Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 18 Jumadil Akhir 1443
Keberkahan Tutur Kata
Saudaraku, di antara karunia Allah yang dianugrahkan kepada manusia adalah kemampuan berbahasa, yakni menyampaikan keinginannya kepada orang lain. Selagi masih bayi ketika haus atau lapar atau sakit, maka ia menangis atau rewel atau memberikan tanda tertentu sebagai bahasa tubuh sehingga ibunya segera mengerti dan memenuhi kebutuhan si buah hatinya. Setelah berangsur besar seiring dengan panca inderanya kian sempurna, maka seseorang lazimnya menyampaikan hasrat keinginannya dengan bahasa verbal yakni bertutur-kata. Nah inilah yang melatari tema muhasabah hari ini sehingga diracik di bawah judul keberkahan tutur kata.
Rasanya, tak seorangpun di antara kita yang masih dikaruniai hidup di dunia ini yang tidak "berkata-kata", hatta seorang tuna wicara sekalipun, yang berkata-kata melalui bahasa tubuh atau isyarat. Nah, agar apapun yang kita katakan (baik dengan bahasa tubuh, isyarat maupun bahasa verbal) mendapatkan keberkahan, maka sebelum menyampaikannya mestinya dipikirkan baik-baik terlebih dahulu. Jadi kata kuncinya di sini, pikirkan apapun yang akan dituturkatakan (baca ditulis dan disampaikan).
Kita harus menyadari bahwa lidah memang tak bertulang bisa bergerak lues leluasa dan lentur, tapi bisa lebih tajam daripada pedang yang kaku keras memanjang. Oleh karenanya terdapat nasehat bijak, yaitu renung dan pikirkanlah apapun yang akan kita katakan, tetapi jangan katakan semua yang kita pikirkan. Bila mengatakan semua yang dipikirkan, maka namanya pemborosan dan belum tentu dibutuhkan oleh lawan bicara kita. Imam Ghazali menasihati, "Lidah itu sangat kecil dan ringan, tapi bisa mengangkatmu ke derajat paling tinggi dan bisa menjatuhkanmu di derajat paling rendah."
Jadi keberkahan tutur kata itu, ketika dengannya dapat melahirkan kebaikan dan kebaikannya senantiasa bertambah-tambah. Di antaranya dapat menjadi wasilah bagi kemuliaan dan ketinggian derajat. Dengan tutur kata yang sarat hikmah dan nasihat, seseorang bisa mulia dan dimuliakan sepanjang zaman. Dengan tutur kata saat ijab qabul penikahan, bisa menghalalkan hubungan suani istri yang sebelumnya haram.
Tetapi mesti diwaspadai sekaligus dijauhi yang sebaliknya, karena dengan lisan atau tutur kata juga bisa mengakibatkan terperosok di neraka (baca merana, menderita, teraniaya, dan tersiksa). Dengan lisannya yang tak terjaga, bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Dengan ujaran kebencian, bisa mengakibatkan percekcokan, perseteruan, bahkan perang.
Terdapat minimal dua bagian yang harus dipikirkan dalam hal tutur kata, yaitu substansi atau isi tutur kata itu sendiri dan cara menuturkannya. Nah, mengingat pentingnya tutur kata dan cara menuturkannya, maka Allah dalam al-Qur'an mewanti-wanti kita umatNya agar berhati-hati karena manusia itu pandai bertutur kata. Dalam QS al-Rahman ayat 4, “Allah mengajarkan manusia pandai berbicara”. Di sini Allah memberi kemampuan pada manusia pandai bicara, maka harus berhati-hati bicara apa dan bagaimana bicara.
Nah, selanjutnya dalam al-Qur'an terdapat beberapa karakteristik tutur kata dengan beberapa istilah seperti qaulan karima, qaulan ma’ruf, qaulan sadida, qaulan baligha, qaulan maysura, qaulan layina, qaulan tsaqila, qsulan 'adhima dan ahsanu qaulan
Pertama, qaulan karima. Allah berfirman yang artinya Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. Al-Isra' 23). Dalam hal ini kita dituntun bertutur kata dengan perkataan yang memuliakan dan memberi penghormatan kepada orang yang diajak bicara, apalagi kepada orangtua kita atau guru-guru kita. Orang-orang beriman pantang bertutur kata dengan perkataan yang dapat merendahkan derajat, apalagi yang menyakitkan orangtua kita dan sesamanya.
Kedua, qaulan ma’rufa. Dalam hal ini kita dituntun untuk bertutur kata dengan perkataan yang sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Allah berfirman yang artinya Dan janganlah kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kamu yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik." (Qs. An-Nisa' 5) Dalam hal ini kita dituntun untuk bertutur kata dengan perkataan yang pantas sesuai dengan latar belakang dan status kehormatan seseorang.
Ketiga, qaulan sadida. Allah berfirman yang artinya Qaulan sadida. Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar." (Qs. An-Nisa' 9). Dan Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar," (QS. Al-Ahzab 70). Dalam hal ini kita dituntun untuk bertutur kata dengan perkataan yang jelas, tidak meninggalkan keraguan, meyakinkan pendengar, dan perkataan yang benar tidak mengada-ada.
Keempat, qaulan baligha. Allah berfirman yang artinya Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya." (QS. Al-Nisa' 63). Dalam hal ini kita dituntun untuk bertutur kata dengan bahasa yang santun dan komunikatif meskipun dengan pihak yang beseberangan sekalipun.
Kelima, qaulan maysura. Allah berfirman yang artinya Qaulan maisura. Dan jika engkau berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang lemah lembut."
(QS. Al-Isra' 28). Dalam hal ini kita dituntun untuk bertutur kata dengan perkataan yang mudah, pantas, lunak, baik dan tidak mengecewakan.
Keenam, qaulan layyina. Allah berfirman yang artinya Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Qs. Thaha 44). Dalam hal ini kita dituntun untuk bertutur kata dengan lemah lembut.
Ketujuh, qaulan tsaqila, berkataan yang berat sarat makna. Allah berfirman yang artinya Qaulan tsaqila, penuh makna. Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu." (QS. Al-Muzzammil 5)
Kedelapan, qaulan 'adhima. Allah berfirman yang artinya Maka apakah pantas Tuhan memilihkan anak laki-laki untukmu dan Dia mengambil anak perempuan dari malaikat? Sungguh, kamu benar-benar mengucapkan kata yang besar (dosanya)." (Qs. Al-Isra' 40)
Kesembilan, ahsanu qaulan, perkataan terbaik. Allah berfirman yang artinya Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?"
(QS. Fushilat 33) Di sini kita diwanti-wanti agar tutur kata (tulisan, status, postingan) berisi dakwah, ajakan kepada kebaikan mencegah kebatilan.
Mencermati semua normativitas yang terjemahannya tertera di atas di antaranya dapat dipahami bahwa secara subtantif tutur kata mesti mengandung makna kebaikan dan disampaikan sesuai peruntukannya dengan cara yang lemah lembut, elegan, jelas atau dengan tegas dan keras sehingga mudah dimengerti oleh lawan bicaranya. Inilah keberkahan tutur kata. Semoga kita mampu merengkuhnya. Aamiin ya Rabb.
Tags:
Muhasabah Harian