Keberkahan Papan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Ayyamul Bidh ke-3, 15 Jumadil Akhir 1443

Keberkahan Papan
Saudaraku, di samping sandang pangan, kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh setiap orang adalah papan. Oleh karenanya terpenuhinya pangan, sandang dan papan menjadi di antara karunia Allah yang mesti disyukuri. Papan di sini maksudnya kediaman atau rumah atau tempat tinggal. Senomaden apapun dan ke manapun, papan atau tempat tinggal tetap mutlak diperlukan oleh manusia untuk berlindung dari panas dan hujan, juga dari serangan binatang atau lainnya.

Saking pentingnya rumah atau kediaman, orang kemudian berlomba-lomba membeli atau membangun, memperluas, mempertinggi tingkatan dan memperindahnya. Bahkan dalam masyarakat hedonik dan atau untuk maksud tertentu, keberadaan rumah atau kediaman bisa menjadi identitas, bahkan untuk menunjukkan status sosial seseorang. Lihatlah di sekitar kita bagaimana kediaman pejabat dan rakyat; kediaman para konglomerat dan orang melarat, dan seterusnya. Orang-orang yang tidak memiliki rumah atau tidak menempati kediaman tertentu dianggap rugi atau tuna, yakni tuna wisma.

Nah, bagaimana Islam memberi tuntunan tentang papan panggonan atau rumah kediaman agar berkah memberkahi? Kita simak riwayat betikut. Pernah suatu waktu Ali bin Abi Thalib merasa terheran-heran saat mengunjungi sahabatnya, A'la bin Ziyad al-Haritsi karena rumah kediamannya amat indah nan luas, lalu Ali berkata; "Apa sejatinya yang akan anda lakukan dengan rumah seluas ini di dunia? Bukankah anda lebih memerlukannya saat di akhirat nanti? Namun, jika menginginkan juga, anda dapat meraih kebahagiaan akhirat dengannya, yakni bila di dalamnya anda menjamu dan menghormati para tamu, berbuat baik kepada kaum kerabat (baca apalagi menjadi rumahnya anak-anak yatim), dan menampakkan kebenaran yang harus ditampakkan. Dengan begitu anda telah menjadikannya sarana baik guna mencapai kebahagiaan akhirat.

Ibrah nasihat Ali bin Abi Thalib di atas di antaranya adalah tuntunan menikmati kesenangan duniawi dengan niat dan sikap yang benar agar meraih kemuliaan dan keberkahan. Ya keberkahan memiliki rumah atau keberkahan menempati kediaman yang sekarang kita jalani. 

Barangkali menjadi cita-cita atau setidaknya impian umum bahwa di antara kesenangan duniawi adalah memiliki rumah besar, indah nan luas dan aman nyaman. Di sana terhampar halaman yang luas dengan aneka tanaman hias yang asri dan buah-buahan yang menggugah selera, di tengahnya ada kolam yang jernih airnya dan seluruh lahannya dikelilingi pagar pengaman yang kuat dan rapat, bahkan ada yang berduri.  Untuk membuka pintu gerbang dan garasinya saja sudah tidak manual lagi tetapi sudah menggunakan remote control.

Rumah atau kediaman memang merupakan kebutuhan dasar bagi setiap orang di samping sandang dan pangan, sehingga kecenderungan untuk memilikinya menjadi niscaya. Bahkan dalam praktiknya, rumah kediaman menjadi tempat utama dalam siklus rutinitas aktivitas setiap orang, apalagi saat diberlakukannya WFH (work for home). Nah di sinilah, bisa dipahami bila keinginan membangun dan memiliki rumah syukur-syukur yang luas nan indah sehingga dapat hidup bersama istri/suami, anak dan keluarganya tidak bisa disembunyikan. Beragam cara ditempuh sehingga idealitas memiliki rumah tercapai.

