Keberkahan Bersyukur

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 29 Jumadil Akhir 1443

Keberkahan Bersyukur
Saudaraku, mencermati artikel muhasabah sebulan Jumadil Akhir ini, kita dapat mengambil natijah bahwa seluruh amaliyah yang dilakukan - sebagai maqamat - untuk menjemput karunia Allah, dan segala suasana sebagai ahwal - yang dialami atau dinikmati oleh orang-orang beriman benar-benar menyediakan ragam hikmah dan keberkahan yang tak terhingga. Apalagi semua ini mampu diapresiasi secara positif. Di antara sikap apresiatif yang relatif representatif dalam mengabdikan diri pada Ilahi adalah bersyukur. Inilah yang melatari tema muhasabah di ujung bulan hari ini sehingga diracik di bawah judul keberkahan bersyukur.

Bersyukur intinya berterima kasih kepada Allah atas segala karunia yang telah dianugrahkan kepada kita. Dan ternyata pemberian Allah atas kita benar-benar tak terhingga unlimited, baik ragam kuantitasnya maupun keluasan kualitasnya.

Coba kita renungkan betapa banyak dan unlimitednya keberkahan hidup yang dianugrahkan Allah atas kita sebagaimana telah diingatkan dalam muhasabah ke-1, apalagi keberkahan iman (muhasabah ke-2), keberkahan ilmu (muhasabah ke-3), keberkahan amal (muhasabah ke-4), keberkahan rezeki (muhasabah ke-5), keberkahan harta (muhasabah ke-6), keberkahan tahta (muhasabah ke-7), keberkahan keluarga (muhasabah ke-8), keberkahan saudara  (muhasabah ke-9), keberkahan anak (muhasabah ke-10), keberkahan berguru (muhasabah ke-11), keberkahan bertetangga (muhasabah ke-12).

Dari ranah kebutuhan hidup yang amat mendasar, Allah telah menganugrahi kita ketersediaan pangan yang amat melimpah (muhasabah ke-13), tercukupinya sandang sehingga indah (muhasabah ke-14), dan kenyamanan papan tempat kediaman (muhasabah ke-15). Maka pantas bila dalam beragam kesempatan Allah bertanya "nikmat mana lagi yang bisa kamu dustakan?"

Dengan ketercukupan pangan sandang papan, maka kita dapat menyelengarakan pendidikan yang baik sehingga keberkahannya nyata (muhasabah ke-16), menyampaikan dan menerima berita antar sesama (muhasabah ke-17), bertutur kata yang punya makna (muhasabah ke-18), saling menyampaikan sapaan ramah (muhassbah ke-19), bersedekah meski hanya melalui senyuman (muhasabah ke-20) saat bertemu antar sesama (muhasabah ke-21), bisa bersendau gurau ala kadarnya  (muhasabah ke-22), dan bisa melakukan perserikatan yang saling menguntungkan (muhasabah ke-23).

Keberkahan lainnya yang sangat penting adalah kemampuan untuk saling mengingatkan terhadap kesabaran dan takwa, kita bisa saling berdakwah kepada kebaikan (muhasabah ke-24), dan mengeratkan tali silitaurahim antar saudara dan sesama (muhasabah ke-25). Di samping tentu bekerja sesuai tugas, peran, nasab dan nasib kita masing-masing (muhasabah ke-26) dan beristirahat secara proporsional (muhasabah ke-27) terutama dengan tidur (muhasabah ke-28)

Tentu semua itu layak kita syukuri (muhasabah ke-29) baik dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata,  apalagi keberkahan bersyukur itu sejatinya juga kembali kepada diri sendiri. Allah berfirman yang artinya Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Qs. Ibrahim 7)

Dengan demikian keberkahan bersyukur justru menjadi sarana menjemput karunia Allah yang lebih banyak lagi dan lebih membahagiakan lagi. Inilah keberkahan yang disediakan Allah atas kita hamba-hambaNya ketika mensyukuri karuniaNya.

Kapan bersyukur? Ya selama hidup di dunia ini. Karena menurut iman Islam, tahapan kehidupan yang dilalui manusia itu ada empat, yaitu alam dzuriat, alam kandungan, alam dunia dan alam akhirat. Setiap diri mengalami hidup hanya sekali saja pada setiap alam dan tidak akan pernah berulang lagi. Bagi yang sudah hidup di alam akhirat tidak akan pernah bisa kembali ke alam dunia ini. Demikian juga bagi yang sudah dilahirkan dan hidup di dunia ini tidak akan pernah bisa kembali mengulang hidup di alam kandungan ibunya lagi. Dari sinilah kemudian sering kita dengar bahwa hidup ini hanya sekali; sekali di masing-masing alam.

Jadi kapan kita bersyukur? Ya sekarang ini; saat masih di alam dunia ini. Di dua alam sebelumnya, biarlah dalam kemahakuasaan Allah yang maha mengatur. Sedangkan di alam akhirat merupakan alam, tempat dan keadaan menuai nilai dan derajat rasa syukur kita saat hidup di dunia ini. Seberapa rasa syukur yang kita kukuhkan saat hidup di dunia ini, akan sangat menentukan derajad hidupnya, baik di dunia ini maupin apalagi di akhirat nanti.

Ketika kita bersyukur, maka janji Allah akan menambahi ragam karuniaNya atas kita. Bila tambahan karunia ini kasat mata, seperti tambahnya penghasilan, tambahnya harta benda, menaiknya tahta, atau yang kasat mata lainnya, maka bisa saja bertambah nikmat iman, nikmat ilmu, nikmat berkeluarga, nikmat bersaudara, nikmat bertetangga, tambah tentram, semakin khusyuk saat shalat, semakin ikhlas mengabdi, semakin ikhlas melayani dan tambahan nikmat phikis lainnya yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata di sini.

Nah pemahaman mafhum mukhalafahnya, jangan-jangan hidup kuta tidak bahagia, hati tidak tentram justru disebabkan oleh kurangnya rasa syukur kita. Harta benda atau penghasilan tidak bertambah-tambah, jangan-jangan karena sedikitnya rasa syukur kita. 

Nah, begitulah pentingnya bersyukur. Bersyukur yang mewujud pada sikap dan kemampuan mengapresiasi ragam karunia yang diberikan Allah atas diri seorang hamba tentu melibatkan totalitas kepribadiannya. Oleh karenanya hati, ucapan, pikiran dan tindakannya istiqamah, membuktikan alhamdulillah.

Sebagai langkah konkret dalam bersyukur ini, kini mari kita segera bangun untuk menjemput karunia Allah ta'ala, guna menyucikan hati kita, mengasah akal budi kita, menyehatkan fisik kita. Pastikan segera bersuci, mengambil air sembahyang; mengenakan pakaian indah yang kita miliki untuk "sowan" menghadap pada Allah melalui shalat malam, dzikir, tilawah Qur'an,  bermunajat kepada Allah memohon ampunan dan berharap agar Allah memberi hidayah kepada kita sehingga fisik kita sehat wal afiat, rezeki melimpah, ilmu dan hikmah neluas, dan hati senantiasa bersyukur. Aamiin ya Rabb

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama