Keberkahan Berserikat

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 23 Jumadil Akhir 1443

Keberkahan Berserikat
Saudaraku, acapkali pertemuan, saling sapa, lalu saling kenal, saling berta'aruf antar sesama melahirkan interaksi dan relasi yang lebih serius, baik lamanya maupun intensitasnya. Dari interaksi dan relasi ini di antaranya dapat melahirkan perserikatan tertentu atau kebersamaan untuk meraih tujuan bersama. Nah inilah yang melatari tema muhasabah hari ini, sehingga dikemas di bawah judul keberkahan berserikat.

Dalam KBBI, berserikat bisa merujuk pada makna persekutuan atau perkongsian antara seseorang dan sesamanya untuk bersama-sama mewujudkan tujuan yang digadang-gadang bersama.

Dalam praktik yang lazim, berserikat dilakukan oleh orang-orang beriman dalam ranah muamalah, seperti dalam usaha peniagaan, organisasi masyarakat dan politik. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah mengabarkan bahwa Allah bersama orang-orang yang berserikat dalam kebaikan, termasuk dalam bisnis, selama pihak yang bersetikat itu tidak saling berkhianat. Hadis riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ : أَنَا ثَالِثٌ الشَرِيكَينِ مَالَم يَخُن أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، فَإِذَاخَانَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ خَرَجتُ مِن بَينِهِمَا

“Allah swt. berfirman: ‘Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. Jika salah satu pihak telah berkhianat, Aku keluar dari mereka.” (HR. Abu Daud, yang dishahihkan oleh al-Hakim, dari Abu Hurairah).

Ternyata dalam hidup ini, setiap orang dianugrahi kelebihan juga kemampuan tertentu, tetapi juga dengan keterbatasannya. Karena keterbatasan kemampuan berniaga yang dimiliki, seseorang yang memiliki modal (pemodal) berserikat dengan para pihak (pekerja, pebisnis) yang memiliki kemampuan berniaga atau berbisnis, sehingga menguntungkan keduabelah pihak, baik pemodal maupun pekerja. Demikian juga halnya seperti praktik yang sudah memasyarakat; pemilik lahan seperti sawah ladang berserikat dengan para pekerja dengan suatu kesepakatan tertentu untuk memberdayakan lahannya sehingga menguntungkan kedua belah pihak. Di sinilah di antara keberkahan dari adanya perserikatan yang dijalin.

Berserikat juga dilakukan dalam bidang dakwah, menyiarkan Islam di tanah air, beramar makruf nahi munkar, seperti Perserikatan Muhammadiyah yang diinisiasi oleh Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tahun 1912. Begitu juga Nahdhatul Ulama yang didirikan oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari pada tahun 1926 di Surabaya. Dan persikatan lainnya yang didirikan oleh para tokoh bangsa seperti Persatuan Islam, Al-Washliyah yang secara akumulatif keberkahannya bisa dirasakan oleh bangsa ini. Di antaranya yang paling utama sampai dan lestarinya risalah Islam di bumi pertiwi ini hingga kini, bahkan hingga akhir zaman nanti.

Berserikat juga lazim dilakukan di dunia politik, dimana perkongsian berusaha mewujudkan cita-cira bersama, seperti organisasi Sarikat Dagang Islam di Solo yang diinisiasi oleh Haji Samanhudi pada tahun 1911 dan setahun kemudian Sarikat Islam di Surabaya oleh Hos Cokro Aminoto pada masa pergerakan meraih kemerdekaan di tanah air, meskipun pada awalnya bergerak di bidang ekonomi, dimana fokus perjuangannya  membantu nasib para pedagang pribumi atas pedagang Tionghoa yang kian maju. 

Di antara keberkahan dari perserikatan yang didirikan adalah lahirnya kesadaran berbangsa bermartabat yang pada gilirannya memengaruhi para tokoh bangsa ini untuk memobilisasi pergerakan dan persatuan masa dalam memperjuangkan hak-hak azasi atas bangsanya. Dan muara keberkahan perserikatan yang didirikan dalam bidang politik adalah kemerdekaan bangsa ini dari penjajahan Belanda maupun Jepang.

Bahkan perserikatan dalam politik inilah yang digagas secara global juga diserukan oleh Jamaluddin Al-Afghani, pembaharu muslim kenamaan dari Afghanistan yang lebih banyak berkiprah di Mesir. Keberkahan dari seruan global Al-Afghani mewujud dalam ukhuwah islamiyah, Pan Islamisme, persatuan umat Islam seluruh dunia yang bersinergi dengan seruan lokal mewujud dalam nasionalisme di masing-masing negeri kaum muslimin.

Pada gilirannya, di antara keberkahan Pan Islanisme dan Nasionalisme, pada keduapuluh negeri-negeri muslim satu per satu mampu memperoleh kemerdekaannya. Kemudian secara umum, keberkahannya dapat dimaknai dari statemen bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri keadilan dan peri kemanusiaan.

Semoga kita mampu mensyukuri segala keberkahan yang Allah curahkan ini. Aamiin ya Rabb. Allahu a'lam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama