Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.075
Selasa 27 Safar 1448
Bahagia Berilmu Membangun Peradaban
Saudaraku, dalam sejarah Islam terdapat sebuah kisah yang sangat indah tentang bagaimana ilmu, iman dan amal dapat mengubah wajah sebuah masyarakat. Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, perhatian terhadap ilmu tidak berhenti pada pengajaran di masjid atau majelis. Hadis-hadis Rasulullah yang sebelumnya banyak tersimpan dalam hafalan para ulama mulai dihimpun dan dibukukan secara lebih sistematis.
Umar bin Abdul Aziz menyadari satu persoalan penting: manusia akan meninggal, sementara iman, ilmu dan amal shalih harus tetap hidup. Karena itu ia meminta para ulama untuk menghimpun hadis Rasulullah agar warisan Islam tidak hilang bersama wafatnya para penghafalnya.
Keputusan itu tampak sederhana. Tetapi dampaknya luar biasa panjang. Apa yang dahulu disampaikan dari lisan ke lisan kemudian menjadi warisan tertulis yang dapat dipelajari oleh generasi yang jauh sesudah mereka. Di sinilah kita melihat sebuah hukum sejarah: orang berilmu mungkin hanya hidup satu zaman, tetapi ilmu yang diwariskannya dapat hidup melewati ribuan zaman.
Muhasabah ke-25 mengajarkan bahwa ilmu dapat menebar manfaat. Muhasabah ke-26 mengajak kita melihat ilmu sebagai investasi jangka panjang. Hari ini kita melangkah lebih jauh: ilmu yang terus diwariskan dapat membangun peradaban. Ya, peradaban tidak dibangun pertama-tama dengan batu, gedung, jalan, atau teknologi. Semua ini hanyalah produk akhir. Peradaban pada hakikatnya dibangun oleh manusia yang memiliki ilmu, iman, amal shalih, nilai, dan visi tentang kehidupan. Karena itu, ketika kita berbicara tentang membangun peradaban, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang membangun manusia melalui ilmu, mempwrkukuh iman dan memperbanyak amal shalih.
Sebuah bangsa boleh memiliki gedung pencakar langit, tetapi jika manusianya kehilangan kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kebijaksanaan, bangunan itu tidak otomatis menjadi tanda kemajuan peradaban. Sebaliknya, masyarakat yang sederhana dapat melahirkan peradaban besar ketika ilmu menjadi budaya hidupnya: membaca menjadi kebiasaan, berpikir menjadi kebutuhan, bertanya tidak dianggap kesalahan, penelitian dihargai, guru dimuliakan, dan ilmu digunakan untuk kemaslahatan.
Itulah sebabnya Islam sejak awal sangat kuat dengan tradisi ilmu. Wahyu pertama bukan perintah membangun istana, mengumpulkan kekayaan, atau mengejar kekuasaan. Ia dimulai dengan: «Ø§Ù‚ْرَØ£ْ Bacalah! (QS. al-'Alaq: 1).» Seakan-akan Allah mengajarkan kepada manusia bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran, pembacaan, dan pengetahuan.
Membaca bukan sekadar membaca tulisan. Ia adalah membaca tanda-tanda Allah pada wahyu, alam, sejarah, manusia, dan kehidupan. Dari membaca lahir pengetahuan. Dari pengetahuan lahir pemahaman. Dari pemahaman lahir kebijaksanaan. Dari kebijaksanaan lahir tindakan. Dari tindakan yang terus menerus dan terarah lahirlah peradaban.
Seorang guru mungkin tidak pernah membangun universitas, tetapi ia dapat membangun manusia yang kelak mendirikan universitas. Seorang dosen mungkin tidak pernah menjadi pembuat kebijakan, tetapi ia dapat mendidik mahasiswa yang kelak membuat kebijakan. Seorang peneliti mungkin tidak pernah menjadi pemimpin negara, tetapi hasil penelitiannya dapat membantu pemimpin mengambil keputusan yang lebih baik. Seorang ulama mungkin tidak pernah memiliki kekuasaan, tetapi ilmu dan keteladanannya dapat membentuk masyarakat yang berakhlak.
Begitulah ilmu, iman dan amsl shalih bekerja membangun peradaban: secara perlahan, melalui manusia.