Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.074
Senin, 26 Safar 1448
Bahagia Berilmu Bisa Berinvestasi
Saudaraku, dikisahkan ada seorang sahabat yang pernah datang kepada Rasulullah bertanya tentang apa yang paling baik untuk dilakukan agar kebaikan seseorang tidak berhenti ketika ia meninggal? Jawaban kehidupan Rasulullah menunjukkan bahwa ada amal yang terus memberikan hasil meskipun pelakunya telah meninggalkan dunia.
Rasulullah bersabda: "Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim). Hadis ini amat populis, mengajarkan kepada kita sebuah filosofi investasi yang melampaui seluruh teori ekonomi: ada investasi yang keuntungannya tidak habis ketika pemilik modal meninggal dunia sekalipun.
Muhasabah sebelumnya mengajak kita bahagia karena ilmu dapat menebar manfaat. Hari ini kita melihat lebih jauh: manfaat ilmu dapat menjadi investasi jangka panjang. Apa yang kita ajarkan hari ini mungkin baru memberikan hasil bertahun-tahun kemudian. Bahkan bisa jadi hasilnya baru terlihat ketika kita sudah tidak lagi berada di dunia.
Ya, ilmu berbeda dengan harta. Jika harta dibagikan, jumlahnya berkurang. Tetapi ilmu justru sering bertambah ketika dibagikan. Ketika seorang guru mengajarkan ilmu kepada seratus murid, ia tidak kehilangan ilmunya. Sebaliknya, ilmunya telah menjadi seratus cahaya. Jika seratus murid itu mengajarkannya lagi kepada seratus orang lainnya, maka satu ilmu dapat berkembang menjadi ribuan manfaat.
Inilah investasi ilmu: modalnya pengetahuan, prosesnya pengajaran dan keteladanan, keuntungannya kemanfaatan, dan dividennya pahala yang terus mengalir. Allah berfirman: «"Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
(QS. Al-Mujadilah: 11).»
Namun investasi ilmu tidak hanya berbentuk mengajar di ruang kelas. Mendidik anak adalah investasi. Menulis buku adalah investasi. Membimbing mahasiswa adalah investasi. Meneliti untuk kemaslahatan adalah investasi. Membina guru adalah investasi. Mengajarkan satu keterampilan kepada seseorang yang membutuhkan adalah investasi. Bahkan memberikan nasihat yang benar pada saat yang tepat dapat menjadi investasi kehidupan seseorang.
Yang menarik, investasi ilmu memiliki karakter yang sangat berbeda dengan investasi duniawi. Dalam investasi harta, kita biasanya bertanya: berapa yang saya tanam dan berapa yang saya dapat? Dalam investasi ilmu, pertanyaannya berubah menjadi: berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena ilmu yang saya tanam?
Karena itu, seorang yang berilmu tidak perlu tergesa-gesa melihat hasil. Ia memahami hukum pertumbuhan. Benih tidak langsung menjadi pohon. Pohon tidak langsung berbuah. Dan buah tidak selalu dinikmati oleh orang yang menanamnya.
Demikian pula pendidikan. Seorang guru mungkin mengajarkan kejujuran kepada muridnya hari ini. Dua puluh tahun kemudian, murid itu menjadi pemimpin yang jujur. Sang guru mungkin sudah tidak lagi mengingat pelajaran yang pernah disampaikannya, tetapi nilai yang ditanamkan masih bekerja dalam kehidupan muridnya.
Seorang ayah mungkin mengajarkan anaknya membaca Al-Qur'an. Bertahun-tahun kemudian, anak itu mengajarkannya kepada anak-anaknya. Kemudian cucunya mengajarkan kepada generasi berikutnya.
Satu pelajaran dapat melintasi zaman. Di situlah ilmu menjadi investasi jangka panjang. Lebih jauh lagi, investasi ilmu tidak mengenal batas kematian. Selama ilmu itu terus diamalkan dan diajarkan, manfaatnya tetap bergerak. Tubuh kita berhenti, tetapi jejak ilmu kita dapat terus berjalan.
Maka jangan ukur keberhasilan seorang pendidik hanya dari apa yang terlihat hari ini. Bisa jadi keberhasilan terbesar seorang guru justru sedang berlangsung jauh setelah ia meninggalkan kelas. Dan jangan pula terlalu sibuk menghitung berapa banyak orang yang mengingat nama kita. Lebih penting bertanya: berapa banyak kebaikan yang terus berjalan karena pernah kita tanam? Semoga kita menjadi bagian yang terus berinvestasi.