Keberkahan Tidur

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 28 Jumadil Akhir 1443

Keberkahan Tidur
Saudaraku, istirahat yang paling baik, kata pakar kesehatan adalah tidur. Dan tidur yang paling sempurna, dalam perspektif agama adalah tidur yang tidak bangun-bangun alias wafat. Nah bermaksud menyambung tema muhasabah kemarin yang telah mengingatkan tentang keberkahan istirahat, maka tema muhasabah hari ini akan mengulang kaji tentang keberkahan tidur.

Perihal tidur, dalam Islam di antaranya dinyatakan dalam al-Qur'an, Allah berfirman yang artinya Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia mengembalikan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. (Qs. Al-Zumar 42)

Karena nyawa itu urusan Allah, maka saat tidur sejatinya kita "mati", karena tidak ada jaminan setelah dini hari nyawa kita dikembalikan lagi sehingga kita bisa bangun kembali. Maka ketika masih bisa bangun, kitapun bersyukur pada Allah yang telah "mematikan" sementara dalam tidur kita.

Dan di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.(Qs. Al-Rum 23)

Berdasarkan normativitas yang terjemahnya tertera di atas di antaranya dspat dipahami bahwa tidur di waktu malam dan siang hari untuk mencari sebagian dari karunia Allah menjadi di antara tanda (ayat) bagi orang yang mendengarkan seharusnya mengantarkan rasa syukur kepada Allah. Jadi mafhum mukhalafahnya bagi yang tidak bisa mensyukuri malam untuk tidur dan siang untuk beramal, maka dinilai tuli.

Adapun waktu tetbaik untuk tidur dinyatakan dalam sebuah riwayat
Dari ‘Aisyah ra, “Nabi saw biasa tidur. pada awal malam dan bangun pada akhir malam, lalu shalat.” (HR. Bukhari Muslim). Dan di riwayat lain dari Abu Barzah ra, bahwasannya Rasulullah saw membenci tidur sebelum shalat isya dan mengobrol setelahnya.” (Hr. Bukhari Muslim).

Tuntunan lain untuk kesempurnaan tidur dengan keberkahannya, Rasulullah memberikan tuntunan praktis dalam sebuah riwayat Jika engkau hendak menuju tempat tidurmu (untuk tidur), maka berwudhulah seperti engkau berwudhu untuk shalat, kemudian berbaringlahlah di rusukmu (bagian tubuhmu) sebelah kanan” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Inilah indahnya Islam, tidur dan istirahat karena merupakan space yang sangat penting dalam mengembalikan kebugaran jasmani, kejernihan akal pikiran dan ketentraman hati, sehingga diatur sedemikian rupa agar maksud dan tujuannya tercapai. Dan inilah secercah keberkahan tidur yang dapat dirasakan oleh setiap hambaNya.

Coba kita mengalkusi berapa durasi tidur dan istirahat berbanding dengan aktivitas belajar atau mengajar atau bekerja dan beribadah mahdhah seperti shalat, berdzikir, tilawah al-Qur'an atau lainnya. Seandainya durasi tidur dan istirahat itu delapan jam sehari semalam, maka sudah sepertiga umur kita gunakan untuk tidur dan istirahat. Durasi tidur dan istirahat delapan jam itu pada praktiknya dapat dimanage mulai dari bakda Isya misalnya di Aceh sekitar pukul 21.00 sampai pukul 04.00 atau satu setengah jam sebelum subuh berarti sudah tujuh jam dan satu jam lagi dimanage pada siang hari. Istirahat tentu tidak harus dilakukan tidur tetapi juga aktivitas santai lainnya.

Dengan kalkulasi seperti itu, berarti seandainya kita nanti dianugrahi oleh Allah hidup di dunia ini selama seribu bulan (setara sekitar 84 tahun, karena memperoleh keberkahan lailatul qadar), maka 28 tahun dari usia ini kita gunakan untuk tidur. Ya memang belum menyamai tidurnya para ashabul kahfi sih, tapi sudah sepertiga dari usia hidup di dunia.

Untungnya Islam memberi tuntunan agar kita berwudhu saat mau beranjak tidur dan berdoa bismikallahumma ahya wa amuut dan saat bangun di dini hari membaca alhamdulillahilladzi ahyana bakdama amatana wa ilaihi nusur, sehingga tidur  - dan tentu aktivitas seharian lainnya - bernilai ibadah. Nah, ini keberkahan yang nyata, bukan? Inilah tidur yang kebaikannya bertambah-tambah; fisik menjadi bugar kembali, akal menjadi fresh lagi dan hati menjadi lebih bersyukur;  pahala menjadi tak tertaksir. Aamiin ya Rabb.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama