Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.116
Senin, 10 Rabiul Tsani 1448
Bahagia Menjalani Hidup dengan Baik
Saudaraku, setelah diingatkan tentang bahagia bersyukur atas orang-orang yang hadir dalam kehidupan kita dalam muhasabah yang baru lalu, kini ilmu yang kita miliki hendaknya mengantarkan kita untuk menjalani kehidupan dengan baik. Sebab ilmu bukan sekadar membuat kita mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, tetapi juga menuntun kita untuk memilih yang benar, mengerjakannya dengan ikhlas, dan menjauhi apa yang dapat menjauhkan diri dari Allah.
Menjalani hidup dengan baik sesungguhnya bisa dimulai dari ketaatan-ketaatan kecil yang dilakukan dengan istiqamah. Kita tidak pernah tahu, dari sekian banyak amal yang kita lakukan, ketaatan yang mana yang menjadi sebab Allah ridha lalu melimpahkan rahmat, ketenangan, dan kebahagiaan kepada kita. Bisa jadi sebuah sedekah yang menurut kita kecil, senyum yang sederhana, membantu seseorang, memaafkan kesalahan, menjaga lisan, membaca Al-Qur’an beberapa ayat, menolong orang yang membutuhkan, atau bahkan sebuah doa yang dipanjatkan dengan penuh ketulusan menjadi amal yang sangat bernilai di sisi Allah.
Rasulullah mengajarkan agar kita tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Beliau bersabda: “Janganlah engkau meremehkan suatu kebaikan sedikit pun.” (HR. Muslim). Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa ukuran manusia terhadap sebuah amal tidak selalu sama dengan nilainya di sisi Allah. Karena itu, jangan menunggu mampu melakukan kebaikan yang besar untuk mulai taat. Lakukanlah apa yang mampu dilakukan, sekecil apa pun, selama berada dalam tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Boleh jadi justru ketaatan sederhana yang dilakukan dengan istiqamah itulah yang menjadi jalan datangnya keberkahan hidup.
Allah juga berfirman: “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. az-Zalzalah 7–8)
Karena itu, orang berilmu akan berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Ia tidak hanya bersemangat mengejar pahala dari amal-amal besar, tetapi juga menjaga dirinya dari dosa-dosa yang mungkin dianggap kecil. Ia memahami bahwa dosa dan maksiat bukan hanya persoalan catatan amal, tetapi juga dapat menjadi beban yang memberatkan perjalanan jiwa. Semakin seseorang terbiasa dengan maksiat, semakin mudah hati menjadi lalai; sebaliknya, semakin ia menjaga ketaatan, semakin terbuka jalan untuk merasakan ketenangan dan kedekatan dengan Allah. Allah berfirman: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. ath-Thalāq [65]: 2–3)
Maka, menjalani hidup dengan baik bukan berarti hidup tanpa masalah. Hidup tetap memiliki ujian, kehilangan, kekecewaan, keterbatasan, dan berbagai keadaan yang tidak selalu sesuai dengan keinginan. Namun, ilmu membuat kita memiliki tuntunan dalam menghadapinya. Ketika mendapatkan nikmat kita bersyukur, ketika menghadapi kesulitan kita bersabar, ketika memperoleh kesempatan kita berbuat baik, ketika tergelincir kita segera bertaubat, dan ketika berhadapan dengan godaan kita berusaha menahan diri.
Saudaraku, kita perlu terus berikhtiar untuk tidak melakukan dosa dan maksiat, bukan karena kita merasa sudah suci, tetapi karena kita sadar betapa berat akibatnya bagi diri sendiri. Dosa dapat membuat hati gelisah, mengurangi kepekaan terhadap kebaikan, dan menambah beban yang semestinya tidak perlu kita pikul. Sebaliknya, ketaatan memberi ruang bagi hati untuk bernapas, menghadirkan ketenteraman, dan membuka kemungkinan datangnya kebahagiaan yang tidak kita sangka-sangka.