Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 17 Jumadil Akhir 1443
Keberkahan Berita
Saudaraku, di samping pendidikan, hidup di era global seperti sekarang ini, setiap orang juga memerlukan berita atau informasi yang kebenarannya telah terverifikasi. Inilah yang yang melatari tema muhasabah hari ini sehingga diracik di bawah judul keberkahan berita. Ya berita yang buruk menyedihkan sekalipun, apalagi yang baik menggemberikan.
Dalam bahasa agama, digunakan istilah nadzira untuk berita buruk sebagai peringatan dan basyira sebagai berita baik yang menggembirakan. Berita buruk (nadzira) perlu diketahui agar menjadi nasihat sehingga diambil ibrahnya, berita baik (basyira) perlu diketahui untuk menambahi rasa syukur pada Ilahi Rabbiy. Di sinilah di antara keberkahan berita. Dan sebaliknya, ketidakberkahan suatu berita ketika berita itu ditambah-tambahi atau dukurang-kurangi, dibumbu-bumbui sehingga kita tak bisa membedakan mana fakta dan mana legenda. Apalagi berita itu diputarbalikkan. Inilah yang membuat kegaduhan sosial.
Di era sekarang ini hajad dan kepentingan manusia terhadap berita atau informasi shahih sangat terasa, bahkan sudah menjadi kebutuhan yang tak terelakkan. Keluarga di rumah sangat berkepentingan dengan berita anggota keluarganya yang bepergian atau menetap di suatu tempat yang berbeda untuk kepentingan tertentu, seperti untuk berbisnis, bekerja atau belajar menuntut ilmu. Demikian juga sebaliknya.
Para pelajar (murid, siswa, santri, mahasiswa) memerlukan update berita - apalagi saat daring - dari institusi tempatnya belajar menimba ilmu agar tidak "ketinggalan kereta". Begitu juga sebaliknya, institusi pendidikan juga perlu mengetahui berita dan hal ikhwal tentang murid-muridnya.
Para pelaku atau pakar pendidikan tentu sangat memerlukan berita tentang pendidikan dan regulasi aktual yang mengaturnya. Seperti sekarang eranya MBKM, Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan akreditasi yang diurusi oleh berbagai LAM. Begitu juga pelaku atau pakar ekonomi terhadap perkembangan ekonomi, pasar saham atau hal terkait lainnya. Dan seterusnya...intinya berita itu sangat penting dan dihajadkan sesuai peruntukannya.
Karena dibutuhkan, ditunggu-tunggu, diburu, dan diberitakan, maka berita atau informasi menjadi komiditi yang sangat prestisius dan berpeluang menciptakan fulus dan lapangan kerja. Para pihak, agen, sarana dan prasarana, radio, televisi, surat kabar, buku, tablod, internet, goegle, handphone, facebook, twiters, whatsApp dan para pihak yang memiliki dan mengolah serta menyampaikan berita/ informasi menempati posisi kunci dalam sosial ekonomi, budaya, penidikan dan politik, bahkan agama.
Seseorang yang tahu banyak tentang berita atau informasi shahih lainnya akan menjadi rujukan banyak orang. Surat kabar atau tayangan tv yang menerbitkan tentang berita terkini akan diminati banyak kalangan. Berita atau informasi atau kabar benar-benar sangat penting. Bahkan dalam Islam, seorang nabi sejatinya berperan sebagai pembawa kabar atau pembawa berita baik berita tentang masa lalu maupun berita masa datang (baca tentang kehidupan di akhirat).
Betapa pentingnya berita dan informasi bagi kehidupan manusia, maka layak bagi kita sebagai seorang muslim yang baik mengembangkan akhlak dalam mensyukuri berita dan atau informasi. Kita mesti mensyukuri dengan meyakini bahwa berita atau informasi shahih merupakan bagian dari karunia Allah yang layak disyukuri. Di samping itu, kita juga harus meyakini bahwa berita atau informasi yang benar datangnya dari Allah via rasulNya atau orang-orang beriman dan informasi yang salah datangnya dari setan atau orang-orang yang mengikuti bujuk rayunya.
Kita mestinya juga mensyukuri berita dengan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahirabbil alamin bahwa berita atau informasi dapat diperoleh melalui beragam cara dan aneka media. Untuk mendapatkan berita/informasi, alhamdulillah dengan kemurahannya Allah sudah mengaruniai manusia dengan alat panca indera, yang dengannya manusia memperoleh informasi tentang banyak hal. Di samping itu, dengan karuniaNya juga, manusia dapat menciptakan beragam alat dan sarana sehingga berita/ informasi dapat dengan mudah diakses oleh banyak pihak.
Di samping itu, perlu rasanya kita berlindung kepada Allah dengan membaca ta'awudh dan basmalah saat mencari dan mendapatkan berita/ informasi agar mendapatkan berita atau informasi yang benar dan yang bermanfaat saja, sekaligus agar terhindar dari informasi hoak atau salah atau jahat.
Sikap kehati-hatian terhadap informasi yang diterima sangat signifikan. Bila berita/ informasi itu berasal dari sumber-sumber otoritatif, seperti dari Al-Qur'an, Hadis, dari para ulama salafussalih, dan dari parak bijak lainnya, maka dapat kita jadikan pegangan hidup. Namun, bila berita/informasi itu dari sesama manusia, maka kita dituntun untuk berhati-hati. Di antara sikap kehati-hatian dalam hal informasi adalah mengembangkan sikap tabayun atau memeriksa dengan hati-hati dan teliti, informasi mana yang benar dan mana yang salah; informasi apa saja yang bisa dishare atau diteruskan disosialisasikan dan informasi mana yang sebaiknya kita simpan sebagai referensi pribadi atau mana informasi yang layak diabaikan. Dalam hal ini Allah berpesan, wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Al-Hujurat 6)
Sikap tabayun menjadi sangat penting agar kita dapat bijak bertindak. Coba bayangkan bila ada informasi yang kita terima lalu ditelan mentah-mentah dan tidak dicroscheck lagi, tidak ditimbang-timbang lagi, kemudian diteruskan atau dishare, maka dikhawatirkan menyesal di kemudian hari; bisa-bisa kita termasuk penebar berita bohong atau bisa terjebak pada perilaku fitnah terhadap sesama.
Islam menuntun agar lebih kita banyak mendengarkan dan menyimpan informasi yang diperolehnya daripada meneruskan atau memberitahukannya pada orang lain, kecuali ada tuntunan untuk itu. Oleh karena itu alat dan cara untuk memperoleh informasi itu banyak, telinga dua, lubang hidung dua, mata dua, tetapi alat untuk mengatakan atau memberitahuan kepada orang lain hanya diberi satu lisan saja, satu mulud saja. Ini semua menjadi ibrah yang amat nyata.
Semoga kita meraih merasakan keberkahan berita. Aamiin ya Rabb.
Tags:
Muhasabah Harian