Muhasabah Harian ke-2385. Tahun ke-7, Ayyamul Bidh ke-2, 14 Jumadil Akhir 1443
Keberkahan Sandang
Saudaraku, di samping pangan dan papan, kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh setiap orang adalah sandang(an). Ternyata, hanya dengan sandang(an) atau berbusana atau berpakaian saja, manusia menjadi etik dan estetik; menjadi semakin terpuji dan indah menawan hati. Etikanya, memang, kepolosan atau kemolekan tubuh (aurat) tidak boleh dibuka, terbuka, apalagi diumbar dipertontonkan.
Islam menuntun kita umatnya hatta selagi mandi di kamar mandi dan sendiri sekalipun sebaiknya tetap mengenakan busana meski hanya untuk basahan, dan saat berhubungan intim antara suami dan istri juga dianjurkan tetap mengenakan lapik atau kain penutup. Beginilah etika dan estetikanya Islam dan orang-orang yang taat memeluknya. Oleh karenanya tema muhasabah hari ini, kita akan mengulangkaji tentang keberkahan sandang(an)
Sandang dimaksudkan sebagai bahan yang dengannya dapat dibuat busana atau pakaian apa saja yang dihajadkan oleh tubuh manusia guna melindungi diri dari sengatan matahari atau dinginnya udara ekstrem, melindungi dari debu yang beterbangan dan dari gangguan binatang atau orang-orang usil yang jelalatan dan jahat.
Untuk menjemput keberkahan dalam berbusana atau berpakaian, kita hendaknya senantiasa memedomani tuntunan Islam. Tentang sandang atau busana atau pakaian, Islam telah mengatur sedemikian rupa, sehingga kita tinggal menaati aturannya saja, memenuhi karakteristik islaminya. Allah berpesan dalam al-Qur'an yang artinya, Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (Qs. Al-A’raf: 26). Dan di tempat lain, Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (Qs.Al A’raf 31.
Merujuk pada normativitas yang maknanya tertera di atas, di antaranya dapat dipahami bahwa pakaian yang dikenakan mestinya bersesuaian dengan pakaian takwa yang melekat bersemayam di hati seorang mukmin yang mewujud dalam keluhuran akhlaknya. Pakaian hendaknya dikenakan untuk menutupi aurat dan untuk keindahan penampilan. Artinya dengan menutup aurat itu berarti telah memenuhi standar etika sedangkan keindahan penampilan itu untuk memenuhi standar estetika. Antara etika dan estetika merupakan satu kesatuan sistemik berjalin berkelindan sehingga tidak boleh diabaikan salah satunya, apalagi keduanya.
Indahnya Islam itu ya!, coba tuntutan mengenaikan pakaian yang beretika dan berestetika itu justru saat hendak shalat atau saat hendak ke masjid saat hendak bermunajat pada Allah ta'ala, bukan saat hendak ke tempat kerja, bukan saat mau pelantikan, bukan saat mau pesta atau kondangan, bukan saat mau plesiran bertamasya. Meskipun ke semua maksud dan tujuan ini, kita juga dianjurkan mengenakan busana yang beretika dan berestetika, tetapi saat hendak ke masjid atau mau shalat mestinya diprioritaskan. Jangan dibalik dan jangan gagal paham?! ke kantor, ke tempat kerja, saat pelantikan, saat ke pesta juga kondangan kita mengenakan busana yang bagus-bagus, rapi, indah menawan dan masih ditambahi dengan semprotan parfum wewangian lagi, eh giliran mau shalat hendak menghadap pada Allah atau ke masjid malah seadanya saje, yang pakai singletlah, yang celana puntunglah, yang bau sarung/mukenanya sudah apeklah, yang kusutlah, yang satu-satunyalah.
Sekali lagi, idealnya pakaian yang dikenakan oleh badan senantiasa terjalin berkelindan dengan kondisi pakaian ketakwaan di hatinya. Pakaian takwa di antaranya dapat memenuhi beberapa kriteria. Pertama, pakaiannya dapat menutupi aurat secara sempurna, tidak ketat, tidak transparan dan tidak berlebih-lebihan. Kedua, pakaiannya dapat melindungi diri dari bahaya eksternal baik dari alam seperti sengatan panas, udara dingin, desiran debu maupun dari pandangan mata liar lawan jenisnya. Ketiga, pakaiannya dapat meneguhkan identitas keislaman seseorang yang dilandasi oleh keimanannya. Dengan demikian, di antara karakteristik orang-orang Islam dapat diperhatikan pada pakaian lahiriyahnya dan perilakunya.
Pakaian takwa seperti yang disyariatkan oleh Allah atas manusia agar manusia dapat meraih ketidhaanNya dan melahiran peradaban yang adi luhung. Maka secara lahiriyah orang-orang yang mengenakan pakaian islami akan terlindungi, dan secara batiniyah akan terpelihara.
Oleh karenanya hendaknya kita dapat istikamah mengenakan pakaian takwa dalam kehidupan sehari-hari. Memilih dan mengenakan pakaian yang estetik sekaligus etis, seperti terlihat pada kesesuaiannya besar kecilnya, kesesuaian warna dan modelnya, kebersahajaannya, kebersihannya, kesuciannya, kerapiannya, keterpenuhannya dalam menutupi aurat secara sempurna.
Di atas segalanya, kita berpakaian harus meniatkan hanya untuk Allah untuk ibadah, mengenakannya dimulai dari sebelah kanan dan saat melepaskannya dari sebelah kiri. Termasuk mensyukuri pakaian baru dengan pertama sekali dikenakan untuk shalat baik shalat fardhu termasuk ibadah jumatan maupun shalat sunah, seperti shalat lail, shalat dhuha, shalat hari raya. Kelima, memelihara pakaian (baik pakaian dalam maupun luar, pakaian bagian bawah maupun atas), dengan baik seperti dicuci segera setelah dikenakan, diseterika, disimpan rapi, dan dikenakan lagi pada saat tepatnya. Semoga keberkahan sadang dapat kita raih-rasakan. Aamiin ya Rabb.
Tags:
Muhasabah Harian