Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 19 Rajab 1443
Keberkahan Shalat Isyraq
Saudaraku, dalam Islam penciptaan langit bumi, dan pergantian siang menjadi malam serta malam menjadi siang itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Coba kita renung-pikirkan suasana yang tadinya terang benderang lalu meredup dan berangsur menjadi gelap gulita. Untungnya ada api, ada cahaya, ada orang yang dianugrahi kreativitas membuat aneka lampu. Begitu juga sebaliknya suasana yang tadinya gelap gulita pekat udara dingin menyelimuti sehingga istirahat kehidupan menjadi sempurna, tetapi kemudian berangsur pudar menjadi terang dan benderang di siang hari yang menyengat. Untungnya ada air, ada angin, ada orang yang dianugrahi kreativitas mencipta kipas angin dan AC. Tetapi ayat-ayat ini hanya bisa dipahami sepenuhnya oleh hamba-hambaNya yang ulul albab.
Allah berfirman yang artinya Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Ali Imran 190-191).
Orang-orang yang begelar ulul albab yang dimaksud pada normativitas di atas adalah orang-orang beriman yang senantiasa berdzikir dan berfikir dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Makanya sesaat setelah pergantian siang menjadi malam, orang-orang ulul albab berdoa, berdzikir dalam rangkaian kesatuan ibadah shalat magrib. Sesaat setelah matahari tergelincir sedikit ke arah barat, orang-orang ulul albab berdoa, berdzikir dalam rangkaian kesatuan ibadah shalat dhuhur. Sesaat setelah pergantian malam menjadi siang, orang-orang ulul albab berdoa, berdzikir dalam rangkaian kesatuan ibadah shalat isyraq. Nah, inilah yang melatari tema muhasabah hari ini sehingga diracik di bawah judul keberkahan shalat isyraq.
Ya shalat isyraq namanya. Isyraq - syuruq artinya terbit atau terbuka. Jika disandingkan dengan kata shalat, maka maknanya adalah shalat sunah sesaat setelah matahari terbit (jadi bukan pas terbit ya, karena ini waktu terlarang shalat) kira-kira berlangsung sekitar 15 sebelum dhuha.
Tuntunan shalat isyraq tersirat dari firman Allah dalam Al-Qur'an surah Shaad: "Untuk bertasbih bersamanya (Dawud) di waktu petang dan pagi" (Qs. Shaad 18) Ketika Nabi Muhammad ditanya mengenai makna Isyraq di ayat tersebut, beliau menjawab, "Itulah shalat Isyraq" (HR Hakim dan Al-Thabari).
Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa shalat yang dilaksanakan persis pada waktu sesaat setelah terbitnya matahari disebut shalat Al-isyraq (HR. Al-Hakim dan Thabrani dari Ummu Hani). Namun ini bukanlah shalat dhuha, karena shalat dhuha adalah shalat sunah yang dilakukan setelah matahari sepenggalahan naik dan shalat shunah isyraq waktunya adalah sejak setelah terbit matahari sampai waktu dhuha (sepenggelahan naik).
Shalat isyraq ditunaikan dalam dua rakaat sekali salam. Pada rakaat pertama setelah al-Fatihah disunahkan membaca surat Al-Dhuha atau Al-Kafirun dan pada rakaat kedua membaca surat Al-Insyirah atau Al-Ikhlas. Usai shalat disunahkan membaca doa, seperti sebagai berikut:
للّهُمّ يا نُوْرَ النُّوْرِ بِالطُّوْرِ وَكِتَابٍ مَسْطُوْرٍ فِي رَقٍّ مَنْشُوْرٍ وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِيْ نُوْرًاً أَسْتَهْدِيْ بِهِ إِلَيْكَ وَأَدُلُّ بِهِ عَلَيْكَ، وَيَصْحَبُنِيْ فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ الْاِنْتِقَالِ مِنْ ظُلّامِ مِشْكَاتِي، وَأسْأَلُكَ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا، أَنْ تَجْعَلَ شَمْسَ مَعْرِفَتِكَ مُشْرِقَةً بِيْ لَا يَحْجُبُهَا غَيْمُ الْأَوْهَامِ، وَلَا يَعْتَرِيْهَا كُسُوْفُ قَمَرِ الْوَاحِدِيَّةِ عِنْدَ التّمَامِ، بَلْ أَدِمْ لَهَا الِإشْرَاقَ وَالظُّهُوْرَ عَلَى مَمَرِّ الْأَيَّامِ وَالدُّهُوْرِ، وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِّلهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِإِخْوَانِنَا فِي اللهِ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتاً أَجْمَعِيْنَ
Artinya: "Ya Allah, yang cahayaNya bersinar dengan wasilah bukit Thur dan kitab yang ditulis pada lembaran yang terbuka dan dengan wasilah Baitul Makmur, saya meminta kepadaMu agar Engkau memberi saya cahaya yang dengannya saya dapat mencari petunjukMu. Dan dengannya saya menunjukkan tentangMu yang terus menerus mengiringi dalam kehidupan saya dan setelah berpindah ke alam lain dari kegelapan liang kubur saya. Dan saya meminta kepadaMu dengan wasilah matahari beserta cahayanya di pagi hari dan kemuliaan yang wujud selain matahari, agar Engkau menjadikan matahari makrifat padaMu (yang ada pada saya) bersinar menerangi saya; tidak tertutup dengan mendung-mendung keraguan, tidak juga dilintasi gerhana pada rembulan kala purnama.
Jadikanlah selalu bersinar dan selalu terlihat, seiring berjalannya hari dan tahun. Berilah rahmat ta'dzim, Ya Allah, kepada junjungan kami, Muhammad, penutup pada nabi dan rasul. Segala puji hanya milik Allah, tuhan penguasa alam. Ya Allah, ampunilah kami, kedua orang tua kami serta saudara-saudara seagama seluruhnya, baik yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia.
Di antara keberkahan shalat isyraq dapat diresapi dari permohonan hamba ke atas Rabbnya seperti tertera di atas yang sungguh luar biasa. Di samping itu juga bisa dirujuk pada riwayat dari Abu Umamah ra Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang mengerjakan shalat subuh dengan berjamaah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunah (di awal waktu matahari usai terbit, syuruq), maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumrah secara sempurna." (HR. Thabrani. Syaikh Al-Albani dalam Shahih Targhib (469) mengatakan bahwa hadits ini shahih lighairihi (shahih dilihat dari jalur lainnya).
Dari Anas bin Malik ra Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang melaksanakan shalat subuh secara berjamaah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka'at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umrah." Beliau pun bersabda, "Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna." (HR. Tirmidzi No. 586, Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Pahala sempurna berhaji dan berumrah tentu luar biasa, apalagi di suasana new normal seperti sekarang ini. Meskipun dari kesiapan dana sudah terpenuhi bahkan melampaui, tetapi tidak kemudian bisa leluasa berangkat ke tanah suci. Apatah lagi bagi orang-orang yang belum dianugrahi kemampuan untuk ke sana. Tetapi dengan dua rakaat shalat isyraq sudah dijanjikan memperoleh pahala ibadah haji dan umrah. Tentu, ini keberkahannya ya, tanpa bermaksud membatalkan kewajiban haji dan anjuran umrah secara formal ke tanah suci.
Allahu a'lam
Tags:
Muhasabah Harian