Bahagia Berazam Tidak Mengulangi Kesalahan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.122
Ahad, 16 Rabiul Tsani 1448

Bahagia Berazam Tidak Mengulangi Kesalahan 
Saudaraku, setelah diingatkan tentang bahagia bisa mengganti kesalahan dengan amal shalih dalam muhasabah yang baru lalu, kini kita diajak melangkah lebih jauh, yaitu bahagia bisa berazam untuk tidak mengulangi kesalahan lagi. Karena penyesalan akan menjadi semakin bermakna ketika melahirkan azam, tekad dan semangat akan menjadi lebih baik. Dan tentu, ini semakin indah ketika diwujudkan dalam ikhtiar nyata.

Orang yang pernah jatuh semestinya belajar dari tempat ia tersandung. Jangan sampai kita berkali-kali jatuh di lubang yang sama, bukan karena jalannya terlalu sulit, tetapi karena kita tidak mau belajar dari pengalaman. Kesalahan memang bagian dari perjalanan manusia, tetapi mengulangi kesalahan yang sama tanpa berusaha memperbaikinya adalah tanda bahwa pelajaran dari kesalahan itu belum benar-benar kita ambil. 

Allah berfirman: mereka yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi dirinya sendiri, mereka segera mengingat Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka.(QS. Āli ‘Imrān 135). Ayat ini menggambarkan sikap orang-orang bertakwa: ketika tergelincir, mereka tidak membiarkan dirinya larut dalam kesalahan. Mereka segera mengingat Allah, memohon ampun, lalu memperbaiki diri.

Ya, azam adalah kesungguhan hati untuk tidak kembali kepada kesalahan.  Jika dahulu kita mudah marah karena terbiasa bereaksi spontan, maka azam tidak mengulangi kesalahan berarti belajar berhenti sejenak sebelum berbicara. Jika dahulu lisan mudah menyakiti, kita mulai membiasakan diam ketika marah. Jika dahulu mudah terjebak dalam ghibah, kita menjauh dari percakapan yang mengarah ke sana. Jika dahulu mudah menulis komentar atau status secara emosional, kita belajar menahan jari dan berpikir sebelum menekan tombol kirim.

Jika dahulu lalai menjaga shalat, kita  berazam untuk tidak meninggalkannya; dengan mengatur waktu, memasang pengingat, dan meninggalkan kesibukan ketika waktu shalat tiba. Jika dahulu sering menunda pekerjaan, kita tidak hanya bertekad menjadi disiplin; tapi memulai mengerjakan tugas ketika waktunya tiba. Jika dahulu terlalu banyak menggunakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat, kini kita menentukan batas dan mengganti dengan membaca, belajar, beribadah, berolahraga, berkumpul dengan keluarga, atau kegiatan yang memberi manfaat.

Inilah azam yang hidup: tekad yang melahirkan perubahan kebiasaan. Rasulullah bersabda: “Seorang mukmin tidak disengat dari satu lubang yang sama dua kali.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengajarkan pentingnya belajar dari pengalaman. Seorang mukmin tidak berarti tidak pernah salah, tetapi ia tidak semestinya mengabaikan pelajaran dari kesalahannya. Ketika pernah tertipu, ia menjadi lebih berhati-hati. Ketika pernah salah mengambil keputusan, ia belajar mempertimbangkan dengan lebih matang. Ketika pernah mempercayai orang yang keliru, ia belajar mengenali karakter dengan lebih bijaksana.

Demikian juga dalam hubungan dengan Allah. Jika kita mengetahui bahwa sebuah kebiasaan membuat hati jauh dari-Nya, maka sebaiknya tidak terus mendekatinya. Jika kita tahu sebuah lingkungan melemahkan iman, kita perlu mengatur jarak. Jika kita tahu sebuah tontonan, bacaan, percakapan, atau kebiasaan dapat menyeret kepada maksiat, maka kita perlu berani meninggalkannya. Sebab sering kali dosa bukan datang secara tiba-tiba. Ia memiliki pintu-pintu kecil yang kita biarkan terbuka. Maka jangan hanya memerangi dosa ketika sudah terjadi; tutuplah pintu yang mengantarkan kepadanya.

Di sinilah ilmu menjadi sangat penting. Ilmu membuat kita mampu mengenali sebab, bukan hanya akibat. Orang berilmu tidak hanya berkata, “Saya tidak ingin jatuh lagi,” tetapi berusaha memahami, “Apa yang membuat saya jatuh, kapan biasanya saya lemah, siapa yang memengaruhi saya, kebiasaan apa yang harus saya ubah, dan lingkungan seperti apa yang perlu saya hindari?”

Dengan demikian, muhasabah menjadi sangat praktis. Kita tidak sekadar menyesali, tetapi mengevaluasi. Tidak sekadar berazam, tetapi merancang ikhtiar. Tidak sekadar berharap, tetapi membangun kebiasaan. Namun, kita juga perlu rendah hati. Berazam untuk tidak mengulangi kesalahan bukan berarti merasa diri sudah pasti tidak akan pernah tergelincir. Manusia tetap memiliki kelemahan. Karena itu, selain tekad, kita membutuhkan pertolongan Allah. Kita berazam, tetapi tetap memohon pertolongan. Kita berikhtiar, tetapi tetap bertawakal. Kita memperbaiki kebiasaan, tetapi tidak merasa mampu tanpa pertolongan Allah. Sebab istiqamah bukan hanya hasil kekuatan kemauan manusia, melainkan juga karunia Allah.

Saudaraku, mungkin ada kesalahan yang pernah kita lakukan berkali-kali. Tentu, tidak elok berputus asa. Bersegera taubat setiap kali tergelincir dan perkuat kembali azam. Namun,  kita tidak menjadikan kelemahan sebagai alasan untuk sengaja mengulanginya. Jatuh bukan alasan untuk menetap di bawah; jatuh adalah alasan untuk bangkit dengan cara berjalan yang lebih hati-hati.
.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama