Keberkahan Shalat

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 1 Rajab 1443

Keberkahan Shalat
Saudaraku, alhamdulillah kita sudah memasuki Rajab, bulan yang idealnya kita memaksimalkannya untuk Allah, baik interaksi maupun intensitas pengabdiannya. Mengapa? Karena di antaranya pada bulan ini menjadi awal mula shalat dijemput Nabi Muhammad saw melalui israk mikrajnya yang kemudian menjadi kewajiban hamba ke atas Rabbnya. Oleh karenanya sebagai wujud dari syukur, tema muhasabah bulan ini akan mengulangkaji tentang keberkahan shalat. Apalagi, shalat itu sendiri sejatinya merupakan bakti sekaligus bukti atas rasa syukur kita kepada Allah atas semua karuniaNya. Karena bakti dan bukti syukur inilah menjadi wasilah keberkahan yang bertambah-tambah.

Dalam adzan seruan untuk shalat saja kita sudah diajak meraih kemenangan, maka kita tidak ragu lagi tentang keberkahan yang disediakan Allah melalui shalat. Bila fisik melalui gerakannya yang sempurna dan indah dalam ragam posisi seperti berdiri, takbir, bersedekap, rukuk, sujud, duduk dengan posisi tertentu telah otomatis tersentuh secara reflektif syaraf-syaraf penting tubuh kita sehingga menjadi bugar, maka akal pikiran dan hati juga mengalami relaksasi melalui internalisasi bacaan yang dilafalkan. Alam pikiran diajak merenungi luasnya isi kandungan dari bacaan yang dilafalkan yang semuanya bermuara pada terciptanya kedamaian di hati. Kedamaian di hati ini, bahkan bisa dirasakan secara fisik yakni getar trenyuh atau gemetarnya sekujur tubuh. 

Keberkahan shalat berikutnya adalah semakin dekatnya pada Allah. Dalam kaifiyatnya sedari awal hingga akhir, aktivitas shalat, baik gerakan anggota badan, ucapan lisan maupun kesadaran hati semuanya dalam rangka ta’abud ilallah beribadah takdhim kepada Allah ta’ala, seraya mengagung-agungkanNya, memujiNya, memohon bermunajat kepadaNya. Maka sangat dimungkinkan shalat merupalan ibadah formal yang sangat kondusif melahirkan kedekatan kepada Allah. Dalam tradisi sufistik, shalat merupakan wujud konkret dari taraqqinya hamba atau proses mendaki seseorang menuju Ilahi Raby.
Bila kedekatan sudah dapat diraih dan dirasakan, maka dengan kemahamurahan dan kemahaadilanNya, Allah senantiasa mengijabahi segala hajat dan kepentingan hamba-hambaNya. Dari sini juga keberkahan shalat, di antaranya mewujud dalam kedekatannya dengan Allah atau muraqabatullah.

Dengan kedekatan diri pada Allah, maka hamba-hambaNya akan merasakan bahwa kepengawasan Allah yang sangat melekat. Dalam bahasa agama, hal ini disebut dengan ihsan. Saat shalat, kita benar-benar merasa sowan secara langsung kepada Allah, berinteraksi, mengadu, curhat, menumpahkan isi hati dan memohon kebaikan kepadaNya. Bila perasaan sowan dan bertemu kepada Allah belum dapat diraih, maka yakinlah bahwa Allah melihat, memperhatikan dan menyambut kehadiran kita kepadaNya. Di samping itu, shalat juga memungkinkan hamba-hambaNya merasakan kebersamaannya dengan Allah (ma’iyatullah) semakin nyata.

Shalat juga menjadi penanda eksis, yang bukan saja harus ada atau hadir dan memiliki kualitas, tetapi juga mendatangkan manfaat bagi kehidupan. Eksis itu harus ada/hadir, berkualitas dan menebar maslahah. Inilah sebaik-baik manusia, ketika kehadirannya memberi manfaat kepada sesamanya. “Khairunnas anfa’uhum linnas”. Begitu sabda Nabi. Nah, bagaimana “eksis” mendunia ini bermuara pada shalat.

Tentu, eksis di dunia global dan dalam kaifiyat lahiriyah shalat, posisi badan kita ada kalanya berdiri tegak tegap, rukuk, sujud dan duduk. Secara matematis, saat posisi tegak berdiri kita membentuk 180 derajat, saat posisi rukuk membentuk 90 derajat dan saat posisi sujud membentuk 45 derajat (karena setiap rekaat sujudnya dua kali maka 45 x 2 = 90 derajat). Dengan demikian dalam satu rekaat shalat terakumulasi 360 derajat. Dengan 360 derajat ini, berarti kita membentuk formasi sebuah lingkaran atau bola atau globe. Nah dari sinilah istilah globe, kemudian global dipahami sebagai mendunia, makanya globe sama dengan bola dunia.

Karena dalam satu rekaat shalat, kita membentuk formasi 360 derajat, maka minimal dalam sehari semalam kita meneguhkan 17 lingkaran/globe (baca global). Bila ada yang memperindah dengan shalat-shalat sunat, maka bisa 50 lingkaran (baca rekaat) bisa dilakukan. Lingkaran merupakan bentuk totalitas kesempurnaan dan tidak ada sisi yang kurang. Inilah yang saya katakan bahwa shalat merupakan totalitas pengabdian manusia ke atas Rabbnya, kesempurnaan penghambaan diri pada Allah. Saat sebagian dari totalitas diri tidak hadir sehingga tidak lengkap dalam shalat, maka tidak membentuk 360 derajat dengan sempurna namanya. Artinya kenikmatan shalat (baca kelezatan iman) menjadi kurang sempurna.

Sebagaimana diketahui bahwa lingkaran merupakan simbolisasi dari dunia seisinya, makanya kita mengenal bola dunia dengan istilah globe. Dengan demikian saat satu rekaat shalat dilakukan, kita diharapkan dapat mengglobal, berfikir global, memiliki wawasan luas, mendunia tanpa tercerabut dari akar budaya dan kearifan lokal; jauh dari sikap sektarian apapun tendensinya. Sekali lagi, minimal 17 kali dalam sehari semalam kita dituntun dan dituntut untuk mendunia. Ya kita harus harus bisa hidup dan eksis di dunia global yang sarat dengan peradabannya tanpa harus kehilangan identitas lokal yang terjaga.

Betikutnya, nilai shalat membawa rahmatan lil ‘alamin; membawa kemaslahatan semesta alam. Tentu, karena setelah berhasil melangit, lalu harus dibutktikan dengan membumi, menebar kemaslahatan di muka bumi. Ketika melangit, kita memohon keselamatan dan kesejahteraan hanya pada Allah Rabbuna, lalu kita memberikan keselamatan dan kesehahteraan kepada sesamanya di muka bumi

Dan muara keberkahan shalat adalah surga. Dalam sebuah riwayat dari ‘Ubadah bin al-Shâmit ra , ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh saw bersabda: Lima shalat yang Allâh wajibkan atas hamba-Nya, barangsiapa mengerjakannya dan tidak menyia-nyiakannya sedikit pun karena menganggap enteng, maka ia memiliki perjanjian dengan Allâh untuk memasukkan dia ke surga. Dan barangsiapa tidak mengerjakannya, maka dia tidak memiliki perjanjian dengan Allâh. Jika Allâh berkehendak, maka Dia mengadzabnya dan jika Dia berkehendak Dia mengampuninya. (Hr. Imam Malik, al-Muwaththa’, kitab: Shalâtil Lail, bab: al-Amru bil Witr I/120, No. 14); Ahmad V/315-316, 319, 322; Abu Dawud No. 425, 1420; Al-Nasai (I/230); Ibnu Majah No.1401)
Nabi saw bersabda barangsiapa menjaga shalat lima waktu: ruku’nya, sujudnya (dengan thuma’ninah), pada waktu-waktunya, kemudian ia mengetahui bahwa perintah ini benar-benar datangnya dari Allâh, maka ia akan masuk surga,” atau Beliau bersabda, “Wajib atasnya surga,” atau Beliau bersabda, “Ia diharamkan masuk neraka.”(Hr. Ahmad No. 267)

Oleh karenanya sebagai langkah konkret, kini mari kita segera bangun untuk menjemput karunia Allah ta'ala, guna menyucikan hati kita, mengasah akal budi kita, menyehatkan fisik kita. Pastikan segera bersuci, mengambil air sembahyang; mengenakan pakaian indah yang kita miliki untuk "sowan" menghadap pada Allah melalui shalat malam, dzikir, tilawah Qur'an,  bermunajat kepada Allah memohon ampunan dan berharap agar Allah memberi hidayah kepada kita sehingga fisik kita sehat wal afiat, rezeki melimpah, ilmu dan hikmah neluas, dan hati senantiasa bersyukur. Aamiin ya Rabb

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama