Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Hari Putih Ke-2, 14 Rajab 1443
Keberkahan Shalat Tahajud
Saudaraku, sebagai muslim(ah) yang baik akan terus berusaha memperbaiki dan menyempurnakan keberislamannya sehingga totalitas penyerahan diri dan pengabdian pada Ilahi dapat dikukuhkan. Sembari menunaikan yang ibadah fardhu sebagai standar mininal penghambaan diri pada Ilahi, maka ibadah sunnah sebagai standar lebihan sehingga sesempurna keindahan dan keberkahannya juga ditunaikan.
Kewajiban shalat, misalnya, sejatinya ketika kita telah berhasil mengistiqamahi menunaikan shalat fardhu ISLAM (Isya Subuh, Lohor, Ashar dan Magrib) berarti sudah memadahi untuk standar miminal pengabdian hamba ke atas Ilahi Rabby. Nah, untuk menyempurnakan keindahan penghambaan kepada Allah ta'ala kita dituntun mengerjakan shalat sunnah, sebagai standar lebihan sehingga memperoleh predikat maqama mahmuda, atau peringkat unggul sebagai hambaNya. Inilah yang melatari tema muhasabah hari ini sehingga diracik di bawah judul keberkahan shalat tahajud.
Gelar muttaqin dengan predikat maqama mahmuda dengan tegas dinyatakan oleh Allah dalam al-Qur'an. Firman Allah, yang artinya, "Dan dari sebagian malam shalat tahajudlah kamu (Muhammad ï·º) dengan membaca Al-Qur’an (di dalamnya) sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu menempatkanmu pada maqama mahmuda, tempat yang terpuji" (QS al-Isra 79).
Tahajud secara bahasa berarti berupaya melawan atau meninggalkan tidur; sementara secara istilah fiqih adalah shalat sunnah malam hari yang dilakukan setelah tidur. Bila dilakukan sebelum tidur namanya shalat lail atau shalat malam, bila dilakukan dalam bulan Ramadhan disebut qiyamu Ramadhan atau terawih. Hukum shalat tahajud adalah sunnah muakkad, sangat diprioritaskan untuk dikerjakan. Nabi sendiri selalu mengerjakannya.
Pada suatu hari, Aisyah ra ditemui 'Amr bin 'Ubaid dan 'Atha. Keduanya berkata kepada Aisyah, "Beritahukanlah kepada kami sesuatu yang paling mengesankan yang pernah engkau lihat pada Nabi Muhammad saw?"
Aisyah berkata, "Adakah sesuatu yang tidak mengesankan pada diri beliau? Baiklah, ada satu hal yang paling mengesankanku. Pada suatu malam, beliau mendekat kepadaku hingga kulit beliau bersentuhan dengan kulitku. Lalu beliau berdiri dan berkata, "Hai, Aisyah biarkanlah aku beribadah kepada Tuhanku." Aku berkata, "Ya Rasulullah, demi Allah aku ingin dekat denganmu, tetapi aku tidak bisa mencegah keinginanmu."
"Beliau berdiri lalu shalat dan menangis hingga air matanya membasahi janggutnya. Kemudian beliau rukuk dan menangis hingga air matanya membasahi pangkuannya. Lalu, beliau bersujud dan menangis hingga air matanya membasahi tempat sujudnya. Setelah selesai aku berkata, ''Wahai Nabi, bukankah Allah telah mengampuni semua dosamu?'' Beliau menjawab, ''wahai Aisyah, apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?'' (HR bukhari, Muslim, at-Tirmizi, al-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).
Inilah di antara bukti dan bakti cinta hamba ke atas Rabbnya, dengan senantiasa mendekat dan bersama kekasihNya. Di setiap keheningan malam, ketika Allah sudah menunggu kehadiran kita. Setelah memanjadkan rasa syukur, hamba-hambaNya menunaikan shalat tahajud dilakukan dengan empat sekali salam, lalu empat sekali salam, lalu ditutup witir tiga sekali salam. Jadi 4, 4, 3 jumlah 11 rakaat. (Atau shalat tahajud dengan 2, 2, 2, 2 dan 3, jumlahnya 11 rakaat). Dalam rangkaiannya, ada yang menunaikan 13 rakaat dengan mengerjakan shalat dua rakaat sebelumnya sebagai pembuka iftitah atau shalat syukrul wudhu.
Nabi Muhammad saw dengan kerasulannya sejatinya sudah sangat mulia dan dimuliakan baik di dunia maupun apalagi di akhirat. Tetapi dengan kemuliaan dan kemaksumannya, justru membuktikan rasa syukurnya, di antaranya istiqamah dalam ibadah; mendawamkan diri mengabdi pada Ilahi; shalat tahajud saban dini hari, istighfar memohon ampunan tak berbilang lagi.
Idealnya, kita, saya tuan puan atau sesiapapun yang merasa tidak ada apa-apanya ini yang harus memanfaatkan peluang untuk mengambil keberkahan yang disediakan Allah.
Allah menyeru, yang artinya Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk salat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan pada waktu itu) lebih berkesan.” (Q.S 73:1-6).
Awalnya bisa jadi berat atau "terpaksa" tetapi ketika diistiqamahi akan berubah menjadi ringan karena sudah menjadi kebutuhan, bahkan menjadi kelezatan. Apalagi dapat merengkuh keberkahan maqama mahmuda. Ketika maqama mahmuda dapat direngkuh, maka ia menjadi energi positif yang senantiasa memengaruhi pada peningkatan iman, ilmu dan amal shalih. Muara keberkahannya adalah rasa bahagia (baca surga) balasannya.
Oleh karena itu, mumpung ini masih dalam suasana hening sepi di dini hari ini sembari menanti subuh nan berkah, mari kita segera bangun untuk menjemput karunia Allah ta'ala, guna menyucikan hati kita, mengasah akal budi kita, menyehatkan fisik kita. Pastikan segera bersuci, mengambil air sembahyang; mengenakan pakaian indah yang kita miliki untuk "sowan" menghadap pada Allah melalui shalat malam, shalat syukrul wudhu dua rakaat, shalat tahajud 4, 4, 3 (atau 2, 2, 2, 2, dan 3), dzikir, tilawah al-Qur'an, bermunajat kepada Allah memohon ampunan dan berharap agar Allah memberi hidayah kepada kita sehingga fisik kita sehat wal afiat, rezeki melimpah, ilmu dan hikmah meluas, dan hati senantiasa bersyukur. Aamiin ya Rabb
Tags:
Muhasabah Harian