Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 23 Jumadil Akhir 1443
Keberkahan Berdakwah
Saudaraku, di antara misi perserikatan yang sudah diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu adalah mengajak kepada kebaikan sekaligus mencegah kemungkaran. Dalam bahasa agama dikenal dengan dakwah beramar makruf nahy munkar. Apalagi realitas yang ada sangat menghajatkan aktivitas dakwah ini. Inilah yang melatari tema muhasabah hari ini sehingga diracik dalam judul keberkahan berdakwah.
Secara teologis normatif terdapat banyak sekali tuntutan agar kita berdakwah. Di antaranya Allah berfirman yang artinya Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran 104).
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Nahl 125)
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?””(QS. Fushshilat 33).
Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR. Turmudzi).
Inilah indahnya Islam yang senantiasa menuntun umatnya untuk menyeru manusia kepada kebebaran, mengajak kepada kebaikan, tidak mengejek siapapun. Mengajakpun dengan sangat bijak, bertahap, menggunakan cara-cara yang amat persuasif, manusiawi dan tidak pernah memaksa.
Di samping mengajak melakukan kebaikan, Islam juga menuntun kita untuk menyeru agar manusia tidak melakukan kemungkaran dan segala yang buruk. Dari Abu Sa’id Al-Khudry ra berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda:“Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)
Dalam strateginya, di samping menyeru dengan kata-kata (da'wah bi al-lisan dan da'wah bi al-kitabah), kita juga dituntun untuk memberi contoh teladan kebaikan (dakwah bi al-hal) seperti yang kita sampaikan melalui ujaran.
Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Qs. Al-Shaff 3-4)
Dari Jarir bin Abdullah bahwa Nabi bersabda, Siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, lalu perbuatan itu setelahnya dicontoh (orang lain), maka akan dicatat untuknya pahala seperti pahala orang yang mencontohnya tanpa dikurangi sedikitpun pahala mereka yang mencontohnya. Dan barangsiapa mencontohkan perbuatan buruk, lalu perbuatan itu dilakukan oleh orang lain, maka akan ditulis baginya dosa seperti dosa orang yang menirunya tanpa mengurangi mereka yang menirunya. (HR. Muslim).
Dan masih banyak lagi landasan teologis normatif yang mendorong kegiatan dakwah. Nah dengan memperhatikan ragam ayat dan riwayat di atas, di antara keberkahan berdakwah yang secara estafet terpelihara dalam masyarakat muslim oleh antar generasi adalah sampainya Islam dari generasi ke generasi hingga kini, bahkan sampai akhir zaman nanti.
Dengan aktivitas dakwah, Islam tersiar ke seluruh penjuru dunia. Islam sampai ke negeri ini. Islam membawa hidayah, meluruskan kembali deskrepansi berakidah seperti animisme, dinamisme, atau aliran kepercayaan tertentu yang tidak menuhankan Allah. Aktivitas dakwah ini berlangsung terus hingga kini bahkan semakin berkembang dan disokong oleh segala pihak, sehingga kita bisa mengarungi hidup dalam ridha Allah ta'ala.
Jadi keberkahan aktivitas dakwah sangat dirasakan ketika kita selalu dalam keadaan Islam (berserah diri kepada Allah secara kaffah, seluruh kepribadian kita). Inilah karunia terbesar Allah yang dapat kita rasakan kenikmatannya. Semoga kita senantiasa dalam keadaan Islam hingga Allah memanggil kita ke haribaanNya. Aamiin. Allahu a'lam
Tags:
Muhasabah Harian