Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 24 Jumadil Akhir 1443
Keberkahan (Ber)silaturahim
Saudaraku, pada umumnya setiap orang dilahirkan dan hidup di lingkungan keluarga lalu lingkungan sosial yang mengitarinya. Di sinilah keterikatan darah melahirkan tatanan silaturahim, dan keterikatan daerah melahirkan tatanan silaturahmi antarsesama. Dengan demikian relasi intra anggota keluarga mewujud dalam hubungan sedarah sedaging seketurunan, sehingga kita mengenal istilah silaturahim, hubungan rahim. Dan relasi antarsesama manusia mewujud dalam hubungan persaudaraan seiman dan sebangsa setanah air, sehingga kita mengenal silaturahmi, hubungan kasih sayang.
Dalam praktiknya yang dinamis terutama pada ranah sosiokultural, seringkali memelihara kelestarian jalinan silaturahim dan juga silaturahmi lebih sulit ketimbang merajutnya. Ternyata merawat lebih sulit daripada mengusahakannya.
Bila silaturahim, jalinan kekerabatan dan persaudaraan tercipta secara otomatis karena sedarah sedaging seketurunan, maka silaturahmi antarsesama muslim seakidah, setanah air, sebangsa, sekantor, segampong dapat tercipta dengan ragam relasi yang dibangun dan interaksi yang dilakukan oleh segenap para pihak.
Sejatinya silaturahim maupun silaturahmi merupakan anugrah Allah atas setiap hamba-hambaNya. Hubungan darah dan hubungan sedaerah sebangsa seakidah merupakan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah atas semua makhluk dan hambaNya yang mesti diimani dan diusahakan kelestariannya. Hal ini sekaligus untuk menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang hanya bisa hidup dengan bersama lainnya, tetapi untuk mati bisa sendiri-sendiri.
Jalinan sedarah yang telah digariskan oleh Allah, dan jalinan persaudaraan antar sesama manusia yang telah terajud dengan baik mestinya terus dirawat agar lestari, sehingga bertambah-tambah keberkahannya. Jalinan silaturahim karena memang sudah erat dan dekat dan tentu masing-masing anggota keluarga sudah saling mengenal, maka upaya saling memahami, saling membantu dan saling memberi saling menerima antaranggota keluarga menjadi sangat penting. Di sinilah pentingnya anggota keluarga yang memiliki kelebihan (harta atau ilmu) dapat berbagi kepada saudara lainnya. Dan anggota keluarga yang memiliki kekurangan mestinya tahu diri dengan terus berusaha dan berdoa agar tidak menjadi beban keluarga.
Adapun jalinan silaturahmi dengan sesama saudara seiman setanah air dan seterusnya tentu dimulai dari upaya saling mengenali, kemudian baru saling memahami. Di sinilah pentingnya membangun ukhuwah antarsesama, baik ukhuwah wathaniyah, ukhuwah islamiyah maupun ukhuwah insaniyah. Dari kebersatuan inilah mestinya terbangun empati, simpati dan solidaritas antarsesama.
Di antara ikhtiar untuk memelihara jalinan silaturahim dan silaturahmi dengan saling mengunjungi, syukur-syukur dengan saling berbagi hadiah, atau membawakan oleh-oleh ala kadar untuk tuan rumah. Nasib yang berbeda-beda, tempat tinggal yang berjauhan, kesibukan yang tidak terelakkan dan faktor lainnya menyebabkan intensitas pertemuannyapun berkurang atau bahkan sudah sangat jarang, meski saudara sedarah, maka dengan sesekali berkunjung atau dikunjungi menjadi moment yang membahagiakan. Untuk masa kini, meskipun tidak terwakili sepenuhnya, silaturahim dapat terjalin via telpon, sms, facebook, twiters hp dan sebangainya.
Mengapa silaturahim begitu dipentingkan dalam Islam? Di antaranya menyediakan banyak keberkahan sebagai karunia Allah. Di antaranya dinyatakan dalam sebuah riwayat. Dari Ibnu Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa ingin lapangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturahim." (HR. Bukhari No.5986)
Dengan silaturahim yang dilakukan akan memengaruhi semakin kuatnya keterikatan kekerabatan dan persaudaraan, kukuhnya ukhuwah, mempermudah penyelesaian masalah kehidupan. Dengan segala kebaikan ini memungkinkan menambah kemudahan menjalani hidup, yang ujung-ujungnya berkemungkinan hidup lebih lama sehingga panjang umurnya. Di samping itu jalinan silaturahim yang sudah terajut, apalagi menjangkau melintasi darah dan daerah, maka eksistensi diri bisa melampaui usianya. Meskipun sudah wafat sekalipun, tapi nama dan jasa baiknya selalu diingat, disebut dan disuriteladankan sehingga "hidup"nya lama.
Di samping itu dengan silaturahim juga menjadi di antara tanda orang beriman. Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw beliau bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhar No.6138)
Muara keberkahan bagi orang-orang yang bersilaturahim adalah surga. Rasulullah saw bersabda: Wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali persaudaraan, shalatlah di malam hari ketika manusia terlelap tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat." (HR Ibnu Majah).
Keberkahan silaturahim berupa masuk surga dengan selamat bermakna bahwa orang-orang yang bersilaturahim akan masuk surga tanpa halangan, tidak sulit, dan tidak mengalami siksa neraka terlebih dahulu.
Aamiin ya Rabb
Tags:
Muhasabah Harian