Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 8 Rajab 1443
Keberkahan Shalat Berjamaah
Saudaraku, curahan keberkahan shalat fardhu sebagaimana telah diingatkan dalam sepekan muhasabah akhir-akhir ini akan berlipat-lipat ganda kebaikannya hingga 27 derajat, ketika dilakukan secara berjamaah. Inilah yang melatari tema muhasabah hari ini sehingga diracik di bawah judul keberkahan shalat berjamaah.
Tidak sulit menemukan rujukan teologis normatif yang berisi tuntutan untuk shalat fardu dilskukan secara berjamaah berikut keberkahannya. Di antaranya Allah menyeru yang artinya Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk," (QS. Al-Baqarah 43). Ya rukuk bersama orang-orang yang rukuk artinya shalat berjamaah. Seandainya sepasang pengantin baru, seorang laki-laki dan seorang perempuan mau shalat, hendaknya berjamaah sehingga menuai berkah, 1+1=27.
Secara praktis, Nabi Muhammad memberi amar wasiat, Kembalilah kalian dan jadilah bersama mereka serta ajarilah mereka dan shalatlah kalian, apabila telah datang waktu shalat hendaklah salah seorang di antara kalian adzan dan hendaklah orang yang paling tua (berilmu tentang Al-Qur'an dan Al-Sunnah dan paling banyak hafalan Al Qur'annya) di antara kalian mengimami kalian." (HR. Bukhari)
Mengapa dituntun untuk berjamaah. Ya di antaranya, di samping sebagai makhluk bertuhankan Allah, kita adalah makhluk sosial yang menghajatkan kebersamaan dengan orang lain. Kita menyadari meski untuk mati bisa sendiri-sendiri, tetapi untuk hidup harus bersama dan menjalin kerjasama dengan sesama. Inilah percikan keberkahan yang diajarkan dalam tuntunan shalat berjamaah. Makanya terdapat riwayat, Telah menceritakan kepada kita Abdullah bin Yusuf, ia berkata telah mengabarkan kepada kita Malik dari Nafi‟ dari Abdullah bin Umar sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari).
Keberkahan 27 derajat shalat berjamaah itu tentu sejatinya subtantif sifatnya seperti meningkatnya derajat hingga sangat tinggi karena iman, ilmu dan amal masing-masing peserta shalat berjamaah bertambah-tambah sehingga lebih dekat dengan Allah. Tetapi tidak ada salahnya bila dicoba diinventaris secara kuantitatif ragam keberkahan yang dicurahkan oleh Allah dalam ajaran shalat berjamaah. Di antaranya, shalat berjamaah,
1. Menjadi media berta'aruf dengan sesama jamaah. Shalat berjamaah menjadi media ta'aruf saling mengenal satu sama lainnya dalam satu ikatan yang sama yakni mengabdi pada Ilahi. Nah bagi orangtua yang mau menikahkan putrinya, barangkali bisa dimulai dari sini, kenal atau mengenali calon menantunya dari keaktifannya di masjid. Tentu akan lebih berkah ketimbang nyarinya di tempat lain: nyari calon menantu di jalanan atau di nightclub atau di arena yang meninabobokkan atau di tempat-tempat hedonik dan tidak lazim lainnya. Termasuk mau nyari pemimpin.
2. Membiasakan lurus dalam membentuk barisan atau shaf shalat. Tuntunan ini sangat bermakna baik secara lahiriyah maupun subtantif. Intinya hidup itu ya harus lurus, shiratal mustaqim.
3. Mendidik untuk merapatkan barisan. Di samping lurus, kita harus merapatkan barisan yang secara substatif siap menyongsong masa depan. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung, segala rintangan diselesaikan bersama, pasti bisa dengan ridhaNya.
4. Mendidik berbagi tempat dalam barisan yang rapi. Nah konsep sithik eding atau berbagi merupakan di antara tuntunan pada shalat berjamaah bahwa kita senasib sepenanggungan maka mesti berbagi.
5. Membiasakan bersuci dan dalam keadaan bersih seluruh anggota badan sehingga tidak bau, tidak BB. Pola hidup bersih dan sehat menjadi prasyarat utama peserta shalat berjamaah. Bagi yang kotor atau sakit sebaiknya shalat di rumah saja agar tidak menimbulkan aroma tak sedap di masjid atau menularkan virus karenanya. Jadi bersih dan sehat itu penting.
6. Membiasakan mengenakan pakaian yang lazim, suci dan indah sehingga tidak mengganggu sesama jamaah lainnya. Pakaian yang menyolok baik warna, model, desain ataupun motifnya yang warna warni bergambar berpotensi mengundang perhatian diri sendiri dan jamaah lainnya, sehingga dikhawatirkan sulit meraih khusyuk. Masak saat shalat bisa menghitung gambar bola-bola, atau motif daun di kemeja yang dikenakan oleh jamaah di depannya
7. Media menjalin ukhuwah. Karena harus lurus, rapi, serasi, serempak, maka sejatinya shalat berjamaah menciptakan ukhuwah. Ya ukhuwah islamiyah di bawah panji-panji iman dan Islam.
8. Media saling tolong menolong. Sesama jamaah lazimnya bisa saling menyapa, mengetahui hal ikhwal sesamanya dan bisa saling membantunya.
8. Mengikis kesombongan dan noktah hitam di hati. Dalam shalat berjamaah itu hanya ada dua posisi saja yakni imam dan makmum, bagaimana mau sombong?. Seandainya sifat sombong itu ada pada sang imam, maka yakinlah esok lusa tak akan pernah memimpin lagi. Dan kalau sombong itu ada pada di antara makmum, lalu apa yang disombongkan? Kemakmumannya? Saya rasa tidak ada.
9. Mendidik etika memimpin atau dipimpin. Coba hanya dengan berjamaah kita bisa belajar memimpin dan atau dipimpin. Tentu ini tidak ada pada shalat sendirian bukan?
Ya memimpin itu ya bisa ngemong (boleh diingat sistem among Ki Hajar Dewantara dalam pendidikan) jamaahnya. Ngemong itu ya melindungi, mengayomi, merahmati semua peserta jamaah yang menjadi makmumnya. Ngemong itu ya memberi suri teladan dan berani menanggung segala resiko perjuangan. Dan seterusnya. Dengan shalat berjamaah, sebagai makmum juga bisa belajar taat pada pimpinan.
10. Mendidik disiplin dalam gerakan mengikuti imam. Saat imam sudah takbiratul ihram, maka jamaah segera menyesuaikan diri untuk mengikuti imam, setelah imam rukuk maka jamaah pun rukuk dan setetusnya. Tidak diizinkan mendahului imam, apalagi menyalahi gerakannya, imam rukuk kita yang makmum sujud misalnya.
11. Mendidik gerak serentak seirama. Nah gerak jamaah harus serentak sehingga indah. Kalau ada yang lelet gerakannya sehingga terlambat mungkin sangat menghayati bacaannya atau mungkin juga belum hafal, maka ya dimaklumi saja.
12.Mendidik akhlak demokratis. Jabatan imam adalah amanah karena kelebihan yang Allah anugrahkan kepadanya, sehingga bisa siapa saja yang dipilih dan dikehendaki jamaah. Di antara keistimewaan sehingga dipilih menjadi imam adalah faktor usianya, ilmu agamanya, hafalan al-Qur'annya, shalih perilakunya, tampan dan gagah orangnya.
13. Mendidik untuk memahami psikologi jamaah atau makmumnya. Peserta shalat jamaah dipastikan lintas usia, lintas suku bangsa dan ragam kondisi juga hajatnya, maka imam harus bijak bersikap. Misalnya lama atau durasi shalatnya mestinya memiliki standar yang lazim; tidak terlalu lama tapi juga tidak terlalu kilat.
14. Mendidik untuk sabar mendengarkan dan mengikuti imam. Sebagai makmum mestinya sabar mendengarkan bacaan imam (saat rekaat shalat yang jahar).
15. Mendidik akhlak menegur atau ditegur. Sast imam lupa sehingga salah baca atau salah gerak atau salah rekaat, maka makmum harus menegurnya secara syar'i dan dengan santun.
16. Mendidik jujur bila batal meskipun orang lain tidak mengetahuinya, ya harus mengulang mengambil air sembahyang lagi.
17. Di samping pinger secara vertikal, juga sebagai media pinger horisontal. Bila shalat merupakan pernyataan hadir secara vertikal, maka kehadiran kita ke tempat shalat berjamaah sebagai pernyataan hadir secara horisontal. Siapa-siapa yang masuk dan siapa yang mangkir dan atau siapa yang sakit. Kalau sakit, maka bisa dikunjungi.
18. Memperoleh keutamaan karena telah mengamalkan sunah nabi. Sebagaimana diketahui bahwa setelah menerima titah shalat fardhu lima kali semalam, Nabi senantiasa menunaikannya dengan berjamaah.
19. Terhindar dari siksa kubur, karena shalat dan amal ibadahnya yang telah dikerjakannya saat hidup di dumia akan menjadi penghalangnya.
20. Seseorang yang rajin shalat berjamaah akan dimudahkan ketika melewati shirat al mustaqim dengan sangat cepat seperti halilintar dan Allah akan memasukkan orang tersebut ke dalam surga tanpa hisab.
21. Diangkat derajatnya. Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda Jika salah seorang dari kalian berwudlu dan membaguskannya, kemudian datang ke masjid, dan tidak ada yang menggerakkannya menuju masjid kecuali shalat maka tidaklah ia melangkahkan kaki kecuali dengannya Allah akan mengangkat derajad dan menghapus dosanya hingga ia masuk masjid, dan jika masuk masjid maka ia akan tetap dalam hitungan shalat selama shalatlah yang menahannya (dari keinginan pulang)”. (Hr. Ibnu Majah 766)
22. Terhindar dari sifat munafik. Aku telah melihat bahwa orang yang meninggalkan shalat jamaah, hanyalah orang-orang yang munafik. Di mana ia adalah munafik tulen. Karena bahayanya meninggalkan shlat jamaah sedemikian adanya, ada seseorang yang sampai didatangkan dengan berpegangan pada doa orang sampai ia bisa masuk dalam shaf ”. (HR Muslim)
23. Memperoleh banyak pahala. Dari Sahabat Ustman bin Affan ra Rasulullah saw Bersabda Barangsiapa melaksanakan shalat Isya berjamaah maka ia mendapatkan pahala shalat setengah malam, dan barangsiapa melaksanakan shalat Isya dan Subuh dengan berjamaah maka ia mendapatkan pahala shalat satu malam.” (Hr. Al-Tirmidzi 205)
24. Memperoleh pengampunan atas dosa-dosanya masa lalu. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : Jika Imam membaca “Ghairil Maghdluubi Alaihim Wa la dldlaalliin” maka ucapkanlah “Aamiin” karena siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan aamiinnya Malaikat maka dosanya yang telah lalu akan diampuni (Hr. Al -Bukhari No. 740)
25. Di hari kiamat akan menperoleh perlindungan dari Allah. Dalam hadis yang sangat populis, terdapat tujuh golongan yang akan memperoleh naungan dari Allah dan salah satunya orang-orang yang hatinya terpaut dengan masjid. Artinya, di antaranya gemar shalat berjamaah.
26. Mendidik khusyuk meskipun dalam keramaian berjamaah. Tidak justru terganggu dengan merek kain sarung jamaah di depannya, atau model pecinya, atau gambar sajadah yang digunakannya atau postur tubuh jamaah lainnya.
27. Mendidik bersimpuh khusyuk saat sowan kepada Allah meski dalam keramaian jamaah.
Dan loentuan yakin kebaikan dan keberkahan lain dari shalat berjamaah tentu masih sangat banyak. Hanya saja di sini ditegaskan bahwa dari 27 keberkahan shalat berjamaah tersebut, sebagian besar hanya dapat diperoleh dengan shalat berjamaah. Tidak pada shalat sendiri-sendiri. Oleh karena itu mari kita bersiap shalat subuh berjamaah, sehingga kita dapat meraup semua keberkahan yang tersedia. Aamiin ya Rabb!
Tags:
Muhasabah Harian