Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.115
Ahad, 9 Rabiul Tsani 1448
Bahagia atas Kehadiran Orang-orang Baik
Saudaraku, setelah diingatkan tentang bahagia bersyukur atas kesempatan berbuat baik dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita diajak menyadari bahwa di antara nikmat Allah yang sering luput disyukuri adalah hadirnya orang-orang baik dalam kehidupan kita. Tidak semua nikmat berbentuk harta yang dapat dihitung, jabatan yang dapat dilihat, atau fasilitas yang dapat digunakan; ada nikmat yang berbentuk kehadiran orang-orang yang ikhlas menemani, menasihati, membantu, mendoakan, bahkan terkadang hanya dengan keberadaannya membuat kita merasa tidak sendirian.
Rasulullah mengingatkan bahwa bersyukur kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari menghargai kebaikan manusia. Beliau bersabd لBarang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Hadis ini mengajarkan bahwa orang-orang yang hadir dalam kehidupan kita bukan sekadar bagian dari perjalanan sosial, tetapi dapat menjadi jalan datangnya nikmat Allah. Ada orang tua yang dengan penuh kasih membesarkan kita, guru yang dengan sabar mengajarkan ilmu, pasangan yang menemani perjalanan hidup, saudara yang menguatkan, sahabat yang mengingatkan, kolega yang bekerja sama, anak-anak yang memberi kebahagiaan, bahkan orang yang mungkin hanya hadir sesaat tetapi meninggalkan pelajaran yang panjang.
Karena itu, jangan sampai kita baru menyadari nilai seseorang setelah ia pergi. Ketika masih bersama, kita sering menganggap perhatian sebagai sesuatu yang biasa, nasihat sebagai sesuatu yang mengganggu, bantuan sebagai sesuatu yang memang seharusnya diberikan, bahkan keberadaan seseorang sebagai sesuatu yang akan selalu ada. Padahal kehidupan mengajarkan bahwa tidak ada perjumpaan yang benar-benar sia-sia dan tidak ada kebersamaan yang selamanya. Ada yang datang untuk menemani, ada yang datang untuk mengajari, ada yang datang untuk menguatkan, dan ada pula yang datang untuk menguji sekaligus mendewasakan diri.
Allah berfirman: Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. al-Mā’idah [5]: 2). Ayat ini mengingatkan bahwa manusia tidak ditakdirkan untuk menjalani kehidupan seorang diri. Banyak kebaikan justru menjadi sempurna melalui kebersamaan. Ilmu berkembang karena ada guru dan murid, pekerjaan selesai karena ada kerja sama, keluarga tumbuh karena ada saling menjaga, dan perjuangan menjadi lebih ringan karena ada orang-orang yang bersedia berjalan bersama. Maka, bersyukur atas orang-orang yang hadir berarti menyadari bahwa sebagian perjalanan hidup kita dimudahkan Allah melalui tangan, pikiran, perhatian, doa, dan ketulusan orang lain.
Saudaraku, bersyukur atas orang-orang yang hadir bukan berarti menganggap semua manusia selalu benar atau semua hubungan selalu mudah. Kita tetap perlu batas, kehati-hatian, dan kebijaksanaan dalam berinteraksi. Namun, kekurangan seseorang tidak seharusnya membuat kita lupa terhadap kebaikannya, sebagaimana satu kesalahan seseorang tidak semestinya menghapus seluruh jasa dan kasih sayang yang pernah diberikannya.
Betapa banyak orang yang menjadi bagian penting dari keberhasilan kita, tetapi namanya jarang kita sebut dalam doa. Betapa banyak tangan yang pernah membantu kita bangkit ketika jatuh, tetapi setelah kita berdiri kita lupa menoleh kepada mereka. Betapa banyak guru yang ilmunya menjadi bagian dari diri kita, tetapi kita lupa mendoakan mereka. Betapa banyak orang tua yang dahulu mengorbankan kenyamanan dirinya agar kita memperoleh kenyamanan, tetapi ketika kita telah menikmati kehidupan, kita lupa bahwa di balik kenyamanan itu ada air mata, doa, dan pengorbanan mereka.
Maka, ilmu yang benar semestinya membuat kita semakin pandai mengenali nikmat, termasuk mengenali manusia sebagai bagian dari nikmat Allah. Orang berilmu tidak hanya mengetahui siapa yang membantunya, tetapi juga mampu menghargai bantuan itu; tidak hanya mengenal nama gurunya, tetapi menjaga ilmu yang diwariskannya; tidak hanya menikmati kasih sayang keluarga, tetapi membalasnya dengan kasih sayang; tidak hanya menerima kebaikan sahabat, tetapi berusaha menjadi sahabat yang baik bagi mereka.
Pada akhirnya, kita akan menyadari bahwa perjalanan hidup ini sesungguhnya dipenuhi oleh perjumpaan. Ada orang yang kita temui sejak kecil, ada yang baru hadir ketika dewasa, ada yang berjalan bersama dalam waktu yang panjang, dan ada yang hanya sebentar lalu meninggalkan kesan yang mendalam. Semua itu dapat menjadi bagian dari cara Allah mendidik, menolong, mengingatkan, dan menyempurnakan perjalanan kita.