Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.071
Uro Raya Jumat, 23 Safar 1448
Bahagia Berilmu Bisa Memberi Rasa Aman
Saudaraku dikisahkan pada suatu hari di Madinah, seorang wanita tua datang menemui Rasulullah. Ia bukan orang terpandang, bukan pula pemimpin kabilah. Namun ia memiliki satu kebutuhan yang ingin disampaikan langsung kepada beliau. Rasulullah tidak mempersilakannya sekadar berbicara di tengah keramaian, tapi Beliau berdiri, berjalan bersamanya menyusuri salah satu jalan di Madinah, lalu mendengarkan seluruh keluh kesahnya hingga selesai. Para sahabat melihat bagaimana manusia paling mulia itu memberikan perhatian penuh kepada seorang perempuan tua yang sederhana.
Peristiwa ini diriwayatkan dalam hadis sahih (HR. Muslim). Yang paling mengagumkan bukan hanya kerendahan hati Rasulullah, tetapi rasa aman yang dirasakan oleh masyarakat di hadapan beliau. Mereka tidak takut untuk bertanya, tidak malu untuk mengadu, dan tidak khawatir dipermalukan. Ilmu Rasulullah tidak menciptakan jarak, tetapi menghadirkan kedekatan. Kedudukannya tidak melahirkan ketakutan, melainkan ketenteraman.
Muhasabah sebelumnya mengajarkan bahwa ilmu melahirkan amanah. Hari ini kita melihat buah berikutnya. Amanah yang dijaga dengan baik akan melahirkan rasa aman bagi orang lain. Inilah puncak kematangan ilmu. Orang yang benar-benar berilmu membuat kehadirannya menenangkan, bukan menggelisahkan; menghadirkan solusi, bukan ancaman; membangun kepercayaan, bukan kecurigaan. Allah berfirman: "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang memperoleh rasa aman, dan mereka mendapat petunjuk." (QS. Al-An'am: 82).»
Ayat ini memperlihatkan hubungan yang sangat indah antara iman dan aman. Iman yang benar menghadirkan rasa aman, baik di dalam hati maupun dalam kehidupan sosial. Orang yang dekat kepada Allah akan menjadi sumber ketenteraman bagi orang-orang di sekitarnya.
Secara filosofis, terdapat mata rantai yang tidak boleh terputus: Ilmu → Iman → Amal Saleh → Amanah → Aman. Ilmu yang benar membawa seseorang mengenal Allah. Pengenalan itu melahirkan iman yang kokoh. Iman mendorong lahirnya amal saleh. Amal saleh yang terus dijaga akan membentuk pribadi yang amanah. Dan ketika amanah telah menjadi karakter, lahirlah rasa aman bagi siapa pun yang berinteraksi dengannya.
Menariknya, kata iman (الإيمان), aman (الأمن), amin (الأمين), dan amanah (الأمانة) berasal dari akar kata Arab yang sama, yaitu أ م ن (a-m-n), yang mengandung makna ketenangan, kepercayaan, dan rasa aman. Karena itu Rasulullah memperoleh gelar Al-Amīn, orang yang paling dapat dipercaya. Gelar itu beliau peroleh jauh sebelum menjadi nabi. Artinya, ilmu dan akhlak beliau telah menghadirkan rasa aman bagi seluruh masyarakat Makkah.
Orang yang benar-benar berilmu tidak membuat orang lain takut kepadanya. Anak-anak merasa nyaman di dekatnya. Istri dan suami merasa tenteram hidup bersamanya. Tetangga merasa aman dari gangguan lisannya. Murid merasa tenang belajar kepadanya. Mahasiswa merasa dihargai ketika berdiskusi dengannya. Rekan kerja merasa yakin bahwa amanah tidak akan dikhianati. Bahkan orang yang berbeda pendapat pun tetap merasa diperlakukan dengan adil dan hormat.
Sebaliknya, ilmu yang tidak disertai iman dapat berubah menjadi alat untuk menakut-nakuti, mengintimidasi, memanipulasi, bahkan menzalimi orang lain. Semakin tinggi ilmunya, semakin besar pula kerusakan yang dapat ditimbulkannya apabila kehilangan iman dan amanah. Karena itu Islam tidak hanya mengajarkan agar manusia menjadi pintar, tetapi juga menjadi orang yang menghadirkan rasa aman.
Di era media sosial, rasa aman juga diwujudkan melalui ucapan dan tulisan. Orang berilmu tidak menggunakan ilmunya untuk mempermalukan orang lain, menyebarkan kebencian, mengadu domba, atau memperuncing perpecahan. Ia memilih kata-kata yang menyejukkan, meluruskan dengan hikmah, mengkritik dengan adab, dan berbeda pendapat tanpa menghilangkan rasa hormat. Kehadirannya, baik di dunia nyata maupun di ruang digital, selalu menghadirkan ketenangan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ilmunya menumbuhkan iman, imannya melahirkan amal saleh, amal salehnya membentuk amanah, dan amanahnya menghadirkan rasa aman bagi seluruh makhluk. Itulah ilmu yang diberkahi, ilmu yang memancarkan rahmat sebagaimana ilmu Rasulullah yang membawa kedamaian bagi semesta alam.