Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 11 Rajab 1443
Keberkahan Shalat Sunnah Wudhu
Saudaraku, betapa indahnya tuntunan Islam! Saban hari saban saat kita dianjurkan senantiasa menjaga diri agar sehat wal afiat, heiginis, bersih, suci lahir maupun batin. Bila bersih batin dan kesucian hati kita dituntun untuk terus melakukan tazkiyatun nafs dengan berakhlak mulia, maka kesucian diri dari hadats kita dituntun untuk melakukan thaharah dengan mandi atau berwudhu.
Alangkah indahnya, bila kita umat Islam senantiasa dalam kondisi suci dan memiliki air wudhu. Mengapa? Iya, karena secara praktis, kesucian diri ini menjadi energi positif yang turut andil dalam memelihara diri dari perbuatan keji, tak senonoh apalagi yang munkar. Betapa damai nyamannya hati setiap orang seandainya dalam 24 jam dalam sehari semalam kita memiliki air wudhu!
Anggap saja air wudhu itu sebagai self control, sehingga kita senantiasa dalam naungan ridha Allah ta'ala. Saya yakin, secara substantif keadaan suci dan memiliki air wudhu, seseorang akan dijauhkan dari sifat dan sikap yang tidak senonoh dan laku maksiat. Inilah self control yang murah mudah, dan praktis. Bila secara subtantif sebagai self control, maka secara lahiriyah dengan air wudhu menandakan bahwa kita peduli terhadap kesehatan, kebersihan, dan kenyamanan saat berinteraksi. Saya yakin, secara lahiriyah dengan keadaan suci dan memiliki air wudhu, seseorang akan dijauhkan dari najis sehingga tidak bau badan (BB), tidsk bau mulut (BM), dan tidak degil.
Saking hebatnya memiliki air wudhu bagi terpeliharanya diri, maka Islam menuntun umatnya agar mensyukurinya. Di antara konkritisasi rasa syukur dengan mengerjakan shalat sunnah wudhu yang lazim dikenal dengan shalat syukrul wudhu. Ya, shalat sunnah dua rakaat yang ditunaikan setelah mengambil air wudhu baik di siang hari maupun di malam hari kecuali pada waktu terlarang shalat misalnya pas sang surya terbit, sang surya pas di atas kepala, sang surya terbenam, setelah shalat ashar dan sesudah subuh. Karena sebagai luapan rasa syukur, maka Allah justru menambah keberkahan lainnya. (Baca Qs Ibrahim 7)
Dalam praktiknya, sering sekali shalat sunnah wudhu dapat tercukupi dengan shalat yang lain, manakala ia dikerjakan sesudah berwudlu’. Seseorang berwudhu setelah adzan dhuhur, misslnya, kemudian ia mengerjakan shalat sunat qabliyah dhuhur 2 atau 4 rakaat, maka telah terhitung telah pula melaksanakan shalat sunnah wudhu. Atau saat dalam kondisi lapang, seorang hamba ke masjid pukul 09.00 berniat shalat dhuha, setelah berwudhu lalu shalat tahiyatul masjid, tapi batal setelahnya. Nah bukankah mengambil wudhu lagi, maka sebaiknya shalat sunnah wudhu dulu sebelum shalat dhuha 2 sampai 12 rakaat.
Nah, di antara keberkahan shalat sunnah wudhu dinyatakan dalam sebuah riwayat bahwa Humran mantan budak ‘Utsman mengabarkan kepadanya, bahwa ia telah melihat ‘Utsman bin ‘Affan minta untuk diambilkan bejana (berisi air). Lalu dia menuangkan pada telapak tangannya tiga kali lalu membasuh keduanya, lalu ia memasukkan tangan kanannya ke dalam bejana lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung, kemudian membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh kedua tangan hingga siku tiga kali, kemudian mengusap kepala, kemudian membasuh kedua kakinya tiga kali hingga kedua mata kaki. Setelah itu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini lalu mendirikan shalat dua rakaat, yang pada shalatnya dia tidak berbicara pada dirinya sendiri (yakni mendirikannya dengan khusyuk) niscaya Allah SWT akan memberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang lalu.” (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)
Bila dengan mengambil air wudhu, kita memohon dosa tangan, dosa lisan, dosa mata, dosa hidung, dosa wajah, dosa kepala, dosa telinga, dosa kaki dan dosa sekujur tubuh kita dibersihkan diampuni oleh Allah, maka terjawab sudah maksud dan niatan kita di antaranya dikukuhkan dengan shalat sunnah wudhu.
Ketakberdosaan mengantarkan ke surga. Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Nabi SAW berkata, kepada Bilal radliallahu ‘anhu ketika shalat Fajar (Shubuh): “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang paling utama yang sudah kamu amalkan dalam Islam, sebab aku mendengar di hadapanku suara sandalmu dalam surga”. Bilal berkata; “Tidak ada amal yang utama yang aku sudah amalkan kecuali bahwa jika aku bersuci (berwudhu) pada suatu kesempatan malam ataupun siang melainkan aku selalu shalat dengan wudhu tersebut, berupa shalat yang telah dtetapkan kepadaku” (HR Muttafaq Alaih)
Sekarang karena kita tuan puan sudah membaca dan mengetahui tentang shalat sunnah wudhu, mari setidaknya sebagai konsekuensi ilmu yang telah Allah anugrahkan ini, kita mengerjakan shalat sunnah wudhu. Ya setidaknya sudah ada pengamalan dan pengalaman mereguk keberkahannya. Aamiin ya Rabb
Tags:
Muhasabah Harian