikhtiar menjadi pemimpin yang baik, pemimpin yang berkualitas, pemimpin yang berhasil dan sukses.
Secara subyektif, lontuan selalu berusaha berpikir positif, maka sejatinya setiap kita setiap orang adalah pemimpin diri yang baik; setiap kita adalah pemimpin diri yang berkualitas; setiap kita adalah pemimpin diri yang berhasil; setiap kita adalah pemimpin diri yang sukses; Adapun yang membedakan antara satu dan lainnya terletak pada persentasenya saja; baiknya berapa persen, berkualitasnya berapa persen, berhasil atau suksesnya berapa persen.
Persentasenya berapa? Bila kepemimpinan terhadap diri sendiri, maka jawabannya barangkali terletak pada tingkat kepuasan diri (baca kebahagiaan) yang dirasakannya. Nah kepuasan atau kebahagiaan kita seberapa? Susah diukur, bukan? Maka sebaiknya ya tidak diukur saja apalagi direkayasa. Hal yang paling penting adalah bagaimana caranya presentase baik, presentase berkualitas, presentase berhasil dan presentase suksesnya itu senantiasa berproses meningkat dan terus meningkat. Begitu juga rasa puasnya, dan rasa bahagianya. Itu saja.
Tetapi kalau mengukur tingkat keberhasilan kepemimpinan seseorang terhadap sesamanya (di tingkat desa hingga negara, di institusi, di perguruan tinggi, dll), sekarang sudah lazim dikembangkan beragam instrumen pengukuran kepuasaan pelangan, kepuasaan layanan, kepuasan mitra, kepuasan stakeholders, kepuasan staf, kepuasan rakyat. Instrumen ini kemudian didistribusi untuk diisi. Meski tidak menjamin valid sepenuhnya, namun setidaknya ada gambaran evaluatif untuk perbaikan. Berapa persen yang menjawab sangat memuaskan, berapa persen yang menjawab memuaskan, berapa persen yang menjawab cukup memuaskan, berapa persen yang menjawab kurang memuaskan dan berapa yang menjawab sangat tidak memuaskan.Tentu, kemahasempurnaan hanya milik Allah, manusia hanya berikhtiar semampunya. Adapun yang penting semoga istikamah dalam ketaatan sampai pertolongan Allah benar-benar dekat dan nyata.
Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian