Bahagia Berikhtiar Menjadi 'Ibadurrahman

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.046
Senin, 28 Muharam 1448

Bahagia Berikhtiar Menjadi 'Ibadurrahman
Saudaraku, diceritakan ketika Rasulullah memasuki Kota Makkah pada peristiwa Fathu Makkah, beliau datang bukan sebagai penakluk yang membanggakan kemenangan, tetapi sebagai hamba Allah yang dipenuhi kerendahan hati. Di atas untanya, kepala beliau tertunduk begitu rendah hingga hampir menyentuh pelana, sementara lisan beliau terus memuji dan mengagungkan Allah. Padahal, di hadapan beliau terbentang kota yang dahulu mengusir, memboikot, menghina, dan memerangi beliau selama bertahun-tahun. Kini, beliau memiliki kekuatan untuk membalas semua perlakuan tersebut. Namun yang keluar dari lisannya justru kalimat ampunan, "Pergilah, kalian semua bebas." Kemenangan itu bukan kemenangan ego, melainkan kemenangan seorang hamba Yang Maha Pengasih.

Di situlah muhasabah hari ini bersambung. Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak menjadi ulul albab, yaitu hamba yang menggabungkan dzikir dan pikir, maka hari ini kita diajak naik pada derajat berikutnya, yaitu menjadi 'Ibadurrahman, hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Furqan ayat 63–77. Bila ulul albab menampilkan kejernihan akal, kedalaman perenungan dan ketegihan iman, maka 'ibadurrahman memancarkan kemuliaan akhlak dalam kehidupan. Mereka tidak hanya memahami kebenaran, tetapi juga menghadirkannya dalam sikap, tutur kata, dan perilaku sehari-hari.

Secara filosofis, menjadi 'ibadurrahman berarti menjadikan sifat kasih sayang Allah sebagai inspirasi dalam membangun hubungan dengan sesama manusia. Orang-orang yang pengasih penyayang berjalan di bumi dengan rendah hati, bukan karena merasa rendah, tetapi karena sadar bahwa semua kemuliaan berasal dari Allah. Tidak membalas kebodohan dengan kebodohan, tidak membalas kebencian dengan kebencian, dan tidak membalas celaan dengan permusuhan. Orang-orang yang pengasih penyayang itu kuat, tetapi tidak kasar; juga berilmu, tetapi tidak sombong;  memiliki kedudukan, tetapi tetap mudah menghormati orang lain. Keagungan seorang mukmin tidak tampak dari tingginya suara, melainkan dari dalamnya akhlak.

Semangat hijrah pada muhasabah ini adalah hijrah dari keinginan untuk dihormati menuju kerelaan untuk menghormati, dari keinginan untuk menang sendiri menuju keinginan menghadirkan kedamaian, dan dari keangkuhan diri menuju kerendahan hati sebagai hamba Allah. Dunia hari ini dipenuhi orang-orang yang ingin diakui, didengar, dan dipuji. Namun Al-Qur'an justru mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang semakin tinggi kedudukannya, semakin lembut akhlaknya; semakin luas ilmunya, semakin santun lisannya; dan semakin besar pengaruhnya, semakin banyak manfaatnya bagi orang lain.

Maka sudah sepatutnya kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah orang lain merasakan kasih sayang Allah melalui kehadiran kita? Apakah keluarga menjadi lebih tenang karena akhlak kita? Apakah tetangga merasa aman dengan keberadaan kita? Apakah mahasiswa, sahabat, dan masyarakat merasakan keteduhan dari ucapan dan sikap kita? Sebab menjadi 'ibadurrahman bukan sekadar gelar kehormatan, tetapi misi kehidupan: menghadirkan rahmat Allah di mana pun kita berada.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama