Bahagia Dianugrahi Kesempatan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.114
Sabtu, 8 Rabiul Tsani 1448

Bahagia Dianugrahi Kesempatan
Saudaraku, suatu ketika Rasulullah bersama para sahabat berada di masjid. Datanglah seorang yang sangat membutuhkan bantuan. Para sahabat kemudian berlomba-lomba memberikan apa yang mereka mampu. Ada yang memberikan sebagian hartanya, ada yang memberikan makanan, dan ada pula yang memberikan sesuatu yang sederhana. Dari peristiwa itu kita belajar bahwa kebaikan tidak selalu menunggu seseorang memiliki banyak. Yang paling penting adalah kesediaan menangkap kesempatan untuk berbuat baik ketika kesempatan itu datang.

Seringkali kita mengira bahwa nikmat hanya berupa sesuatu yang kita terima, padahal ada nikmat yang lebih dari itu, yaitu ketika Allah memberi kita kesempatan untuk menjadi jalan kebaikan bagi orang lain. Ketika seseorang datang meminta bantuan, ketika ada orang yang membutuhkan nasihat, ketika ada keluarga yang memerlukan perhatian, ketika ada tetangga yang membutuhkan pertolongan, semuanya sebenarnya dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk mendapatkan pahala.

Oleh karena itu, setelah diingatkan tentang bahagia bersyukur menikmati proses kehidupan dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita diajak melangkah lebih dalam, yaitu bahagia bersyukur atas kesempatan berbuat baik sehingga menambah pundi-pundi pahala. Sebab hidup yang penuh nikmat bukan hanya hidup yang banyak menerima, tetapi juga hidup yang banyak diberi kesempatan untuk memberi.

Allah berfirman: Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. (QS. al-Baqarah148)». Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan bukan sesuatu yang harus ditunda. Ketika kesempatan berbuat baik datang, jangan terlalu banyak menunggu. Sebab kita tidak pernah tahu apakah kesempatan yang sama akan datang kembali. Hari ini kita masih memiliki kesehatan, mungkin besok kesehatan itu berkurang. Hari ini masih memiliki waktu, mungkin besok kesibukan semakin banyak. Hari ini masih dapat bertemu seseorang, mungkin esok pertemuan itu tidak lagi terjadi.

Karena itu, kesempatan berbuat baik adalah nikmat yang perlu disyukuri dengan segera menggunakannya. Bersyukur atas kesehatan bukan hanya dengan mengucapkan alhamdulillah, tetapi menggunakan kesehatan untuk amal. Bersyukur atas harta bukan hanya dengan merasa cukup, tetapi menyisihkan sebagian untuk membantu sesama. Bersyukur atas ilmu bukan hanya dengan merasa berpengetahuan, tetapi mengajarkannya. Bersyukur atas jabatan bukan hanya dengan menikmatinya, tetapi menggunakannya untuk melayani. Rasulullah bersabda: Setiap kebaikan adalah sedekah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)»

Betapa luas pintu kebaikan dalam Islam. Tidak semua orang memiliki harta yang banyak, tetapi setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuat baik. Senyum dapat menjadi sedekah. Perkataan yang baik dapat menjadi sedekah. Membantu orang lain dapat menjadi sedekah. Menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan dapat menjadi sedekah. Bahkan menahan diri agar tidak menyakiti orang lain pun merupakan bagian dari kebaikan.

Maka jangan pernah merasa bahwa kita terlalu kecil untuk berbuat baik. Bisa jadi satu kalimat yang sederhana menjadi penguat bagi seseorang yang sedang lemah. Satu perhatian kecil membuat seseorang merasa tidak sendirian. Satu bantuan yang kita anggap ringan ternyata sangat berarti bagi orang lain. Kita tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk berbagi, tidak perlu menunggu menjadi tokoh untuk bermanfaat, dan tidak perlu menunggu memiliki banyak waktu untuk berbuat baik.

Kebaikan tidak selalu membutuhkan kemampuan yang besar; sering kali ia hanya membutuhkan hati yang peka terhadap kesempatan. Orang yang berilmu akan semakin peka terhadap kesempatan berbuat baik. Ia memahami bahwa setiap nikmat membawa amanah. Mata memiliki amanah untuk melihat yang baik. Telinga memiliki amanah untuk mendengar yang baik. Lisan memiliki amanah untuk berkata baik. Tangan memiliki amanah untuk menolong. Kaki memiliki amanah untuk melangkah menuju tempat-tempat kebaikan. Harta memiliki amanah untuk dimanfaatkan secara benar. Ilmu memiliki amanah untuk diamalkan dan diwariskan. Dengan demikian, syukur memiliki hubungan yang sangat erat dengan amal. Syukur yang hidup akan melahirkan tindakan. Semakin banyak nikmat yang kita sadari, semakin banyak pula alasan untuk berbuat baik.

Bukankah sangat indah apabila pada akhir hari kita tidak hanya bertanya, “Apa yang telah saya dapatkan hari ini?” tetapi juga bertanya, “Kebaikan apa yang hari ini Allah ridhai bisa saya lakukan?” Pertanyaan kedua membuat kehidupan terasa lebih bermakna. Sebab ada kebahagiaan yang tidak dapat dibeli dengan harta, yaitu kebahagiaan ketika mengetahui bahwa keberadaan kita menjadi manfaat bagi orang lain.

Namun, jangan juga kita merasa bahwa kebaikan yang kita lakukan semata-mata karena kehebatan diri. Justru kesempatan berbuat baik itu sendiri merupakan karunia Allah. Betapa banyak orang memiliki harta tetapi tidak memiliki kesempatan untuk berbagi. Betapa banyak orang memiliki ilmu tetapi tidak menemukan orang yang dapat diajarinya. Betapa banyak orang memiliki kekuatan tetapi tidak tergerak membantu. Maka ketika Allah mempertemukan kita dengan kesempatan berbuat baik, ucapkanlah alhamdulillah, lalu lakukan dengan ikhlas.

Allah berfirman: Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapatkannya di sisi Allah.” (QS. al-Baqarah 110)». Apa yang kita berikan kepada orang lain pada hakikatnya tidak hilang. Mungkin dari tangan kita ia berpindah kepada orang lain, tetapi di sisi Allah ia tercatat sebagai amal. Karena itu, jangan merasa rugi ketika berbagi. Jangan merasa berkurang ketika membantu. Bisa jadi sesuatu yang kita lepaskan dari tangan justru menjadi sesuatu yang kelak kita temukan kembali sebagai pahala di hadapan Allah.

Saudaraku, kehidupan di dunia ini sangat singkat bila dibandingkan dengan kehidupan sesudahnya. Kesempatan berbuat baik pun ada batas waktunya. Ketika usia bertambah, tenaga mungkin berkurang. Ketika kesempatan berlalu, kita tidak selalu dapat mengulangnya. Maka jangan terlalu lama menunggu untuk melakukan kebaikan. Jika hari ini Allah memberi kesempatan, sambutlah dengan syukur dan amal yang nyata.

Sudahkah kita menyadari bahwa kesempatan berbuat baik adalah nikmat? Berapa banyak kesempatan yang telah Allah hadirkan dalam kehidupan kita, tetapi berlalu begitu saja karena kita menundanya? Ketika seseorang membutuhkan bantuan, apakah kita melihatnya sebagai beban atau sebagai kesempatan untuk mendapatkan ridha Allah? Bahagia itu ketika kita bukan hanya pandai menghitung nikmat yang diterima, tetapi juga pandai mensyukuri kesempatan untuk menjadi jalan kebaikan bagi sesama.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama