Alarm Kemerdekaan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 18 Muharam 1444

Alarm Kemerdekaan
Saudaraku, di antara indikator keberhasilan seseorang dalam proses mengaktualisasikan dirinya dalam kehidupan ini adalah merdeka atau memiliki kemandirian, yakni tidak bergantung pada orang lain apalagi terjajah. Inilah latar mengapa muhasabah hari ini diracik di bawah judul alarm kemedekaan (diri). 

Seperti alarm, tema muhasabah ini tentu sekaligus juga untuk mengingatkan agar hijrah memerdekakan diri. Persis seperti hijrahnya Nabi dan para sahabat dari keterpasungan dakwah lantaran hegemoni jahiliyah kaum kafir quraisy Makkah saat itu kepada kemerdekaan dan kemandirian Islam yang rahmatan lil'alamin. Dan benar kiranya dengan hijrah ke Madinah ternyata menjadi momentum terbukanya kemerdekaan dan kemandirian Islam sehingga bisa berkembang pesat merahmati semesta.

Ya, betapa pentingnya kemerdekaan! Betapa signifikannya kemandirian dalam Islam dan dalam berislam. Dalam konteks pribadi, seseorang yang telah mencapai aktualisasi diri tampil menjadi seorang yang merdeka, bebas dan percaya diri sehingga berani membuat putusan-putusan dengan cepat, bahkan yang tidak lazim sekalipun. Apalagi sifat kemandiriaannya sudah teguh, sehingga benar-benar terlepas dari pengaruh yang destruktif dan despistik atas dirinya. 

Pengaruh yang destruktif biasanya berasal dari setan atau dari hawa nafsunya sendiri. Ketika seseorang sudah dapat melepaskan diri dari pengaruh destruktif ini, maka niat, ide, dan perilakunya pun sudah merdeka terbebas dari kekangan hawa nafsu apalagi bujuk rayu setan.

Kemandirian dan kemerdekaan diri ini justru menguatkan kontrol pribadi sehingga tidak gagal paham dalam memaknainya. Adalah gagal paham dalam memaknai kemerdekaan, seperti statemen misalnya merdeka itu bebas berbuat seenaknya sendiri tanpa peduli lingkungan sekitarnya. Merdeka itu bebas tidur sepuas-puasnya bahkan hingga matahari meninggi. Merdeka itu bisa makan minum sepuasnya tak peduli berlebihan, termasuk tak menghiraukan yang haram. Merdeka itu bebas apload status apa saja, tak peduli termasuk ujaran kebencian yang menyakiti. Merdeka itu bisa berbuat sekehendaknya termasuk yang nabrak-nabrak aturan. Dan statemen sejenisnya. 

Sekali lagi, merdeka bukan seperti ini. Bila masih terbersit dalam diri, apalagi juga pada praktik sehari-harinya seperti ini, justru masih menjadi diri yang terjajah. Tentu, hijrah solusinya agar benar-benar merdeka dari segala anasir yang destruktif dan despotik Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama