Bahagia, Sadar KemurahanNya

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3988
Sabtu, 28 Dzulkaidah 1447

Bahagia, Sadar KemurahanNya
Saudaraku, betapa banyak karunia Allah tercurah kepada ciptaanNya, apalagi kepada hamba-hambaNya. Hal ini penting kita sadari. Karena kesadaran akan kemurahan Allah menjadikan hati selalu dipenuhi rasa syukur dan harapan. Itulah yang tampak dalam kisah Nabi Sulaiman as. Ketika pada suatu waktu  beliau menyaksikan seekor semut kecil berjalan bersama koloninya. Dalam Al-Qur’an diceritakan bahwa semut itu berkata agar kaumnya segera masuk ke sarang supaya tidak terinjak oleh pasukan Nabi Sulaiman.as Mendengar itu, Nabi Sulaiman tersenyum lalu berdoa memohon agar mampu mensyukuri nikmat Allah (QS. An-Naml 18–19). Padahal beliau sudah diberi kerajaan besar, ilmu, kekuasaan, bahkan kemampuan memahami bahasa hewan. Namun beliau tetap menyadari bahwa semua itu merupakan kemurahan Allah ta'ala.

Sebagaimana muhasabah sebelumnya tentang kasih sayang Allah, maka hari ini kita diajak melangkah lebih jauh untuk menyadari kemurahan-Nya. Jika kasih sayang Allah membuat manusia tetap hidup dalam lindungan-Nya, maka kemurahan Allah membuat manusia terus menerima karunia yang sering bahkan tidak dimintanya.

Kemurahan Allah tampak dalam banyak hal yang sering dianggap biasa oleh manusia. Mata yang masih dapat melihat, kaki yang masih dapat melangkah, keluarga yang masih dapat ditemui, udara yang terus dihirup tanpa membayar dan rezeki lain yang tak terkira jumlahnya. Semua itu adalah kemurahan yang luar biasa. Namun karena terlalu sering diterima, manusia sering lupa mensyukurinya.

Kesadaran akan kemurahan Allah melahirkan rasa syukur, hati yang tidak mudah mengeluh. Seseorang mulai melihat hidup bukan dari apa yang kurang, tetapi dari begitu banyak nikmat yang sudah diberikan. Ia menyadari bahwa hidupnya masih dipenuhi karunia meskipun tidak semua keinginannya terpenuhi.

Kemurahan Allah juga terlihat dari kesempatan yang terus diberikan kepada manusia untuk memperbaiki diri. Betapa banyak manusia yang masih diberi umur meskipun sering lalai, masih diberi rezeki meskipun kurang bersyukur, dan masih diberi kesehatan meskipun sering bermaksiat. Allah tidak segera menghukum, tetapi memberi waktu agar manusia kembali kepada-Nya.

Kesadaran terhadap kemurahan Allah menjadikan manusia lebih dermawan kepada sesama. Orang yang merasa hidupnya penuh karunia akan lebih mudah berbagi. Ia tidak takut kekurangan ketika memberi, karena yakin Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Pemurah. Dari sini lahir sikap ringan tangan, suka menolong, dan tidak pelit terhadap sesama.

Kemurahan Allah juga mengajarkan manusia untuk tidak berputus asa. Ketika doa belum terkabul, Allah masih memberi kesabaran. Ketika keinginan tertunda, Allah masih memberi kekuatan untuk bertahan. Bahkan kadang Allah mengganti sesuatu yang hilang dengan hal lain yang jauh lebih baik.

Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa hidup ini dipenuhi kemurahan Allah dari awal hingga akhir. Tidak ada satu detik pun kehidupan yang lepas dari karunia-Nya. Dan ketika hati benar-benar menyadari hal itu, maka manusia akan hidup dengan lebih bersyukur, lebih tenang, dan lebih dekat kepada Allah Yang Maha Pemurah.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama