Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.003
Ahad 14 Dzulhijah 1447
Bahagia Menjadi “Hajar” yang Legowo Menjalani Takdir
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya kita diingatkan tentang menjadi “Hajar” yang tidak menyerah dalam ikhtiar, maka hari ini kita diajak menyelami keteladanan hebat Hajar lainnya, yakni legowo dalam menjalani takdir Allah.
Kehidupan Hajar bukanlah kehidupan yang dipenuhi kemewahan dan kenyamanan. Hajar harus menghadapi kesendirian, keterbatasan, ketidakpastian, bahkan ujian berat sebagai seorang ibu di tengah lembah tandus yang sepi. Namun di tengah semua itu, Hajar tidak tenggelam dalam keluhan dan keputusasaan. Hajar menerima takdir bukan dengan hati yang lemah, tetapi dengan jiwa yang bersandar penuh kepada Allah.
Takdir seringkali menjadi sesuatu yang sulit dipahami manusia. Ada hal-hal yang sesuai dengan harapan, tetapi tidak sedikit pula yang terasa berat dan serasa menyakitkan. Manusia ingin hidup berjalan sesuai rencana, padahal kehidupan sering membawa seseorang ke jalan yang tidak pernah dibayangkannya. Di sinilah manusia belajar bahwa tidak semua yang terjadi harus dipahami terlebih dahulu untuk bisa diterima.
Bahagia menjadi “Hajar” yang legowo menjalani takdir berarti kita tengah belajar menerima kehidupan dengan hati yang tetap hidup bersama Allah. Menerima takdir bukan berarti menyerah tanpa usaha, tetapi menyadari bahwa setelah semua ikhtiar dilakukan, ada wilayah yang sepenuhnya menjadi keputusan Allah. Dan seorang mukmin harus belajar berdamai dengan keputusan itu.
Kekuatan Hajar lahir bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena hatinya dipenuhi keyakinan. Beliau tidak mengetahui bagaimana masa depannya saat menetap di Makkah lembah tandus itu. Beliau tidak tahu kapan pertolongan Allah datang, kapan kehidupan akan berubah, atau bagaimana anaknya akan bertahan. Namun beliau memilih percaya bahwa Allah tidak mungkin menelantarkan hamba yang hanya bersandar kepada-Nya.
Ada di antara manusia yang hanya ingin menerima takdir yang menyenangkan, tetapi sulit menerima takdir menyedihkan yang menguji kesabaran. Padahal kehidupan selalu berjalan di antara ujian nikmat dan ujian musibah. Ada saat manusia diberi kelapangan agar bersyukur, dan ada saat manusia diberi kesempitan agar bertumbuh menjadi lebih sabar. Hajar mengajarkan bahwa kekuatan jiwa justru sering lahir dari proses menghadapi ujian menyedihkan yang panjang.
Menjalani takdir dengan legowo juga berarti tidak terus-menerus hidup dalam penyesalan. Ada manusia yang terlalu sibuk memikirkan “seandainya” dan "seandainya" hingga lupa menjalani hidup yang sedang ada di depannya. Seandainya dulu begini, seandainya itu tidak terjadi, seandainya hidup berbeda. Padahal hidup tidak pernah bergerak ke belakang. Takdir harus dijalani dengan kesadaran, bukan diratapi tanpa berkesudahan.
Keteladanan Hajar sangat relevan di zaman sekarang ketika banyak manusia mudah rapuh menghadapi tekanan hidup. Sedikit kegagalan membuat putus asa, sedikit kehilangan membuat kehilangan arah. Sedikit rasa sakit, membuat banyak keluh kesah. Padahal kehidupan memang tidak dijanjikan selalu mudah, dan yang dijanjikan Allah adalah bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan, dan bahwa Allah selalu dekat bersama dengan orang-orang yang sabar.
Hajar juga mengajarkan bahwa takdir berupa ujian yang berat seringkali menyimpan kemuliaan yang besar. Dari lembah tandus yang beliau jalani dengan sabar, terbitlah zamzam yang menghidupi jutaan manusia. Dari kesendirian yang beliau hadapi dengan iman, lahir jejak ibadah sa’i yang diikuti jutaan umat Islam sepanjang zaman. Ini menunjukkan bahwa Allah mampu mengubah luka menjadi keberkahan dan ujian menjadi kemuliaan.
Kesadaran terhadap takdir akan membuat manusia lebih rendah hati dalam menjalani hidup. Sebab manusia akhirnya memahami bahwa dirinya tidak sepenuhnya mengendalikan kehidupan. Ada kuasa Allah yang bekerja di balik segala sesuatu. Dan ketika seseorang menyadari hal itu, ia akan lebih mudah bersyukur ketika lapang dan lebih sabar ketika sempit.
Pada akhirnya, bahagia menjadi “Hajar” yang kuat menjalani takdir adalah ketika hati mampu berkata: “Ya Allah, aku mungkin tidak memahami seluruh rencana-Mu, tetapi aku percaya Engkau selalu menghadirkan yang terbaik.” Sebab takdir Allah tidak selalu mudah dijalani, tetapi selalu mengandung hikmah bagi hati yang mau berserah. Dan ketika manusia mampu menerima takdir dengan iman, maka badai kehidupan tidak lagi menghancurkan jiwanya, melainkan justru mendewasakannya menuju kedekatan dengan Allah.