Bahagia Berilmu yang Membuat Tenang Jiwanya

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.066
Ahad, 18 Safar 1448

Bahagia Berilmu yang Membuat Tenang Jiwanya
Saudaraku, dalam luka sejarah, pada tahun 656 H (1258 M), ketika pasukan Mongol di bawah Hulagu Khan menyerbu Baghdad, dunia Islam mengalami salah satu tragedi terbesar sejarah. Kota yang selama berabad-abad menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban itu luluh lantak. Perpustakaan-perpustakaan dibakar, rumah-rumah dihancurkan, diratakan dengan tanah agar tumbuh rumput atau ilalang sebagai habitat kesukaan orang-orang nomada Mongol. Saat itu ribuan ulama dan masyarakat muslim menjadi korban kebiadaban Hulagu.

Di tengah suasana yang mencekam itu, banyak orang kehilangan harapan. Namun sejarah juga mencatat bahwa terdapat ulama yang selamat tidak menyerah pada keputusasaan. Mereka berikhtiar menyelamatkan kitab-kitab yang masih tersisa, menghidupkan kembali majelis-majelis ilmu di Haramain, Damaskus, Kairo, dan kota-kota lainnya. Mereka memahami bahwa bangunan dapat luluh, tetapi ilmu yang hidup di dalam dada manusia tidak dapat dihancurkan oleh pedang. Ketenangan mereka lahir bukan karena keadaan yang aman, tetapi karena keyakinan bahwa Allah tetap mengatur sejarah.

Muhasabah sebelumnya telah mengajarkan kita bahwa ilmu yang benar melahirkan bashirah, yaitu kejernihan hati untuk melihat jalan yang diridhai Allah. Hari ini kita melihat buah berikutnya. Ketika seseorang telah diberi bashirah, ia akan memperoleh á¹­uma'ninah, ketenangan jiwa. Ia tidak lagi mudah diombang-ambingkan oleh rasa takut, kecemasan, atau kepanikan, karena ia yakin bahwa setiap peristiwa berada dalam ilmu dan kekuasaan Allah.

Allah berfirman, «"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28). Ketenangan yang dimaksud Al-Qur'an bukanlah ketenangan karena tidak memiliki masalah. Rasulullah  tetap menghadapi ujian, para sahabat tetap mengalami kesulitan, dan para ulama tetap menghadapi fitnah. Namun hati mereka tetap tenang karena mereka mengetahui kepada siapa harus bergantung. Ilmu yang benar mengantarkan seseorang mengenal Allah, dan mengenal Allah melahirkan ketenteraman yang tidak dapat diberikan oleh dunia.

Bila ilmu ibarat akar ataun pohon, maka ketenangan adalah buahnya. Pohon yang akarnya menghunjam kuat tidak mudah tumbang diterpa badai. Demikian pula seorang mukmin yang akarnya kuat tertanam dalam ilmu dan iman tidak mudah roboh oleh ujian kehidupan. Kehilangan harta tidak merampas harapannya. Kehilangan jabatan tidak menghilangkan harga dirinya. Bahkan musibah tidak mampu memutus hubungannya dengan Allah, karena ia mengetahui bahwa di balik setiap takdir terdapat hikmah yang mungkin belum dipahaminya.

Ketenangan seperti ini sangat dibutuhkan pada zaman sekarang. Banyak orang memiliki informasi yang melimpah, tetapi hidup dalam kecemasan. Banyak yang berpendidikan tinggi, gelarnya panjang, tetapi mudah panik menghadapi perubahan. Penyebabnya bukan kurangnya pengetahuan, melainkan kurang intensifnya hubungan dengan Allah. Ilmu yang hanya memenuhi akal belum tentu menenangkan hati. Sebaliknya, ilmu yang melahirkan khasy-yah akan menghadirkan keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah dalam menetapkan takdir-Nya.

Orang yang berilmu dan diberi ketenangan akan menghadapi setiap persoalan dengan kepala yang dingin dan hati yang jernih. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur tanpa eforia berlebihan. Ketika menghadapi musibah, ia bersabar tanpa putus asa. Ketika harus mengambil keputusan, ia tidak dikuasai kepanikan, tetapi memohon petunjuk Allah, bermusyawarah, lalu bertawakal. Ketenangan inilah yang menjadikan pilmunya benar-benar bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain.

Kita tidak menjadikan ilmu sekadar alat untuk memenangkan perdebatan atau memperoleh kedudukan, teyapi sebagai jalan mengenal Rabb semesta alam. Sebab semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin kecil rasa takutnya kepada dunia, dan semakin besar rasa percayanya kepada janji-janji Allah.

Kita juga bermuhasabah, apakah semakin bertambah ilmu kita, iman semalin kuat, amal ibadah semakin banyak dan hati kita semakin tenang? Apakah kita lebih mudah berserah diri kepada Allah ketika menghadapi persoalan? Apakah ilmu yang kita pelajari telah mengurangi kecemasan atau justru menambah kegelisahan? Jika ilmu belum melahirkan ketenangan, mungkin kita masih mengenal ilmu, tetapi belum cukup mengenal Pemilik ilmu. Ya semoga Allah menjadikan ilmu yang kita pelajari sebagai cahaya yang menerangi akal, membersihkan hati, menguatkan iman, dan menghadirkan ketenangan dalam setiap langkah kehidupan. Sebab kebahagiaan sejati bukan hanya mengetahui banyak hal, tetapi menjalani kehidupan dengan hati yang tenteram karena selalu berada dalam bimbingan Allah. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama