Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.040
Selasa, 22 Muharam 1448
Bahagia Menjaga Cahaya Iman
Saudaraku, pasca Fathu Makkah, gelombang manusia masuk Islam semakin besar. Makkah yang dulu menjadi pusat penentangan berubah menjadi kota yang dipenuhi ketundukan, takbir, tauhid, dan semangat baru. Namun Rasulullah tidak membiarkan kemenangan itu berhenti sebagai euforia sesaat. Beliau justru menata ulang fondasi umat: menghancurkan berhala, membersihkan Ka’bah, mengutus para sahabat ke berbagai kabilah, dan mengajarkan bahwa setelah hidayah datang, yang lebih penting adalah menjaganya. Sebab masuk Islam adalah permulaan, sedangkan istikamah dalam Islam adalah perjuangan yang jauh lebih panjang.
Di situlah muhasabah hari ini menemukan maknanya. Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak menikmati manisnya iman, maka hari ini kita diingatkan bahwa rasa manis itu harus dijaga agar tidak berubah menjadi hambar atau bahkan pahit. Iman bukan benda mati yang sekali datang lalu menetap selamanya. Iman itu seperti cahaya: ia bisa terang, bisa redup, bahkan bisa hampir padam bila tidak dipelihara. Karena itu kebahagiaan seorang mukmin bukan hanya ketika hatinya pernah tersentuh hidayah, tetapi ketika ia sanggup merawat hidayah itu sampai akhir hayat.
Secara manusiawi, menjaga lebih sulit daripada memulai. Banyak orang mudah tersentuh pada awalnya, tetapi sedikit yang mampu bertahan. Banyak orang bersemangat ketika baru hijrah, tetapi goyah ketika berhadapan dengan rutinitas, godaan, pujian, dan kelelahan. Sebab yang merusak iman sering kali bukan badai besar, melainkan ragam kemalasan kecil yang dibiarkan terus-menerus: shalat yang mulai ditunda, dzikir yang mulai dilupakan, Al-Qur’an yang mulai disimpan di rak-rak lemari, bahkan hati mulai nyaman dengan dosa-dosa kecil, dan jiwa yang mulai merasa aman dari kelalaian. Cahaya iman tidak selalu padam karena satu dosa besar; sering kali ia redup karena banyak kelalaian kecil yang diabaikan.
Semangat hijrah pada muhasabah ini adalah hijrah dari iman yang rapuh menuju iman yang kuat terjaga. Bukan hanya semangat pada awal jalan, tetapi setia di sepanjang jalan. Bukan hanya menangis saat mendengar nasihat, tetapi juga berubah dalam tindakan. Bukan hanya tersentuh di momen-momen suci, tetapi tetap jujur, sabar, dan taat di hari-hari biasa. Sebab ukuran iman yang matang bukan terletak pada tingginya emosi sesaat, melainkan pada konsistensi hati dalam mencintai Allah di tengah naik-turunnya kehidupan.
Maka seyogyanya kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang sedang kita lakukan untuk menjaga cahaya iman kita? Apakah kita memberi makan hati dengan tilawah Qur'an, berbagi, shalat, doa, dan dzikir? Ataukah kita justru membiarkannya lapar lalu heran mengapa jiwa terasa gelap? Jangan sampai kita bangga pernah berhijrah, tetapi lupa merawat hasil hijrah itu. Sebab yang akan menyelamatkan kita bukan hanya awal yang baik, melainkan sampai akhir yang tetap bercahaya. Harusnya kita senantiasa betmunajat agar cahaya iman tetap berninar di dalam hati. Jangan sampai redup oleh dosa, lemah oleh kelalaian, atau padam oleh kesombongan. Kita memohon agar hati tetap hidup bersama cahayaNya. Karena sesungguhnya kebahagiaan terbesar bukan sekadar pernah mendapat hidayah, melainkan mampu menjaganya sampai akhir hayat dalam keridhanNya. Aamiin