Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 3 Rajab 1443
Keberkahan Shalat Subuh
Saudaraku, sungguh berbahagia menjadi orang Islam, beriman dan pandai memanfaatkan kesempatan untuk Rabbnya. Coba! dirasa-rasa, tidurnya saja menuai berkah, apalagi jaganya dan aktivitas yang dikerjakan dalam kesehariannya. Nah oleh karena itu, setelah mendulang pahala melalui serangkaian ibadah dini hari hingga fajar, maka muhasabah hari ini izinkan Loentuan mengulangingati diri tentang keberkahan shalat subuh.
Ya benar, shalat subuh yakni shalat dua rekaat yang harus ditunaikan oleh setiap orang Islam saban hari sebagaimana halnya shalat dhuhur, asar, magrib dan isya. Adapun waktu prlaksanaan subuh seperti dijelaskan dalam riwayat dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda, Dan waktu shalat shubuh dari terbitnya fajar (shidiq) sampai sebelum terbitnya matahari (HR.Muslim)
Meskipun rekaatnya paling sedikit, yakni dua rekaat, tetapi alangkah indahnya bila ditunaikan agak lama, misalnya setelah al-Fatihah pada rekaat pertama kita bisa membaca surat yang agak panjang (misalnya surat al-a'la dan surat al-Ghasiyah pada rekaat kedua). Mengapa? Di antaranya karena shalat subuh itu dipersaksikan. Dan dirikanlah shalat Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh para malaikat).'' (QS Al-Isra' 78). Ini bukan berarti shalat lain tidak dalam rekaman malaikat Raqib. Namun shalat subuh disebut secara eksplisit karena sarat berkah.
Ini, tidak, saat shalat subuh, sudah rekaatnya paling sedikit eh.. bacaannya juga super kilat dan suratnya singkat. Tapi ya boleh-boleh saja, mungkin baru latihan, itupun kadang masih kantuk berat. Semoga tetap memperoleh berkahnya, di antaranya semakin memperbaiki kualitas shalatnya.
Inilah, keberkahan subuh sangatlah dahsyat, bahkan sudah dirasakan sejak dari bangun dini hari, amalan sunat, shalat malam, tilawah, dzikir hingga datangnya fajar. Amalan sunah saja sudah luar biasa berkahnya, apalagi shalat subuh yang notabene wajib. Dan ternyata, saat-saat dini hari hingga fajar inilah merupakan di antara waktu yang paling baik untuk bertaqarub ilallah. Oleh karenanya dalam banyak riwayat Nabi Muhammad saw melakukan shalat malam, bahkan juga membangunkan keluarganya agar shalat malam pada sepertiga akhir malam.
Dari Amr bin ‘Abasah ra bahwasanya ia mendengar Rasulullah saw bersabda, “Keadaan yang paling dekat seorang hamba kepada Allah ialah pada potongan malam terakhir. Jika engkau mampu menjadi orang yang berdzikir kepada Allah pada waktu tersebut maka lakukanlah.” (HR. At-Tirmidzi)
Sungguh syahdu dan khusyuk dapat beribadah di keheningan malam saat fajar, saat mana masih banyak orang terlelap dalam tidurnya. Dalam rangkaiannya, sebelum shalat subuh, kita dianjurkan shalat sunat dua rekaat, lalu subuh syukur-syukur dilakukan secara berjamaah. Dari ‘Aisyah di mana Nabi saw bersabda, Dua raka’at shalat fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim).
Shalat fajar yang kebaikanya melebihi dunia seisinya. Di sinilah di antaranya kita memperoleh keberkahan resep menjadi kaya raya. Coba bayangkan saja dengan shalat fajar, maka pahala atau balasan akan keutamaannya melebihi dunia ini beserta isinya. Bila isi dunia ini keindahan alamnya, maka orang yang menunaikan shalat fajar akan memiliki keindahan yang menakjubkan. Bila isi dunia ini berupa kekayaan alamnya seperti emas, tembaga, berlian, minyak, dan lainnya, maka kekayaan itu menjadi balasan bagi orang yang bersimpuh takdhim kepada Allah dalam shalat fajarnya.
Seandainya yang dimaksudkan shalat fajar itu adalah shalat sunat rawatib sebelum subuh, maka alangkah dahsyatnya keberkahannya. Tetapi kalau shalat fajar itu merujuk pada shalat subuh itu sendiri, maka sungguh beruntung bagi yang menunaikannya, pasti keberkahannya melampaui shalat sunat.
Keberkahan shalat subuh lainnya dinyatakan dalam riwayat bahwa Rasulullah bersabda, “Para malaikat turun datang berganti-gantian kepada kalian pada waktu malam dan siang hari. Mereka berkumpul saat shalat subuh dan ashar. Kemudian yang menjaga kalian di waktu malam naik. Kemudian Allah, yang Maha Mengetahui urusan mereka, bertanya para malaikat tersebut; ‘Bagaimanakah keadaan hamba-hambaKu ketika kalian tinggalkan? Mereka menjawab: Kami tinggalkan mereka ketika sedang shalat dan kami datang juga ketika mereka sedang shalat.” (HR. Muslim).
Secara tidak langsung dengan shalat subuh sejatinya kita mengkondisikan diri dalam ketaatan sekaligus sebagai sembah bakti kita selaku hamba ke atas Rabbnya. Secara filosofis, kita sejatinya sedang menyatakan eksis di saat terjadinya perubahan suasana dari gelap ke fajar shidiq.
Kita bersimpuh di hadapan Allah, memohon ampun, memohon agar hari ini kita lebih sukses dan mampu menebar kebetmanfaatan pada sessma, lebih bahagia dan dapat membahagiakan orang lain. Inilah sejatinya, nilai keberadaan kita selaku hamba ke atas Rabbnya dan selaku saudara atas seama manusia.
Kini di keheningan dini hari ini sembari menanti subuh nan berkah, mari kita segera bangun untuk menjemput karunia Allah ta'ala, guna menyucikan hati kita, mengasah akal budi kita, menyehatkan fisik kita. Pastikan segera bersuci, mengambil air sembahyang; mengenakan pakaian indah yang kita miliki untuk "sowan" menghadap pada Allah melalui shalat malam, dzikir, tilawah Qur'an, bermunajat kepada Allah memohon ampunan dan berharap agar Allah memberi hidayah kepada kita sehingga fisik kita sehat wal afiat, rezeki melimpah, ilmu dan hikmah meluas, dan hati senantiasa bersyukur. Aamiin ya Rabb
Tags:
Muhasabah Harian