Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 4 Rajab 1443
Keberkahan Shalat Dzuhur
Saudaraku, sebagai orang Islam yang baik akan senantiasa berusaha memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Kesempatan yang masih tersedia senantiasa akan diisinya dengan amal ibadah agar memperoleh keridhaan dari Rabbnya, melalui amalan, kerja, aktivitas, curahan pikiran, dan pengabdian yang silih berganti.
Oleh karenanya ketika siang hari tetap istikamah ibadah melalui kerja, kerja, dan kerja. Inilah makhluk siang hari. Meskipun demikian, bukan berarti seluruh durasi siang harinya untuk bekerja mencari penghidupan terus menerus. Tetapi tetap saja ada space yang secara khusus harus digunakan untuk "sowan" beraudensi pada Ilahi, sembari melakukan relaksasi dan refleksi atas diri yang sangat menghajadkannya. Inilah saat-saat ditunaikannya shalat dzuhur.
Secara praktis, karena kondisinya terang benderang maka siang hari memang menjadi amat kondusif untuk digunakan melakukan aktivitas apa saja yang dimungkinkan guna mencari penghidupan, baik di perkantoran, pasar, swalayan, domestik kerumahtanggaan, sawah, ladang, hutan, lautan, maupun pabrik atau perusahaan tertentu. Dan tuntunan nornativitas juga menghendaki hal yang sama. Perhatikanlah! Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan (QS.Al-Naba’ 11).
Inilah makhluk siang hari yang senantiasa mengisinya dengan amal ibadah agar dapat terus menemukan keridhaan dari Rabbnya, melalui amalan, kerja, aktivitas, curahan pikiran, dan pengabdian yang silih berganti.Dengan demikian ketika siang ingat ibadah melalui kerja, kerja, dan kerja.
Nah ketika saat dzuhur tiba, maka orang-orang beriman akan bersegera bersimpuh ke haribaanNya. Bahkan banyak di antara kita yang sudah bersimpuh di atas sajadah sebelum adzan berkumandang. Lazimnya kita menunaikan dzuhur pas setelah matahari tergelincir sedikit ke arah barat sehingga bayangan benda sudah mulai kelihatan di sebelah timur setentang dengan arah kiblat.
Ya, empat rekaat saat shalat dzuhur plus sunat rawatib empat rekaat sebelum dan sesudahnya diharapkan menjadi saat-saat yang spesial untuk beraudensi pada Ilahi, mensyukuri karuniaNya, dan menentramkan hati bersamaNya. Tentu, menjadi sangat penting bagi kita meratakan dahi di tempat sujud setelah sebelumnya beraktivitas bermakna untuk prnghidupan kita. Karena ketika dzuhur terjadi perubahan situasi dan kondisi alamiyah yang menghajadkan kita untuk hadir di haribaanNya. Perhatikanlah betapa hari menjadi relatif amat panas karena matahari menumpahkan sinarnya secara sempurna ke atas bumi seolah-olah ia di atas kepala kita. Dalam kondisi ini, kita mesti bisa beradaptasi, mengecas diri di haribaan Ilahi agar bisa terus eksis dalam berbakti dan mengabdi.
Robot saja yang tulangnya dari besi, ototnya dari kawat, kulitnya dari baja, hidupnya dengan baterai juga ada saatnya melemah sehingga perlu dicas ulang, padahal manusia bukanlah robot. Jadi secara fisik, maka badan manusia butuh "dicas" agar segar kembali untuk melanjutkan aktivitas. Maka momentnya ya saat-saat dzuhur. Demikian juga akal pikiran dan hati. Semuanya punya hak yang srmestinya terpenuhi.
Saat-saat zhuhur kita merenungi mensyukuri betapa Allah menyediakan keberkahan yang tak terhingga kepada sesiapapun yang dikehendakiNya. Dengan karuniaNya, setelah kita berusaha meraih keberkahan siang hari dengan perbuatan nyata, seperti memanfaatkannya untuk beramal shalih, belajar, mengajar, mencari nafkah dan rezeki yang halal dan baik, kita ikrarkan rasa syukur kita dalam penunaian shalat dzuhur. Aamiin ya Rabb
Tags:
Muhasabah Harian