Bahagia Istiqamah dalam Kebaikan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.126
Kamis, 20 Rabiul Tsani 1448

Bahagia Istiqamah dalam Kebaikan
Saudaraku, setelah diingatkan agar tidak menunda kebaikan dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita diajak melangkah lebih jauh, yaitu bahagia bisa konsisten dalam kebaikan. Kita melakukan kebaikan sekali tentu indah, tetapi sanggup dan betah mempertahankannya dalam perjalanan panjang kehidupan jauh lebih membutuhkan kesungguhan.

Ada kalanya kita begitu bersemangat setelah mendapatkan nasihat, mengikuti pengajian, training ESQ, membaca ayat Al-Qur'an, atau mengalami peristiwa yang menggugah hati. Kita berjanji akan berubah. Kita ingin lebih rajin shalat termasuk yang sunat-sunat, akan berpuasa termasuk yang sunat-sunat, akan  lebih banyak membaca juga menulis, lebih dermawan, lebih sabar, lebih ramah, lebih sumeh rumeh, lebih disiplin, lebih peduli dan lebih bermanfaat. Namun, beberapa hari kemudian seiring kesibukan atau masalah yang menyita, sering kali semangat itu perlahan menurun.

Di sinilah istiqamah dalam kebaikan menjadi penting. Kebaikan tidak hanya membutuhkan semangat untuk memulai, tetapi kesetiaan untuk mempertahankan. Ya tentu, perlu kesungguhan; jihad, ijtihad dan mujahadah. Rasulullah bersabda: “Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling terus-menerus, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kebaikan bukan semata-mata besarnya amal, tetapi juga keberlangsungannya. Sedikit tetapi istiqamah dapat lebih membentuk jiwa daripada banyak tetapi hanya sesaat. Yang sedikit tapi istiqamah menjadi amal yang dicintai Allah dan RasulNya, apalagi yang diistiqzmahi itu banyak.

Karena itu, jangan merasa bahwa membaca Al-Qur'an beberapa ayat atau beberapa ruku' setiap hari terlalu sedikit. Jangan merasa sedekah yang kita berikan tidak berarti karena jumlahnya kecil. Jangan menganggap dua rakaat sunah tidak penting karena bukan ibadah wajib. Jangan meremehkan satu halaman buku yang dibaca setiap hari, satu tulisan berupa artikel singkat yang diselesaikan secara konsisten, satu nasihat yang terus diamalkan, atau satu kebiasaan baik yang dipelihara bertahun-tahun. Gunung yang tinggi pun tersusun dari butiran kecil yang terus mendukungnya. Demikian pula pribadi yang baik dibangun dari amal-amal kecil yang dilakukan secara terus-menerus.

Saudaraku, istiqamah juga bukan berarti kita tidak pernah mengalami turun naiknya semangat. Manusia memang memiliki keadaan yang berubah. Ada saatnya kuat, ada saatnya lemah. Ada saatnya lapang, ada saatnya sibuk. Ada saatnya hati mudah khusyuk, ada saatnya harus berjuang untuk menghadirkannya.

Nah di sini, yang penting, jangan berhenti sama sekali. Ketika tidak mampu membaca banyak, bacalah sedikit. Ketika tidak mampu bersedekah banyak, bersedekahlah sesuai kemampuan. Ketika belum mampu melakukan amal besar, lakukan amal kecil. Ketika sedang lelah, jangan tinggalkan seluruh kebaikan; pertahankan yang paling mungkin dilakukan.

Istiqamah bukan berarti selalu berada pada tingkat tertinggi, tetapi selalu berusaha berada di jalan yang benar. Dalam shalat, kita istiqamah mendirikan yang wajib dan berusaha menambah dengan yang sunnah. Dalam puasa, kita menjaga yang wajib dan melatih diri dengan puasa sunnah ketika mampu. Dalam ilmu, kita terus belajar. Dalam membaca, kita terus menambah wawasan. Dalam menulis, kita terus menuangkan gagasan. Dalam bekerja, kita menjaga disiplin. Dalam keluarga, kita terus menghadirkan perhatian. Dalam bermasyarakat, kita berusaha menjadi pribadi yang memberi manfaat.

Begitu pula dalam akhlak. Istiqamah jujur ketika kejujuran menguntungkan maupun ketika terasa berat. Istiqamah amanah ketika tidak ada yang mengawasi. Istiqamah murah hati ketika memiliki maupun ketika terbatas. Istiqamah menjaga lisan ketika sedang senang maupun ketika sedang marah.

Saudaraku, karakter tidak lahir dari satu tindakan, tetapi dari tindakan yang diulang-ulang hingga menjadi kebiasaan, lalu kebiasaan yang dipelihara hingga menjadi kepribadian. Karena itu, jangan terlalu sibuk mengejar perubahan yang terlihat besar di mata manusia. Bangunlah perubahan yang kokoh di hadapan Allah. Mungkin orang lain tidak mengetahui bahwa kita setiap hari berusaha menjaga shalat, membaca Al-Qur'an, belajar, bersedekah, menjaga lisan, atau menahan amarah. Tidak mengapa. Sebab istiqamah memang sering tumbuh dalam kesunyian.

Allah berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqamah, akan turun kepada mereka para malaikat seraya berkata, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih.’” (QS. Fussilat 30)

Istiqamah adalah perjalanan. Karena itu, jangan kecewa jika hari ini kita belum menjadi seperti yang kita cita-citakan. Yang penting, arah langkah kita benar dan kita terus berjalan. Jika suatu hari kita terjatuh, bangkitlah. Jika sempat lalai, kembali lagi. Jika semangat menurun, lakukan yang mampu. Jika pernah meninggalkan kebiasaan baik, jangan berkata, “Sudah terlanjur berhenti.” Mulailah kembali.

Kebaikan yang pernah terputus tidak harus menjadi kebaikan yang selamanya berakhir. Maka, Saudaraku, hari ini mari memilih beberapa kebaikan yang benar-benar ingin kita rawat sampai menjadi bagian dari diri. Tidak perlu terlalu banyak. Yang penting realistis, ikhlas, dan istiqamah.

Mungkin satu halaman Al-Qur'an setiap hari. Mungkin dua rakaat dhuha. Mungkin sedekah setiap Jumat. Mungkin membaca beberapa halaman buku. Mungkin menulis satu paragraf. Mungkin menelepon orang tua. Mungkin menyapa tetangga. Mungkin membiasakan mengucapkan terima kasih. Mungkin menahan satu ucapan yang berpotensi menyakiti. Sedikit, tetapi terus. Sederhana, tetapi nyata. Tidak ramai, tetapi bermakna.

Bahagia itu ketika kebaikan tidak lagi terasa sebagai beban, tetapi telah menjadi kebutuhan jiwa. Bahagia ketika hati merasa ada yang kurang apabila sehari tidak membaca Al-Qur'an. Bahagia ketika tangan terasa ringan untuk berbagi. Bahagia ketika lisan terbiasa berkata baik. Bahagia ketika belajar menjadi kebutuhan, bukan keterpaksaan. Bahagia ketika amal shalih perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama