Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Uro Raya Jumat 17 Rajab 1443
Keberkahan Shalat Witir
Saudaraku, bila satu-satunya shalat fardhu dalam ISLAM (Isya Subuh Lohor Ashar dan Magrib) yang ditunaikan dalam bilangan rakaatnya ganjil adalah shalat magrib, maka satu-satunya shalat sunah yang ditunaikan dalam bilangan rakaatnya ganjil adalah shalat witir. Selainnya ditunaikan dalam bilangan yang rakaatnya genap.
Dalam berbagai-bagai perspektif, rasanya memang tidak lengkap bila bilangan itu yang ada hanya genap saja atau hanya ganjil saja. Termasuk bilangan shalat, sehingga di antara ibrahnya kewajiban awal shalat fardhu yang 50 rakaat/kali sehari semalam saat Isra mikraj sangat memungkinkan terpenuhi atau ditunaikan dalam keseharian orang beriman.
Kita coba kalkukasi, standar minimalnya 17 rakaat jumlah bilangan keseluruhan shalat fardhu (isya 4 rakaat, subuh 2 rakaat, lohor 4 rakaat, ashar 4 rakaat, dan magrib 3 rakaat) harus ditunaikan dan selebihnya yang 33 rakaat sebaiknya disempurnakan keindahannya dalam penunaian shalat-shalat sunah. Secara fleksibel 33 rakaat ini bisa diakumulasi dari
10 rakaat shalat rawatib, 11 rakaat shalat tahajud di dalamnya sudah ada witir, 2 rakaat shalat tahiyatul masjid, 2 rakaat shalat syukrul wudhu, 2 rakaat shalat taubah, 2 rakaat shalat hajat (bisa sampai 12 rakaat) 2 rakaat shalat istiharah, 2 rakaat shalat fajar, 2 rakaat isyraq (syuruq) dan 2 rakaat shalat dhuha (boleh sampai 12 rakaat). Wal hasil, dalam sehari semalam kita dapat menunaikan shalat yang secara akumukatif setidaknya 50 rakaat atau bahkan lebih. Masya Allah, luar biasa bukan? Dan kedahsyatannya, masing-masing shalat yang kita tunaikan menyediakan keberkahan secara spesifik, di samping keberkahan generalnya. Nah muhasabah hari ini kita mengulangingati diri tentang keberkahan shalat witir.
Shalat witir adalah sunah yang penunaiannya dianjurkan usai mengerjakan shalat-shalat sunah lainnya pada malam hari. Jadi, shalat witir menjadi penutup dari ibadah qiyamul lail, seperti shalat tahajud, shalat hajat dan lainnya, serta shalat tarawih pada malam bulan Ramadhan.
Berbeda dengan shalat sunah lainnya, Rasulullah saw mengajarkan shalat witir dilakukan dengan jumlah rakaat yang ganjil, yakni boleh satu rakaat saja, tiga rakaat, lima rakaat, hingga maksimal 11 rakaat. Dan waktu pengerjaan shalat witir adalah setelah mengerjakan shalat sunnah lainnya, dan boleh pada permulaan malam (sehabis isya), pertengahan malam, atau menjelang waktu subuh.
Hal ini sesuai dengan hadis, bahwa Aisyah ra pernah mengatakan: "Dari setiap malam, Nabi Muhammad saw pernah mengerjakan shalat witir pada permulaan malam, tengah malam, di akhir malam, dan berakhir pada waktu fajar subuh," (Hadits shahih, riwayat Bukhari No. 941 dan Muslim No 1230).
Dengan demikian batas penunaian shalat witir adalah jelang fajar siddiq. Dan setelah fajar siddiq sudah saatnya subuh dan kita disunahkan shalat rawatib qabliyah subuh.
Nah, di antara keberkahan yang amat dahsyat shalat witir sebagai bukti dan baktinya seorang hamba ke atas Rabbnya sehingga pantas menyandang gelar muttaqin. Karena shalat witir sebagai gong penutup rangkaian dari qiyamul lail, shalat-shalat malam. Apalagi shalat witir dilakukan di akhir malam atau saat-saat sahur, shalat witir yang dirangkai dengan doa dan istighfar.
Allah berfirman yang artinya Katakanlah, “Maukah aku kabarkan hal apa yang lebih baik dari itu?” Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya (Yaitu) orang-orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.(Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar.(Qs. Ali Imran 15-17). Maha benar Allah dengan segala firmanNya.
Oleh karenanya mari kita memperindah shalat witir kita, sebagai pamungkas dari rangkaian shalat malam yang saban dini hari kita istiqamahi. Aamiin ya Rabb.
Tags:
Muhasabah Harian