Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Punca Hari Putih, 15 Rajab 1443
Keberkahan Shalat Hajat
Saudaraku, semua kita pasti punya kebutuhan, baik yang bersifat daruriyah, hajjiyah maupun tahsiniyah. Ketiganya mengakomodir kebutuhan primer, sekunder dan tersier demi menjaga kemaslahatan jiwa, agama, akal, kehormatan, keturunan dan harta.
Dalam rangka pemenuhan kebutuhan, setiap orang beriman lazimnya berdoa dan berikhtiar. Di antara doa yang sistematis dan relatif formal syar'i terangkum dalam kaifiyat shalat. Bahkan shalat itu sendiri sejatinya doa hamba ke atas Rabbnya.
Di samping shalat fardhu, Islam juga menuntun kita memperindahnya dengan mengerjakan shalat sunnah. Dalam konteks membantu pemenuhan kebutuhan, Islam menuntun agar kita mengerjakan shalat hajat. Ya shalat hajat sebagai sunnah yang dilaksanakan saat sedang memiliki hajat atau kebutuhan tertentu, dan berharap kepada Allah berkenan mengabulkan hajatnya.
Shalat hajat dikerjakan kapan saja kecuali waktu-waktu terlarang yang lazim, ditunaikan dalam dua rakaat sekali salam hingga 12 rakaat, masing-masing dua rakaat sekali salam. Namun, tentu, di sepertiga terakhir malam tetap lebih disukai. Abu Darda’ meriwayatkan, bahwa Nabi Muhammad sw bersabda: “Barang siapa berwudhu dengan wudhu yang sempurna lalu shalat dua raka’at yang ia lakukan dengan sempurna (lalu dia minta sesuatu kepada Allah), maka Allah akan mengabulkannya baik dengan segera atau tertangguhkan”. (HR. Ahmad, dengan sanad shahih).
Bila kita mereguk keberkahannya, maka secara internal shalat hajat menjadi energi positif yang menyemangati diri dan memengaruhi mudahnya segala jalan bagi terpenuhinya kebutuhan yang dihajatkan. Tentu, semua ini, Allah lah yang maha mengatur, maha memudahkan dan maha mengabulkan dengan sunatulllahNya yang amat adil dan bijaksana. Adapun secara adi kodrati, shalat hajat menjadi di antara pembuka keberkahan yang disediakan Allah bagi hamba-hambaNya sebagaimana tersurat dalam hadis.
Tetapi mesti disadari bahwa kebutuhan tentu tidak sama dengan keinginan, meskipun shalat hajat bisa dikerjakan lantaran memiliki keinginan tertentu yang secara manusiawi mustahil sekalipun. Misalnya dalam sebuah riwayat Dari Utsman bin Hunaif ra berkata bahwa seorang laki-laki buta datang kepada Rasulullah saw dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mendapat musibah pada mata saya, maka berdoalah kepada Allah agar menyembuhkan penglihatan mataku."
Beliau saw pun bersabda kepadanya:
"Pergilah lalu berwudulah, kemudian shalatlah dua rakaat, lalu ucapkanlah (doa): 'Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan Nabiku Muhammad, Nabi (pembawa) rahmat.' Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap kepada Tuhanku denganmu agar Dia menyembuhkan penglihatanku. Ya Allah, terimalah syafaatnya kepadaku dan terimalah syafaatku pada diriku. Lalu ia pun pulang dan Allah menyembuhkan penglihatannya." (HR Tirmidzi; hasan)
Ya, sebagaimana doa yang dipanjatkan kepada Allah, tentu ada hajat yang langsung dikabulkan, dan ada yang ditangguhkan waktunya, tetapi juga ada yang permohonannya dikabulkan dengan yang serupa atau selainnya sebagai gantinya sehingga lebih maslahah karenanya.
Allahu a'lam
Tags:
Muhasabah Harian