Keberkahan Bergurau

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 22 Jumadil Akhir 1443

Keberkahan Bergurau
Saudaraku, kita tidak bisa membayangkan dalam mengarungi hidup dan kehidupan bila tidak ada yang namanya lelucon atau humor atau kejenakaan atau sendau gurau atau kelakar atau candatawa. Kalau sudah bertemu dan bersama sebagaimana diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu, maka ada saja yang bersendau gurau membuat lelucon atau berkelakar atau bercanda. Memang benar bahwa hal-hal yang mengundang gelak tawa merupakan salah satu sarana memperoleh kesenangan dan pelipur lara. Dan inilah di antara keberkahannya. Bahkan dalam dunia dakwah dan pendidikan sekalipun, kejenakaan tetap diperlukan sebagai salah satu teknik dalam penyampaian pesan atau materi ajar sehingga mudah dipahami dan tidak membosankan.

Keberadaan dan pentingnya gurauan atau candatawa atau kelakar seperti keberadaan dunia ini atas akhirat. Ia sementara, tidak elok selama-lamanya, dan lebih merupakan sarana bukan tujuan. Allah berfirman Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Qs. Al-An'am 32)

Para ulama juga sering menyampaikan bahwa Rasulullah saw juga memiliki rasa humor yang memadahi. Cerita yang lazim disampaikan saat seorang nenek mengadu tentang nasibnya di akhirat dengan bertanya tentang peruntukan surga untuk kaum laki-laki saja. Dan Rasulullah menjawab bahwa nenek-nenek tidak ada di surga nanti. Rupanya jawaban itu membuat sedih, tetapi kemudian dijelaskan dengan membaca al-Qur'an, Sesungguhnya kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung. Lalu Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Yang penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al-Waqi’ah 35-37). Bahkan saat sakit jelang wafatnyapun, Rasulullah masih sempat bercanda dengan Aisyah isteri yang memangkunya dengan menyampaikan "sepertinya adinda duluan yang akan meninggal, karena saya yang sakit tetapi adinda yang mengaduh".

Jadi, kelakar atau persendagurauan itu meniscaya tapi ya ada batas, saat dan tempatnya. Oleh karena itu kehati-hatian dan kearifan sangat penting agar tidak kebablasan saat bercanda atau ketika berlaku jenaka atau sast berkelakar Apalagi Allah menyediakan segala yang dihajadkan demi kebahagiaan manusia, termasuk mengaruniai rasa suka akan kejenakaan. 

Dalam hal ini Listya Istiningtyas memposting rambu-rambu bergurau sebagai berikut: Pertama, tidak menjadikan simbol-simbol Islam (tauhid, risalah, wahyu dan dien) sebagai bahan gurauan. Firman Allah: "Dan jika kamu tanyakan mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: 'Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" (QS. al-Taubah 65) 

Kedua, tidak melakukan kebohongan dan mengada-ada sebagai alat untuk menjadikan orang lain senang atau tertawa. Sabda Rasulullah saw: "Celakalah bagi orang yang berkata dengan berdusta untuk menjadikan orang lain tertawa. Celaka dia, celaka dia." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Hakim). 

Ketiga, candatawanya tidak mengandung penghinaan, meremehkan dan merendahkan orang lain. Firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (QS. al-Hujurat:11). 

Keempat, candatawanya tidak menimbulkan kesedihan dan ketakutan orang lain. Sabda Nabi Muhammad saw: "Tidak halal bagi seseorang menakut-nakuti sesama muslim lainnya." (HR. al-Thabrani.) "Janganlah salah seorang di 
antara kamu mengambil barang saudaranya, baik dengan maksud bermain-main maupun bersungguh-sungguh."(HR. Tirmidzi)  

Kelima, tidak bergurau dalam urusan yang serius dan tertawa dalam urusan yang sedih.Tiap-tiap sesuatu ada tempatnya, tiap-tiap kondisi ada (cara dan macam) perkataannya sendiri. Allah mencela orang-orang musyrik yang tertawa ketika mendengarkan Al-Qur'an padahal seharusnya mereka menangis, lalu firman-Nya "Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis. Sedang kamu melengahkannya." (QS. al-Najm:59- 61). 

Keenam, tidak berlebihan dan keterlaluan dalam berkelakar. Dalam hal ini Rasulullah memberikan batasan dalam sabdanya; Janganlah kamu banyak tertawa, karena banyak tertawa itu dapat mematikan hati." (H R. Tirmidzi). Dan berilah humor dalam perkataan dengan ukuran seperti Anda memberi garam dalam makanan."(Ali kwj.).

Dari keterangan di atas bahwa keberkahan dari gurauan dapat dirasakan itu bila pas porsinya, persis seperti memberi garam dalam makanan. Maka, harus pas porsinya, bukan? bila tidak pas, maka makanan bisa jadi terasa hambar atau terlalu asin. Jadi bergurau itu sekedarnya saja; jangan mendominasi seluruh interaksi agar tidak menjadi tontonan, tetapi juga jangan tidak ada sama sekali agar tidak membosankan.

Dengan demikian, di samping membuat suasana hidup, riuh dan mencair, bergurau juga membantu mengurangi kepenatan, bahkan juga stres. Oleh karenanya orang-orang yang memiliki bakat sebagai pelawak atau orang yang pandai mengundang gelak tawa bisa padat orderan atau bahkan pekerjaan misalnya sebagai presenter yang ujrahnya berlipat ganda daripada (maaf) gaji seorang guru besar di perguruan tinggi. Lihatlah komedian papan atas seperti Mr. Bean, Benyamin, Dono Kasino Indro dengan Warkopnya, Srimulat, Komeng, Tukul Arwana, Cak Lontong atau lainnya. 

Atau lihatlah juga para da'i da'iyah yang piawai menyelipkan gurauan dalam dakwahnya, pasti akan lebih diminati oleh masyarakat umum ketimbang yang serius dan ilmiah ceramahnya.

Mengapa lebih diminati? Di antaranya ya lucu atau setidaknya bisa menghibur hati, mengundang gelak tawa bahkan mengurangi stres sehingga bisa jadi menjadi lebih awet muda. Semoga kita mampu mengambil ibrahnya. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama