Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 27Jumadil Akhir 1443
Keberkahan Beristirahat
Saudaraku, dalam beraktivitas untuk memenuhi hajat hidup, terutama dalam hal penyediaan dan ketercukupan pangan, sandang dan papan manusia lazimnya bekerja seperti yang telah diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu, tentu diperlukan istirahat. Nah inilah yang melatari tema muhasabah hari ini sehingga dikemas di bawah judul keberkahan istirahat.
Ya istirahat di sela-sela aktivitas kerja atau setelah seharian beraktivitas yang bermakna merupakan keniscayaan. Dalam durasi harian, karena kita sebagai makhluk siang hari lazimnya bekerjapun di siang hari, maka istirahatnya bisa dimanfaatkan ketika waktu-waktu shalat yakni dhuhur dan asar. Malah sejatinya, dalam kaifiat shalat iti sendiri kita sedang "beristirahat", relaksasi sekaligus refleksi.
Allah mensyariatkan shalat bagi umat manusia agar meraih kemenangan seperti lafal seruan shalat dalam adzan "haya 'alalfalah" (mari meraih kemenangan) dan keberuntungan sebagaimana firmanNya yang artinya. ''Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, [yaitu] orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.'' (QS. Al-Mukminun 1-2)
Di antara keuntungan langsung yang bisa dirasakan sekarang di dunia ini ketika shalat adalah menjadikannya sebagai media istirahat sebagaimana Rasulullah saw bersabda: Yaa Bilal, arihna bi shalaah, wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat (Hr. Daud dan Ahmad).
Secara alamiah, sekitar waktu dhuhur di tengah hari memang terjadi perubahan suasana yang kita rasakan, terutama hari menjadi panas terik "siangnya bolong" daripada sebelumnya dan juga waktu asar yang berubah menjadi meredup. Nah, setelah beraktivitas sedari pagi, maka sekitar dhuhur kemudian diri kita menghajatkan istirahat untuk penyegaran kembali. Dan inilah di antara keberkahan istirahat yang disediakan Allah bagi hamba-hamba-Nya.
Ya dengan beristirahat, terutama saat kita shalat berarti kita sedang melakukan relaksasi dan refleksi sehingga hati kita menjadi tentram, jiwa kembali segar, akal pikiran menjadi fresh, badan kita kembali segar bugar.
Ketika kita larut dalam kekusyukan "sowan" menghadap ke haribaan Ilahi Rabby, maka hati menjadi tentram, tenang, dan damai bersama (ridha)Nya. Di saat serangkaian bacaan yang kita lafalkan baik sir maupun jahar, maka akal bertafakkur ke mana-mana memikir-mikirkan keluasan makna bacaan relevan dengan gerakan dan posisinya. Di saat anggota badan kita bergerak seirama mengikuti kaifiat shalat yang syar'i dengan ragam posisi seperti berdiri, bersedekap, takbir mengayunkan tangan, rukuk secara seimbang, iktidal tegap tumakninah, sujud merapakat tujuh anggota tubuh, duduk dengan posisi yang menyehatkan ujung telapak kaki ditekuk dan salam menoleh ke kanan ke kiri, maka sejatinya kita sudah melakukan refleksi sehingga memengaruhi lancarnya sirkulasi darah dan kebugaran tubuh kembali.
Usai shalat dhuhur - bila tidak berpuasa sunah - kitapun makan siang sekedarnya untuk menambah fitalitas fisik sehingga bisa meneruskan aktivitas kesehariannya dengan maksimal. Bila sedang berpuasa, maka istirahat dapat dilakukan dengan tidur secara proporsional menyesuaikan tuntutan regulasi dan kelaziman yang terjaga.
Dan keberkahan istirahat semakin mendapati momentumnya dan dapat dijemput dirasakan pada saat malam tiba. Maka secara normatif teologis, banyak sekali ayat dan riwayat yang menuntun kita umat Islam untuk bijak dalam menjalani hidup ini; kerja boleh tapi istirahat perlu. Di antaranya Allah berfirman yang artinya Dan adalah karena rahmat-Nya, Dia menjadikan malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam hari dan agar kamu menemukan sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya. (Qs. Al-Qashash 73)
Dan Dialah yang menjadikan malam untukmu (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangkit berusaha. (Qs. Al-Furqan 47)
Setelah bekerja seharian, ketika siang berganti menjadi malam, maka saat-saat inilah kita bisa memaksimalkan istirahat. Setelah magrib dan isya serta berbagi dengan keluarga sekitar pukul 22.00 kita sudah bisa beranjak tidur untuk menjemput karuniaNya yang tersedia; mengembalikan ketentraman hati, kejernihan akal pikiran dan kebugaran tubuh. Dengan segala karunia Allah yang kita terima, dini hari atau setidaknya sekitar satu setengah sebelum subuh kita sudah bangun untuk memulai aktivitas bermakna kembali. Ikrarkan bahwa ya Allah! ... hari lebih berkah dan memberkahi! Lebih sukses dan mensukseskan! Lebih bahagia dan membahagiakan!
Secara subtantif, istirahat yang sesungguhnya adalah saat kita di akhirat. Setelah bekerja seharian (baca berjihad, berijtihad, bermujahadah, beramal shalih selama hidupnya di dunia), maka ketika wafat saat dipanggil Allah dan kitapun berpulang menghadap ke haribaanNya, kita akan diantarkan oleh keluarga dan saudara sesamanya ke peristirahatan yang terakhir, ke alam kubur. Di alam barzah inilah kita beristirahat dengan sesempurna nyamannya sembari menunggu dibangunkan kembali oleh Allah untuk menuju surgaNya dan menikmati keabadian nan membagia.
Oleh karena itu, kini selagi masih dikaruniai kesempatan hidup di dunia ini, mari kita segera bangun untuk menjemput karunia Allah ta'ala, guna menyucikan hati kita, mengasah akal budi kita, menyehatkan fisik kita. Pastikan segera bersuci, mengambil air sembahyang; mengenakan pakaian indah yang kita miliki untuk "sowan" menghadap pada Allah melalui shalat malam, dzikir, tilawah Qur'an, bermunajat kepada Allah memohon ampunan dan berharap agar Allah memberi hidayah kepada kita sehingga hidup ini menjadi berkah, indah membahagiakan baik diri sendiri, keluarga maupun sesamanya di bawah ridha Allah ta'ala.
Aamiin ya Rabb
Tags:
Muhasabah Harian