Keberkahan Shalat Magrib

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 6 Rajab 1443

Keberkahan Shalat Magrib
Saudaraku, sejatinya keberkahan selalu dicurahkan oleh Allah swt kapan saja, baik siang maupun malam, pagi maupun petang dan atau pada waktu-waktu lainnya. Apalagi pada saat-saat shalat. Dan khusus untuk shalat magrib memiliki keberkahan yang spesifik di samping, tentu, keberkahan shalat pada umumnya juga ada padanya.

Semua fasilitas yang disediakan Allah tersebut menjadi efektif atau tidak sangat bergantung pada pemanfaatannya yang dilakukan oleh orang beriman. Kita perhatikan beberapa tuntunan yang diabadikan Allah dalam al-Qur'an untuk menegaskannya. Di antaranya tentang tuntunan agar kita meraih keberkahan petang hari saat menjelang magrib, Allah berpesan "“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah kamu sambil memuji Tuhamu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya” (QS Qaf 39) 

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang orang yang lalai”. (QS Al A’raf 205) 

“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampun untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi” (QS Al Mu’min 55)

“Bertasbih kepada Allah di masjid masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama namaNya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang” (QS Al-Nur 36)

Pada jelang dan saat magrib, kita dituntun bertasbih, berdzikir, memuji Allah dan berdoa bermunajat kepadaNya. Bahkan hendaknya juga mengajak dan membiasakan kepada anak-anak, sehingga mereka tidak keluar rumah berkeliaran ke mana-mana saat mustajabah tersebut. 

Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah ra, sesungguhnya Nabi saw bersabda,

 إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ ، وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا ، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا ،  وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ

"Jika malam datang menjelang, atau kalian berada di sore hari, maka tahanlah anak-anak kalian (agar tinggal di rumah), karena sesungguhnya ketika itu setan sedang berkeliaran (mencari mangsa). Jika telah berlalu sesaat dari waktu malam, maka lepaskan mereka. Tutuplah pintu dan berzikirlah kepada Allah, karena sesungguhnya setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup. Tutup pula wadah minuman dan makanan kalian dan berdzikirlah kepada Allah, walaupun dengan sekedar meletakkan sesuatu di atasnya, matikanlah lampu-lampu kalian." (HR. Bukhari, no. 3280, Muslim, no. 2012)

Gambaran yang disebut dalam riwayat di atas dapat dijelaskan secara ilmiah. Saat menjelang maghrib tiba, suasana alam berubah dari terang menjadi gelap. Beda dengan subuh, dari gelap ke terang. Para saintis kemudian menyatakan bahwa spektrum cahaya di saat magrib juga berubah menjadi berwarna merah. Langitpun menampakkan mega-mega semburat merahnya. Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik yang memiliki spektrum warna berbeda satu sama lain. Setiap warna dalam spektrum mempunyai energi, frekuensi dan panjang gelombang yang berbeda.

Saat maghrib, spektrum cahaya menjadi berwarna merah dan menyebabkan selaras dengan frekuensi jin dan iblis. Karena terbuat dari nur dan api. Maka pada waktu magrib, jin dan iblis amat bertenaga karena memiliki resonansi yang sama dengan warna alam. Dan perlu diingat pada waktu magrib, banyak interfernsi atau tumpang tindihnya dua atau lebih gelombang yang berfrekuensi sama sehingga penglihatan terkadang kurang tajam oleh adanya fatamorgana.

Dalam Islam, pada waktu magrib dijelaskan bahwa iblis atau setan bersamaan dengan datangnya kegelapan mulai menyebar mencari tempat tinggal, karena mereka tersebar dengan pemandangan luar biasa dan jumlah yang tidak ada yang tahu selain Allah. Sebagian setan takut dari kejahatan setan yang lain, sehigga setan harus memiliki sesuatu yang dijadikannya sebagai tempat berlindung dan mencari tempat aman. Maka ia bergerak dengan cepat melebihi kecepatan manusia dengan kecepatan berlipat lipat, beberapa dari mereka berlindung dalam wadah kosong, berlindung ke rumah kosong, dan beberapa dari mereka berlindung kepada sekelompok manusia yang sedang duduk duduk. Mereka tentu tidak merasakannya, mereka ikut menimbrung supaya menjadi aman dari penindasan saudara sesama setan yang juga berkeliaran seperti angin di bumi karena yang boleh hidup hanya yang kuat saja. 

Inilah mengapa kita harus terus berlindung kepada Allah dalam dzikir-dzikir kita dan menunaikan shalat magrib. Membiasakan keluarga dan anak-anak kita untuk turut serta; bersegera bersimpuh di atas sajadah, seraya berdzikir, memohon hari ini, petang ini, magrib ini dan segala amal membawa keberkahan. Iya magrib benar-benar membawa berkah. Satu-satunya shalat wajib yang bilangan rekaatnya ganjil, bilangan yang dicibtai oleh Allah.

Saat petang, ketika magrib tiba, bisa saja setan merasuki dan mengganggu anak kecil manusia untuk dijadikan tempat berlindung. Selain itu setan juga berlindung di tempat yang kotor seperti pada popok bayi yang sudah kotor. Mereka lebih memilih popok bayi karena najis sebagai tempat persembunyian, sehingga mendorong mereka untuk tinggal. Bisa saja kita menyaksikan anak menjerit tiba-tiba dan beberapa yang menggelapar dalam tidurnya karena gangguan iblis yag merasukinya saat dijadikan tempat berlindung. Oleh karenanya, kita dituntun merengkuh kebetkahan dengan berdzikir, sebelum nantinya menunaikan shalat magrib.

Apalagi bagi orang-orang beriman yang sedang berpuasa. Sembari menanti tibanya ifthar, kitapun bersimpuh di atas sajadah dengan lisan senantiasa basah berdzikir, memohon ampunan, dan memohon keberkahan. Dan saat magrib tiba, kitapun ifthar ala kadarnya sebelum menunaikan shalat magrib. Berarti dalam rangkaian ibadah petang hari kita bisa merengkuh setidaknya tiga amaliyah yang keberkahannya senantiasa kita rasakan, yakni berdzikir, ifthar, dan shalat magrib di awal waktu.

Pertama, keberkahan dzikir di petang hari. Secara umum, dzikir atau menyebut asma Allah dapat menentramkan hati hamba-hambaNya. Lafal dzikir yang lazim dipraktikkan oleh kaum muslimin di antaranya istighfar astaghfirullah al-'adhim, tahlil laa ilaha illallah, tasbih subhanallah, tahmid alhamdulillah, takbir Allahu akbar atau melafalkan asmaul husna berulang-ulang dan atau dzikir lainnya. Apalagi dzikir yang dilakukan di saat jelang magrib yang notabene setelah melakukan serangkaian aktivitas bermakna sedari pagi hingga sore hari ini.

Kedua, keberkahan ifthar atau buka puasa. Dan hebatnya buka puasa itu hanya mulai dilakukan pas tepat saat magrib saja tidak selainnya. Keberkahan berbuka puasa tidak perlu dibahasakan dengan kata-kata, tetapi saat  adzan magrib mulai berkumandang nanti sama-sama kita merasakannya. Karena berbukanya bersahaja, maka akan menjadi energi positif baik bagi jiwa maupun raga. Dan keberkahan ifthar akan lebih sempurna saat bertemu dengan (keridhaan) Allah ta'ala.

Ketiga, keberkahan shalat magrib. Ya secara kasat mata saat shalat magrib berarti kita sedang sowan pada Allah atau pinger untuk menyatakan hadir bahwa diri ini masih eksis di segala kondisi, baik saat terang (hati merasa senang bahagia) maupun saat gelap (hati menghadapi banyak masalah) yang baru saja menyapa. Aamiin ya Rabb

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama