Bahagia Berilmu Bisa Menebar Manfaat

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.073
Ahad, 25 Safar 1448

Bahagia Berilmu Bisa Menebar Manfaat
Saudaraku, dikisahkan pada suatu ketika, Rasulullah menggambarkan seorang mukmin dengan sebuah perumpamaan yang sangat indah. Beliau bersabda bahwa perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an adalah seperti buah utrujjah: aromanya harum dan rasanya juga baik (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Perumpamaan itu sederhana, tetapi sangat dalam. Buah yang baik tidak hanya memberikan manfaat ketika dikonsumsi; sebelum dimakan pun aromanya telah menyenangkan orang yang berada di sekitarnya. Demikianlah seorang mukmin. Ia seharusnya menjadi manusia yang kehadirannya memberikan manfaat, bahkan sebelum ia diminta untuk memberi manfaat.

Muhasabah sebelumnya mengajarkan bahwa ilmu yang benar melahirkan iman, iman melahirkan amal saleh, amal saleh membentuk amanah, amanah menghadirkan rasa aman, dan rasa aman menebarkan rahmat. Hari ini kita melangkah satu tahap lebih jauh: rahmat yang nyata akan menjelma menjadi manfaat. Allah berfirman: «"Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi." (QS. ar-Ra'd: 17)»

Ayat ini memberikan sebuah filosofi kehidupan yang sangat mendalam: sesuatu yang bermanfaat akan meninggalkan jejak. Air yang mengalir akan dicari, pohon yang rindang akan didatangi, ilmu yang bermanfaat akan diwariskan, dan manusia yang bermanfaat akan dikenang meskipun ia telah tiada. Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." (HR. Ahmad; dinilai hasan oleh sebagian ulama).

Maka ukuran kemuliaan manusia bukan semata-mata seberapa tinggi ilmunya, seberapa panjang gelarnya, seberapa luas pengaruhnya, atau seberapa besar kedudukannya. Ukuran yang lebih dalam adalah: berapa banyak kebaikan yang mengalir dari dirinya kepada kehidupan semesta.

Secara filosofis, ilmu yang hanya berhenti dalam diri ibarat mata air yang ditutup batu. Ia ada, tetapi tidak menghidupi siapa pun. Ilmu baru menemukan kesempurnaannya ketika ia mengalir mengairi memvasilitasi manfaat.

Seorang guru menebarkan manfaat melalui ilmu yang membuat muridnya memahami kehidupan. Seorang dosen menebarkan manfaat ketika pengetahuannya mengubah cara berpikir mahasiswa. Orang tua menebarkan manfaat ketika pengalaman hidupnya menjadi bekal bagi anak-anaknya. Ulama menebarkan manfaat ketika ilmunya menuntun umat kepada Allah. Pemimpin menebarkan manfaat ketika kekuasaannya digunakan untuk melindungi dan melayani. Bahkan seorang yang sederhana pun dapat menebarkan manfaat melalui senyum, pertolongan, nasihat, tenaga, waktu, atau sekadar kesediaannya mendengarkan orang yang sedang kesulitan.

Karena itu, manfaat tidak selalu identik dengan sesuatu yang besar. Kadang-kadang satu kalimat yang tepat dapat menyelamatkan seseorang dari keputusasaan. Satu ilmu yang diajarkan dengan ikhlas dapat mengubah masa depan seorang anak. Satu keputusan yang adil dapat menyelamatkan kehidupan banyak orang. Satu teladan yang baik dapat diwarisi oleh generasi demi generasi.

Di sinilah kita memahami bahwa ilmu mempunyai dimensi sosial. Ilmu bukan hanya investasi intelektual, tetapi amanah kemanusiaan. Semakin banyak seseorang mengetahui, semakin besar pula kemungkinan manfaat yang dapat ia berikan. Tetapi semakin luas dan mendalam ilmu yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk tidak menyimpan ilmu hanya untuk kepentingan dirinya. Allah berfirman: «"Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, dan barang siapa menyembunyikannya, sungguh hatinya berdosa." (QS. al-Baqarah: 283).

Dalam konteks ilmu, ayat ini mengingatkan kita bahwa pengetahuan yang seharusnya menyelamatkan manusia tidak selayaknya disembunyikan karena pelit atau kesombongan, kepentingan pribadi, atau keengganan berbagi.

Namun menebar manfaat juga membutuhkan hikmah. Tidak semua yang kita tahu harus kita katakan kepada semua orang. Tidak semua ilmu harus diberikan dengan cara yang sama. Orang berilmu memahami siapa yang membutuhkan, apa yang dibutuhkan, kapan waktu yang tepat, dan bagaimana cara menyampaikannya. Karena itu, manfaat bukan sekadar banyak memberi, tetapi memberi sesuatu yang benar-benar dibutuhkan dan dengan cara yang benar.

Di era IT sekarang ini, peluang menebar manfaat menjadi semakin luas. Satu tulisan dapat dibaca ribuan orang. Satu video pembelajaran dapat dipelajari generasi yang bahkan belum pernah kita kenal. Satu penelitian dapat menjadi dasar lahirnya kebijakan. Satu pesan yang menenangkan dapat tersebar jauh melampaui batas ruang dan waktu.

Tetapi di sinilah tanggung jawab ilmu semakin besar. Jangan sampai teknologi membuat kita lebih cepat menyebarkan sesuatu yang tidak bermanfaat. Jangan sampai ilmu yang seharusnya menjadi cahaya justru digunakan untuk menyebarkan hoaks, fitnah, kebencian, atau mempermalukan sesama.

Mencari dan mengumpulkan ilmu penting, tapi mengamalkannya jauh lebih penting. Lalu membagikannya menjafi jariyah yang pahanya melintas masa; karena kebermanfaatannya. Maka seyogyanya kita bertanya kepada diri sendiri: Setelah sekian lama belajar, siapa yang menjadi lebih baik karena ilmu kita? Apakah anak-anak kita mendapatkan cahaya dari pengalaman kita? Apakah mahasiswa mendapatkan arah dari pengajaran kita? Apakah masyarakat mendapatkan solusi dari kehadiran kita? Apakah tulisan-tulisan kita di media sosial menambah ilmu dan ketenangan, atau hanya menambah kebisingan?

Sebab pada akhirnya, ketika umur berhenti dan nama perlahan dilupakan, yang akan tetap hidup bukanlah gelar yang tertulis di depan atau belakang nama kita, bukan pula jabatan yang pernah kita duduki. Yang tetap mengalir adalah manfaat yang pernah kita tinggalkan.

Mungkin kita tidak mampu membangun gedung yang tinggi. Tetapi kita bisa membangun anak bangsa. Mungkin kita tidak mampu meninggalkan harta yang banyak. Tetapi kita dapat meninggalkan ilmu. Mungkin kita tidak mampu mengubah dunia. Tetapi kita dapat mengubah satu hati, satu keluarga, satu kelas, satu generasi menjadi lebih dekat dengan Ilahi. Dan bisa jadi, satu manusia yang berubah menjadi baik karena ilmu yang kita berikan adalah warisan yang jauh lebih mahal daripada seluruh harta yang kita tinggalkan. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama