Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.015
Jumat, 26 Dzulhijah 1447
Bahagia Menjadi “Ismail”; Pribadi yang Tangguh
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya kita diingatkan tentang menjadi “Ismail” yang mewarisi tauhid, maka hari ini kita diajak merenungkan satu karakter agung lain dari Ismail, yaitu ketangguhannya dalam menjalani kehidupan.
Ketangguhan Ismail bukanlah ketangguhan yang lahir dari keserbacukupan harta, kuasa, atau kenyamanan hidup lainnya. Justru sebaliknya, Ismail tumbuh dari lingkungan yang penuh ujian, keterbatasan, dan perjuangan. Namun dari situ lahirlah pribadi tangguh yang kuat, sabar, dan matang jiwanya.
Jika kita menelusuri perjalanan hidup Ismail, hampir tidak ada fase yang benar-benar mudah. Sejak bayi, ia telah berada di tengah ujian besar; hidup dan dibesarkan di lembah tandus Makkah yang saat itu belum menjadi kota yang ramai seperti sekarang ini. Tidak ada oase atau sungai yang mengalir, tidak ada kebun yang menghijau, dan tidak ada kemudahan hidup sebagaimana yang lazim dinikmati manusia zaman sekarang. Namun justru dari lingkungan yang sederhana dan penuh perjuangan itu memvasilitasi tunbuhkembangnya seorang anak yang tangguh.
Kehidupan mengajarkan bahwa ketangguhan sering lahir bukan karena banyaknya kenyamanan, tetapi karena kemampuan menghadapi kesulitan. Besi menjadi kuat dan menjadi bernilai setelah dibakar dipanaskan dan ditempa. Pohon menjadi kokoh karena menghadapi terpaan angin bahkan puting beliung. Demikian pula manusia. Jiwa yang besar biasanya lahir dari perjuangan yang panjang, bukan dari kehidupan yang selalu dimanjakan.
Bahagia menjadi “Ismail” yang tangguh menjalani kehidupan berarti menyadari bahwa kesulitan bukan selalu musuh kehidupan. Terkadang kesulitan adalah guru yang sedang mendidik manusia menjadi lebih kuat. Banyak pelajaran yang tidak dapat diajarkan oleh kenyamanan, tetapi hanya dapat dipahami melalui pengalaman menghadapi ujian.
Secara filosofis, kehidupan memang tidak dirancang untuk selalu mudah. Dunia adalah tempat bertumbuh, bukan tempat beristirahat. Karena itu, Allah tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi menjanjikan petunjuk dan pertolongan bagi mereka yang beriman. Orang yang memahami hakikat ini tidak akan terlalu terkejut ketika menghadapi kesulitan, karena ia sadar bahwa ujian adalah bagian dari proses menjadi manusia yang lebih matang.
Ketangguhan Ismail juga tampak dari kemampuannya menerima kenyataan hidup tanpa kehilangan harapan. Ia tidak tumbuh dalam kemewahan ayah yang selalu berada di sisinya. Ia tidak dibesarkan dalam lingkungan yang serba cukup. Namun keterbatasan itu tidak membuatnya menjadi pribadi yang pahit. Sebaliknya, ia tumbuh menjadi manusia yang tetap optimis, bersyukur, dan dekat kepada Allah.
Di zaman sekarang, banyak anak tumbuh dengan fasilitas yang jauh lebih lengkap dibanding generasi sebelumnya, tetapi tidak selalu tumbuh dengan ketangguhan yang sama. Sedikit kegagalan membuat putus asa. Sedikit kritik membuat marah. Sedikit kesulitan membuat menyerah. Hal ini terjadi karena manusia sering diajarkan cara meraih kenyamanan, tetapi kurang diajarkan cara menghadapi kesulitan.
Keteladanan Ismail mengajarkan bahwa anak yang tangguh bukan anak yang tidak pernah jatuh, tetapi anak yang selalu belajar bangkit. Ketangguhan bukan berarti tidak menangis, tidak sedih, atau tidak merasa lelah. Ketangguhan adalah kemampuan untuk tetap melangkah meskipun pernah terluka, tetap berharap meskipun pernah kecewa, dan tetap berbuat baik meskipun hidup tidak selalu sesuai harapan.
Secara psikologis, ketangguhan lahir dari makna hidup yang kuat. Orang yang memiliki tujuan besar akan lebih mampu bertahan menghadapi kesulitan. Sebaliknya, orang yang hidup tanpa makna akan mudah runtuh oleh masalah kecil. Ismail memiliki makna hidup yang jelas karena sejak kecil hidupnya dibangun di atas fondasi tauhid. Ia memahami bahwa hidup bukan sekadar untuk menikmati dunia, tetapi untuk mengabdi kepada Allah.
Ketangguhan juga berkaitan dengan kemampuan mengelola diri. Ismail tidak dikuasai oleh ketakutan, kemarahan, atau keluhan. Ia belajar mengendalikan dirinya dengan iman. Karena itu, ketika ujian besar datang, ia mampu menghadapinya dengan ketenangan yang mengagumkan. Inilah bentuk tertinggi dari ketangguhan: bukan mengalahkan orang lain, tetapi mengalahkan kelemahan diri sendiri.
Menjadi “Ismail” yang tangguh menjalani kehidupan juga berarti tidak menjadikan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti berkembang. Banyak orang terjebak dalam luka masa lalu hingga kehilangan masa depannya. Padahal Ismail mengajarkan bahwa manusia harus terus bergerak maju bersama Allah. Kesulitan boleh menjadi pelajaran, tetapi jangan sampai menjadi penjara yang membatasi pertumbuhan diri.
Lebih jauh lagi, ketangguhan sejati bukanlah kesombongan merasa mampu menghadapi semuanya sendiri. Ketangguhan sejati justru lahir dari kesadaran bahwa manusia membutuhkan Allah dalam setiap langkah kehidupannya. Orang yang paling kuat bukanlah yang tidak membutuhkan siapa pun, tetapi yang paling sadar bahwa dirinya membutuhkan Allah.