Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3966
Jumat, 6 Dzulkaidah 1447
Bahagia Sadar Bisa Berencana,
Namun Allah Penentunya
Saudaraku, dikisahkan dari peristiwa besar dalam kehidupan Nabi Muhammad saw yaitu ketika beliau bersama para sahabat berangkat menuju Makkah dengan niat umrah, tentu tanpa membawa perlengkapan perang. Semua telah direncanakan dengan matang, jumlah rombongan besar, hewan kurban disiapkan, hingga tekad damai dengan orang-orang kafir quraisy Makkah.
Namun di tengah perjalanan sebelum sampai di Masjidil Haram, mereka dihadang dan tidak diizinkan masuk ke Makkah. Umrah pun tertunda. Peristiwa itu kemudian berujung pada Perjanjian Hudaibiyah yang pada awalnya terasa berat bagi sebagian sahabat, meski kemudian terasa bermanfaat.
Saudaraku, lihatlah apa yang direncanakan oleh Rasulullah bersama para sahabat dengan serombongan besarnya untuk umrah ternyata tidak terjadi. Ya, apa yang didamba dan diharapkan ternyata tertunda. Coba, bayangkan! Lalu apa kita ini, memangnya siapa diri kita?
Saat itu, justru Allah menurunkan ketenangan dan menyebut peristiwa itu sebagai “kemenangan yang nyata” (QS. Al-Fath: 1). Dan benar, dari perjanjian Hudaibiyah itulah terbuka jalan yang jauh lebih besar: dakwah meluas, pintu Makkah terbuka, dan akhirnya kemenangan (fathu Makkah) yang hakiki diraih.
Inilah pelajaran agung: tidak semua rencana yang gagal adalah kerugian, dan tidak semua rencana yang tertunda adalah penolakan. Sebagaimana muhasabah sebelumnya, tentang kekayaan yang bisa berubah, kesehatan yang bisa berganti, maka hari ini kita diajak masuk pada wilayah yang paling sering mengguncang hati yakni rencana yang tidak berjalan sesuai harapan.
Bukankah kita sebagai manusia yang hidup dengan "segepok" rencana. Banyak di antara kita kemudian menyusun, menghitung, memperkirakan segala sesuatunya untuk kita kerjakan, kita dambakan sekarang dan di masa depan. Namun seringkali, kenyataan berjalan berbeda. Das sain tidak sejalan dengan dassolen; cita yang tak bersambung dengan fakta. Hal yang diharapkan tidak terjadi, yang ditunggu tidak datang, yang disusun rapi justru berubah arah, yang dicita-citakan masih jauh dari kenyataan.
Dalam situasi dan kondisi inilah ujian kesadaran itu hadir. Orang yang hanya bergantung pada rencana, akan mudah kecewa. Namun orang yang sadar bahwa Allah lah penentu segalanya, akan tetap tenang, meski jalan dan hasilnya berubah. Tentu, kita tetap boleh bahkan harus memiliki rencana, karena itu bagian dari ikhtiar. Namun tidak menggantungkan hatinya pada hasil tertentu, karena tahu ada kehendak yang lebih tinggi, dari Zat Yang Maha Mengetahui.
Dikisahkan pula dari Umar bin Khattab, ketika beliau hendak memasuki suatu wilayah yang sedang dilanda wabah. Setelah bermusyawarah, beliau memutuskan untuk kembali, urung pergi ke wilayah yang terjangkit wabah. Lalu, sebagian sahabat bertanya, “Apakah engkau lari dari takdir Allah?” Umar menjawab dengan penuh hikmah: “Kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.” Riwayat ini menunjukkan bahwa manusia tetap berusaha dan merencanakan tetapi tetap berada dalam lingkup kehendak Allah
Nah, bila kita merasa bahagia menyadari akan rencana sebagai hamba, namun Allah penentunya, maka hikmah yang bisa kita petik. Pertama, melahirkan ketenangan dalam perubahan. Tidak semua harus sesuai rencana kita untuk tetap merasa damai bahagia. Kedua, menjaga keseimbangan antara ikhtiar dan tawakkal. Berusaha maksimal, namun hati tetap berserah diri pada ketetapan Ilahi. Ketiga, menghindarkan dari kekecewaan yang berlebihan. Karena sejak awal sadar bahwa hasil bukan sepenuhnya milik kita. Ranah kita sdbagai hamba hanya berecana dan betikhtiar, selebihnya ranahnya Allah zat yang maha mengetahui. Keempat, membuka mata pada hikmah di balik kejadian. Hal yang tampak buruk bisa jadi jalan menuju kebaikan yang lebih besar. Atau sebaliknya. Kelima, menumbuhkan kepercayaan kepada Allah bahwa apa yang ditentukan-Nya selalu lebih tepat daripada yang kita rencanakan. Keenam, melatih ridha kelapangan hati menerima takdir. Tidak keras kepala pada keinginan, tetapi lembut dalam menerima kenyataan.
Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar sepenuh hati, kita boleh merencanakan,
tetapi tidak menentukan. kita boleh berharap,
tetapi tidak memaksa. Dan ketika hati mampu berkata dengan tulus: "Ya Allah, aku telah berusaha, kini aku percaya pada keputusan-Mu” maka di situlah ketenangan lahir, dan hidup menjadi lebih ringan, lebih dalam, dan lebih bermakna. Semoga
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3966