Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Yaumul Bidh ke-1, Senin 13 Rajab 1443
Keberkahan Shalat Taubat
Saudaraku, Islam sebagai agama yang ajarannya komprehensif menyediakan tuntunan yang amat lengkap, termasuk bagaimana bersikap ketika terlanjur melakukan kesalahan atau bermaksiat. Mengapa ini penting? Iya, karena manusia itu disebut insan karena tempatnya salah dan lupa, maka tak ada seorangpun yang tidak pernah lupa, salah dan berlaku dosa.
Lupa diri, salah sikap dan laku dosa pada umumnya dilatari oleh dua faktor, internal dan eksternal. Faktor internal di antaranya karena manusia merasa sombong dan lupa kepada Allah; hal ini bahkan dapat membuat ia lupa diri dan hilang kontrol terhadap kemuliaan dirinya. Di samping itu juga dapat karena kejahilannya sehingga ketidaktahuan ini menyebabkannya menyepelekan tindakan maksiat. Termasuk di sini adalah karena tidak menyayangi diri sendiri juga menjadi penyebab terjadinya kesalahan dan dosa. Berlaku tidak mengikuti kata hati nurani yang dipandu oleh Rabbbya tetapi menuhankan dan mengikuti hawa nafsunya.
Adapun faktor eksternal yang menyebabkan orang melakukan kesalahan dan berbuat dosa di antaranya dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak kondusif, sosio kultural yang rusak, semrawut, permisif dan ateis. Di samping itu juga karena adanya bujuk rayu setan kepada kejahatan. Manusia yang mengikuti bisikan setan dan tidak mengindahkan bisikan malaikat, pasti melakukan apa saja yang menyenangkan sipembisik, menuju kepada kehancuran dan kerugian dirinya.
Nah, apabila sudah terlanjur berbuat salah atau bahkan sudah berkubang dalam dosa, maka taubat harus segera dilakukan. Dengan cinta kasihNya Allah selalu menunggu, dan terus menunggu pertaubatan hamba-hambaNya. Jadi bertaubat adalah langkah tepat dan bijak bagi yang orang cerdas setelah terlanjur salah dan berbuat dosa.
Ya taubat nasuha, tentunya. Allah menyeru, wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrim 8). Dan, Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu dan bersegeralah menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS: Ali Imran 133)
Dari Anas bin Mâlik ra ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh saw bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam !Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” [HR. at-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadits ini hasan shahih].
Adapun langkah konkret pertaubatan dalam Islam adalah. Pertama, istighfar memohon ampunan pada Allah. Kedua, al-nadm menyesal telah berbuat dosa. Ketiga, berazam atau bertekad kuat tidak mengulangi perbuatan yang dapat menimbulkan dosa di masa kini dan masa datang. Keempat, mengganti perilaku salah dan dosa yang pernah dilakukan dengan perilaku yang baik atau beramal shalih. Kelima, bila perbuatan salah dan dosa yang pernah dilakukan itu berhubungan dengan sesamanya (misal mendalimi, mengambil haknya, korupsi, sogok menyogok, memfitnah, mengadu domba, ghibah atas dirinya), maka langkah konkret berikutnya sebagai akhlak mulia adalah menemui, meminta maaf, meminta kehalalan dan menyelesaikan segala urusan dengannya serta mengembalikan haknya. Keenam, tidak membebani diri dengan perasaan bersalah secara terus menerus. Ketika sudah benar-benar bertaubat, maka pada saat itu Allah sudah menutupi dan mengampuni semua dosa yang ada. Oleh karenanya membebani diri dengan dosa masa lalu hanya memubazirkan kesempatan untuk beramal shalih di masa kini dan masa datangnya.
Untuk mengukuhkan pertaubatan nasuha tersebut, oleh Islam kita juga dituntun mengerjakan shalat sunnah taubat. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua rakaat kemudian memohon ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat ini: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak melakukan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah).
Ya, shalat taubat pada dasarnya kaifiyatnya tata caranya sama seperti shalat sunnah lainnya, bisa dilakukan sebanyak dua rakaat dengan sekali salam, atau empat rakaat atau enam rakaat. Karena terkait dengan pertaubatan atas dosa masing-masing orang maka shalat taubat lebih baik dilakukan sendiri tidak berjamaah. Sebaiknya didahului dengan bersuci melakukan mandi besar terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat taubat agar bersih suci lahir batin. Karena bagian dari shalat mutlak, maka shalat taubat bisa dilakukan kapan saja kecuali pada waktu-waktu terlarang shalat secara umum. Tetapi di sepertiga malam akhir dapat mengondisikan keberkahannya.
Setelah shalat dianjurkan berdzikir, termasuk memohon ampunan pada Allah. Misalnya dengan membaca istighfar, astaghfirullahal 'adhim Ladzii Laa Ilahaaha Illaa Huwal Hayyul Qayyumu Wa Atuubu Ilahihi
Ya Allah, duh Gusti, kumemohon belas kasih dan pengampunanMu ya Rabb. Ya Allah kepadaMu kami memohon, tidak ada sesembahan yang maha mengampuni selainMu ya Rabb ya Tawwab.
Allahumma Anta Rabby, la ilaha illa Anta khalaqtani, wa ana 'abduka, wa ana ala ahdika wawa'dika mastatha'tu, audzubka min syarrima shana'tu, abu'u laka bini'matika alayya wa abu'u laka bi dzanbi, faghfirli , fa innahu la yaghfirudzunuba illa Anta
Ya Allah, ya Rabb, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada sesuatupun yang berhak disembah kecuali Engkau Yang menciptakanku, sedang aku adalah hambamu dan aku di atas janji-Mu dan akan menjalankannya dengan semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku.Sesungguhnya tiada yang mengampuni segala dosa kecuali Engkau ya Tawwab.
Di antara keberkahan yang dapat segera dirasakan dengan taubat nasuha dan shalat taubat, adalah suasana hati yang lega nan lapang. Karena dosa yang sebelumnya serasa menghimpit dan membebani menjadi diampuni dihapuskan sehingga tidak berbekas lagi di hati.
Dengan taubat nasuha dan shalat taubat yang telah dikerjakan akan menjadi di antara pembuka jalan kebenaran, jalan lurus jalan yang sebelumnya berliku tidak berujung akan berubah menjadi lempang, akan berubah menjadi nyaman dan akan berubah menjadi lancar.
Dengan taubat nasuha dan shalat taubat membuat hati-hari menjadi cerah mencerahkan. Bisa jadi hari-hari sebelumnya serasa lesu, lelah, lunglai, lemas dan malas untuk beramal, akan berubah menjadi bersemangat dalam beribadah. Dan ketika ragam keberkahan ini dirasakan maka cukuplah menjadi pertanda bahwa pertaubatan kita makbul atas perkenan Allah ta'ala. Aamiin ya Rabb.
Tags:
Muhasabah Harian