Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 26 Jumadil Akhir 1443
Keberkahan Bekerja
Saudaraku, untuk memenuhi hajat hidup, terutama dalam penyediaan dan ketercukupan pangan, sandang dan papan manusia lazimnya bekerja. Ya bekerja itu bisa bermacam-macam sesuai dengan keahlian, nasab dan nasib masing-masing, sehingga ada mata pencaharian bagi setiap orang.
Allah berfirman yang artinya Dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan (Qs. Al-Naba 11). Bukankah Kami juga telah menjadikan siang yang terang benderang sebagai waktu bagi kamu untuk mencari penghidupan? Siang yang terang memudahkan kamu untuk bekerja, baik di daratan maupun di lautan.
Oleh karena itu dalam Islam bekerja itu ibadah. Para nabi dan rasul juga bekerja. Dalam sebuah riwayat dinyatakan yang artinya: “Sesungguhnya Nabi Musa as. mempekerjakan dirinya sebagai buruh selama delapan tahun atau sepuluh tahun untuk menjaga kehormatan dirinya dan untuk mendapatkan makanan (halal) bagi perutnya.” (HR. Ibnu Majah)
Dalam sejarahnya, sejak belia jauh sebelum diangkat menjadi seorang nabi, Rasulullah Muhammad juga bekerja, mulanya membantu pamanda Abu Thalib, juga menggembala domba, menjaga amanah yang dipercayakan padanya dan berserikat berdagang bahkan ke manca negara. Oleh karena sast menjadi seorang Nabi, beliau bersabda “Tidak ada seseorang yang memakan satu makanan pun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya (bekerja) sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud as. memakan makanan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. Bukhari)
Dengan demikian secara normatif teologis, tuntutan bekerja menjadi menjadi keniscayaan dalam kehidupan. Ajaran inilah, kemudian pada praktiknya melahirkan etos kerja bagi orang-orang beriman. Orang-orang beriman bekerja, berfastabiqul khairat untuk melangsungkan hidupnya secara bermartabat di bawah ridha Allah ta'ala.
Karena bekerja itu ibadah, maka sejak mula sudah meniatkan untuk menggapai ridha Allah. Saat memulai menunaikan aktivitas dalam pekerjaan yang ditekuni diawali dengan basmalah (melafalkan bismillahirrahmanirrahim), bersemangat dan ikhlas saat bekerja, ketika selesai mensyukurinya dengan hamdalah melafalkan alhamdulillahi Rabbil 'alamin.
Kini dalam kehidupan praktis tuntutan bekerja mewujud dalam beragam pekerjaan; ada yang bercocok tanam di sawah ladang, lalu disebut petani; ada yang mencari ikan di laut lalu dikenal sebagai nelayan, ada yang berjualan atau membuka toko menyediakan beragam barang dan sembako lalu disebut sebagai pedagang; ada yang menyediakan tenaganya untuk membantu atau menyelesaikan apapun yang diminta lalu dikenal sebagai pekerja atau buruh, ada yang mengabdi pada negeri sehingga dikenal dengan abdi negara seperti guru/dosen, tentara, polisi, para pejabat negeri sejak keplor hingga presiden juga anggota dewan; ada yang menyediakan jasa transportasi seperti pilot, nnahkoda, masinis, sopir, pengojek; ada yang bangunan seperti tukang batu, tukang kayu, tukang listrik, tukang las... dan seterusnya.
Bidang, lapangan dan pekerjaan apapun yang halal dan baik, tentu membawa keberkahan bagi hidup dan kehidupan masing-masing diri. Apalagi pekerjaan itu bisa mendatangkan kemaslahatan bagi kehidupan, membantu sesamanya, meringankan beban, menawarkan kenyamanan, mempercepat mencapai tujuan yang dicita-citakan. Inilah di antara keberkahan bekerja sesuai dengan keahlian, dan bidang serta garisan tangan masing-masing orang.
Dengan ragam keahlian, lapangan pekerjaan dan nasib atau garisan tangan yang berbeda-beda, pada gilirannya justru bisa saling melengkapi kekurangan yang satu atas lainnya. Agaknya tidak ada satupun lapangan pekerjaan yang tidak ada "ahlinya". Begitulah kentuan Allah yang maha bijak.
Coba bayangkan ketika tidak ada para abdi negara, lalu siapa yang akan melayani kepentingan umum, siapa yang membuat peraturan ketertiban bermasyarakat dan siapa yang menjaganya? Nah, di sini kita mestinya memberi apresiasi kepada para abdi negeri yang senantiasa mengabdi.
Kita juga tidak bisa membayangkan betapa sulit hidup ini bila tidak ada pedagang, tidak ada toko yang buka, tidak ada rumah makan yang menyediakan makanan minuman (halal). Kini langka minyak gorengan saja sudah gaduh. Begitu juga saat langka bahan bakar minyak atau salah satu komoditi lainnya. Oleh karena itu mestinya setiap orang bersyukur pada Allah berterima kasih para pedagang yang karenanya kita bisa leluasa memilah memilih dan membeli segala kebutuhan yang kita hajatkan.
Apalagi kalau tidak ada buruh; tidak ada yang mau bekerja kasar, tidak ada yang mau mencuci kendaraan orang-orang kaya, tidak ada yang menyeterika baju orang-orang yang sibuk; tidak ada yang mau mengangkut mengangkat tanah timbun, tidak ada yang memberdayakan lahan atau sawah para tuan tanah, tidak ada yang mau menjaga dagangan melayani pembeli, ... tidak ada yang mau mengeejakan ini itu Coba apa jadinya? Niscaya hidup ini akan menjadi sulit, sempit, dan terhimpit. Nah, mestinya kita mengapresiasi para buruh, tidak berlaku semena-mena kepadanya apalagi memandang rendah martabatnya, syukur-syukur melebihkan upah dari yang lazim.
Apa artinya semua ini? Ya artinya pekerjaan halal apapun yang ditekuni oleh orang-orang beriman itu penting, tetapi lebih penting lagi akhlaq al-karimahnya terutama dalam menghargai dan menghormati sesamanya apapun pekerjaan halal yang ditekuni.
Dengan demikian, di samping bernilai ibadah, maka keberkahan bekerja bagi orang-orang beriman adalah terpenuhinya hajat hidupnya, dapat menunaikan segala kewajibannya dengan aman, nyaman dan bermartabat, baik sebagai hambaNya Allah maupun sebagai bagian dari peran sesama di dalam kehidupan sosialnya. Allahu a'lam
Tags:
Muhasabah Harian