Bahagia Tanpa Berkeluh Kesah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.117
Selasa, 11 Rabiul Tsani 1448

Bahagia Tanpa Berkeluh Kesah
Saudaraku, setelah diingatkan tentang bahagia berilmu bisa menjalani hidup dengan baik dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita diajak untuk belajar menjalani kehidupan tanpa banyak mengeluh. Mengapa? Ya, kadang yang membuat hidup terasa berat bukan semata-mata banyaknya masalah yang datang, melainkan hati yang mudah gelisah, susah, gundah, suka tidak betah, lalu sedikit-sedikit berkeluh kesah. Akhirnya, apa pun keadaan yang datang selalu terasa kurang menyenangkan, menjalani kehidupan pun menjadi tidak mudah.

Coba bayangkan, ketika kemarau datang, mengeluh karena panas dan kekeringan. Ketika hujan mulai turun, juga mengeluh karena basah dan jalanan menjadi becek. Ketika udara panas, berharap segera turun hujan; ketika hujan turun terus-menerus, kita merindukan matahari. Ketika pekerjaan banyak, kita mengeluh kelelahan; ketika pekerjaan sedikit, kita mengeluh penghasilan berkurang. Ketika sendiri merasa kesepian, ketika ramai merasa tidak memiliki waktu untuk diri sendiri. Ketika memiliki banyak tanggung jawab merasa terbebani, tetapi ketika tanggung jawab berkurang kadang merasa tidak lagi dihargai.

Begitulah, jika hati tidak mudah bersyukur, keadaan yang berubah-ubah akan selalu menyediakan alasan untuk berkeluh kesah. Padahal kehidupan memang tidak pernah dirancang untuk selalu sesuai dengan keinginan kita. Ada panas dan hujan, lapang dan sempit, sehat dan sakit, mudah dan sulit, datang dan pergi, mendapatkan dan kehilangan; ada saat naik tapi juga ada saatnya turun. Semuanya merupakan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan.

Oleh karena itu, orang berilmu tidak berdoa agar hidup tanpa masalah; tapi belajar memiliki hati yang lebih luas daripada masalah yang dihadapinya. Ia tidak membiarkan setiap perubahan keadaan mengubah ketenangan hatinya. Rasulullah juga mengajarkan kepada kita agar tidak meremehkan nikmat yang ada karena terlalu sibuk memperhatikan apa yang belum ada. Beliau bersabda: Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian; yang demikian itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keluhan yang terus diulang-ulang sering kali membuat mata tertutup terhadap nikmat yang sebenarnya masih begitu banyak. Kita sibuk mengeluhkan satu kekurangan sehingga lupa mensyukuri banyak kelebihan. Kita memikirkan apa yang belum dimiliki sampai tidak sempat menikmati apa yang sudah Allah titipkan. Kita terlalu lama memandang apa yang harus dilepas sehingga lupa bahwa masih banyak hal yang tetap menjadi karunia-Nya.

Saudaraku, bukan berarti kita tidak boleh menyampaikan keluhan atau mengungkapkan kesulitan. Ada saatnya kita perlu bercerita, meminta pertolongan, berkonsultasi, bahkan menyampaikan persoalan agar mendapatkan jalan keluar. Yang perlu dihindari adalah menjadikan keluhan sebagai kebiasaan, sehingga lisan selalu menemukan alasan untuk menggerutu dan hati kehilangan kemampuan untuk melihat hikmah.

Nabi Ya'qub as pernah mengadukan kesedihan dan penderitaannya, tetapi pengaduannya bukan kepada manusia dengan penuh keputusasaan. Beliau berkata:

Ø¥ِÙ†َّÙ…َا Ø£َØ´ْÙƒُÙˆ بَØ«ِّÙŠ ÙˆَØ­ُزْÙ†ِÙŠ Ø¥ِÙ„َÙ‰ اللَّÙ‡ِ

“Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah.” (QS. Yusuf 86)

Inilah perbedaan antara mengeluh kepada Allah dan berkeluh kesah tentang Allah. Mengadu kepada Allah adalah bagian dari doa dan penghambaan; sedangkan terus-menerus menggerutu terhadap ketetapan-Nya dapat membuat hati semakin sempit. Kita boleh mengatakan, “Ya Allah, ini berat,” tetapi setelah itu hendaknya kita melanjutkan dengan, “Maka kuatkanlah aku.” Kita boleh mengakui bahwa kita lelah, tetapi jangan berhenti untuk berharap kepada-Nya.

Karena itu, seyogyanya kita belajar mengganti keluhan dengan kesyukuran, kegelisahan dengan doa, dan ketidaknyamanan dengan kesabaran. Ketika panas, kita nikmati kesempatan beraktivitas dan kitapun ingat bahwa hujan akan datang. Ketika hujan, kita syukuri air yang menyuburkan bumi dan juga ingat bahwa matahari akan kembali. Ketika hidup terasa berat, kita tidak buru-buru menyimpulkan bahwa Allah sedang meninggalkan kita. Bisa jadi justru melalui keadaan itu Allah sedang mendidik, menguatkan, membersihkan, atau mengarahkan kita menuju sesuatu yang lebih baik.

Bukankah kita tidak mungkin mengatur cuaca, mengatur semua orang, atau mengatur seluruh peristiwa kehidupan? Yang dapat kita ikhtiarkan adalah mengatur sikap hati dan perilaku kita dalam menghadapinya. Maka, bahagia bukan berarti semua keadaan selalu menyenangkan, melainkan ketika hati mampu tetap bersyukur dalam keadaan yang tidak selalu menyenangkan. Semoga


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama