Muhasabah 20 Jumadil Akhir 1443
Keberkahan Senyuman
Saudaraku, sebagaimana telah disampaikan dalam muhasabah yang baru lalu bahwa sapaan yang syar'i itu diatur sedemikian rupa dalam Islam. Di antara dengan melafalkan salam "assalamu 'alaikum (warahmatullahi wa barakatuh)". Dan akan lebih indah karena mendatangkan dan menambah keberkahan berikutnya ketika diiringi dan atau dibarengi dengan senyum tersungging. Inilah yang melatari tema muhasabah hari ini sehingga diracik di bawah judul keberkahan senyuman.
Senyuman yang tulus dapat menjadi tanda kebahagiaan atau keceriaan atau kesenangan seseorang. Saat bersua satu sama lain saling menyapa memberi dan menjawab salam seraya mengiringinya dengan senyum ramah antar keduanya, maka hal ini cukup sebagai penanda bahagia dan membahagiakan satu sama lainnya. Jadi untuk bahagia dan membahagiakan itu mudah dan murah, bukan? Hayo, mulai sekarang bila bersua dengan saudara atau saat berinteraksi sosial juga ketika berinteraksi edukatif kita membiasakan senyum yang tulus agar lebih bahagia dan membahagiakan.
Ini tidak! Masak bawaannya jutek hae, mukanya mrengut saja, peteng raine (gelap wajahnya), sehingga kita-kita yang melihatpun, kasihan jadinya. Kalau yang jutek, mrengut, atau raine peteng seperti itu adalah atasan kita, maka kita sebagai staff nyapun takut rasanya, sehingga berdoa jangan sampai bertemu dengannya atau dipanggil menghadapnya. Kalau itu terdapat pada "oknum" guru atau dosen, wah maka kita sebagai muridnyapun menjadi tegang saat mengikuti pelajarannya, akhirnya bosan rasanya. Kalau itu pedagang atau pramuniaga, maka pelanggan yang tadinya mau membeli dagangannya menjadi urung. Kalau sudah terlanjur membeli, maka esok lusa tak akan pernah kembali membeli lagi, kapok pokoknya. Nah, di sini dan semua ini sudah cukup memberi ibrah bahwa betapa pentingnya senyuman ramah itu. Mengapa? Ya, karena kita ini manusia. Karena kita punya hati. Tentu berbeda dengan robot.
Dengan demikian di antara keberkahan senyuman ikhlas adalah melahirkan rasa bahagia sekaligus membahagiakan sesamanya. Kalau yang murah dan mudah hanya dengan senyuman ini saja tidak kuasa dilakukan, maka alangkah ruginya pertemanan atau persaudaraan atau pertemuan yang ada. Apalagi senyuman ikhlas itu juga bernilai sedekah. Dan sedekah itu ibadah. Ibadah itu kebajikan. Kebajikan itu jalan menuju surga (baca rasa bahagia). Jadi senyuman itu melahiran rasa bahagia.
Rasulullah saw bersabda yang artinya "Senyummu untuk saudaramu adalah sedekah. Usahamu untuk mengajak kepada kebaikan dan melarang keburukan adalah sedekah. Usahamu untuk menuntun seseorang yang tersesat menuju jalan yang lebih baik adalah sedekah. Memberikan yang kita miliki adalah sedekah. Menyingkirkan duri (segala gangguan) dari jalan adalah sedekah. Pandanganmu yang peduli kepada mereka yang buruk rupa adalah sedekah. Sedekah yang paling tinggi nilainya adalah nafkah yang diberikan suami kepada istrinya." (HR. Tirmidzi)
Keberkahan berikutnya, senyuman ikhlas juga berpengaruh positif terhadap interaksi antarsesama, baik secara sosial, ekonomi, edukasi, maupun politik. Dalam ranah sosiologis, keberkahan dari senyuman ikhlas melahirkan keakraban, dan menandakan keharmonisan hubungan antar sesama.
Dalam dunia marketing, keberkahan dari pelayanan yang ramah di antaranya dengan senyuman ikhlas dari penjual, pramusaji, recepsionis melahirkan kesan positif, dapat menarik simpati dan melipatgandakan pelanggan (customer).
Dalam dunia pendidikan, keberkahan pendidikan yang menyenangkan di antaranya dengan mengaktifkan otak kanan yang tidak luput dari senyuman ikhlas, yang dengannya dapat melahirkan interaksi efukatif yang efektif dan efisien. Mengapa kenangan saat belajar di PIAUD atau RA/TK yang sudah berlalu bertahun-tahun lamanya masih melekat pada banyak orang. Di antaranya karena pembelajarannya dikemas menyenangkan, belajar melalui permainan sehingga jauh dari sikap yang membosankan.
Begitu juga keberkahan senyuman dalam dunia muamalah lainnya. Bahkan saat seseorang wafatnyapun, ketika tersenyum sudah sangat membahagiakan.
Allahu a'lam
Tags:
Muhasabah Harian