Secara lahiriyah seperti bentuk, kondisi, kekokohan, kerapian, kebersihan, dan keindahan harus diupayakan karena sebagiannya dapat mencerminkan gambaran tabiat siempunya dan ahli baitnya. Inilah mengapa dahulu sejak awal mula nenek moyang manusia, sebelum diturunkan ke bumi, Adam dan Hawa disekenariokan oleh Allah singgah di surga yang penuh kenikmatan, keindahan, keasrian, kerapian, keteraturan, kebersihan, kesejahteraan dan ragam kemakmuran lainnya.

Idealitas surga seperti gambaran di atas tentu bukan hanya dunia cita-cita semata, tetapi harus menjadi keseriusan setiap diri kita untuk merealisasikannya sejak kita hidup di sini, di dunia ini dan mulai dari rumah kita, (baca juga desa negeri kita, kantor atau tempat kerja kita). Kita selalu berdoa dan berupaya menjadikan surga di rumah kita, (baca juga desa negeri kita, kantor atau tempat kerja kita), baik secara lahiriyah apalagi secara maknawiyah bagi seluruh ahli baitnya.

Hubungan antar satu dengan lainnya, antara istri dan suami, orangtua dan putra putrinya, berlangsung secara indah dan harmonis saling bersinergi menggapai sejahtera dan bahagia. Inilah baitiy jannatiy rumahku surgaku, desaku surgaku, negeriku surgaku, kantorku surgaku atau tempat kerja kita surga kita semua... dan seterusnya

Dengan demikian, rumahku surgaku di samping bermakna tempat tetapi juga nemiliki makna yang prinsip adalah kondisi. Bila yang pertama berkonotasi fisik lahiriyah, yaitu tempat tinggal, kediaman yang harus ditata, dipelihara dan diperindah. Maka yang kedua rumahku surgaku merupakan kondisi atai keadaan yang aman damai damai sejahtera bahagia dan membahagiakan.

Bentuk dan ukuran rumah tentulah relatif, ada yang minimalis, ada yang sedang-sedang tetapi juga banyak rumah yang besar-besar. Bentuk dan ukuran seberapapun tentu harus ditata, dijaga kebersihannya, dipelihara dan diperindah serata bersahaja, karena semua ini tentu bisa berpengaruh terhadap kepribadian ahli baitnya dan kenyamanan tinggal di dalamnya. 

Namun demikian tetap saja yang lebih prinsip adalah kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan orang-orang yang menempatinya. Inilah di antara keberkahan yang mesti diusahakan. Realitas selama ini menjadi bukti bahwa ternyata banyak orang merasa damai sejahtera dan bahagia meski rumah kediamannya sederhana, sebaliknya juga ada di antara manusia yang tidak merasakannya meski tinggal di rumah gedongan yang serba wah. Jadi ukuran damai sejahtera dan bahagia bukanlah terletak pada rumah tempat tinggalnya tetapi pada kondisi dan keadaan batiniah ahli bait atau orang-orang yang menempatinya.

Bila orang-orang yang menempati suatu rumah kondisi batiniahnya indah berakhlak mulia, maka memantul pada keindahan perilaku kesehariaannya. Di antaranya akan memperindah tampilan lahiriyah kediamannya.
Dengan demikian keindahan dan keleluasaan rumah bukan saja fisik lahiriah tetapi substantif batiniah. Makanya dalam nasihat Ali bin Abi Thalib di atas, rumah yang indah dan luas semestinya dapat dijadikan sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan di akhirat dengan memanfaatkannya untuk kepentingan umum, seperti menghormati atau melayani tamu, memuliakan kaum kerabat dan anak yatim, dan memanfaatkannya sebagai institusi dakwah dan pendidikan sehingga dapat mewariskan nilai yang seharusnya diwariskan ke antar generasi.

Ketika memiliki rumah yang luas nan indah baik secara lahiriah maupun batiniah, apalagi dimanfaatkan untuk layanan sosial, dakwah dan pendidikan, maka sudah sepantasnya kita mensyukurinya, baik di hati, lisan maupun perbuatan konkret. Hanya dengan cara mensyukuri, rumah menjadi baity jannati. Hanya dengan cara mensyukuri, rumah menjadi berkah memberkahi. Aamiin ya Rabb

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama