Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Tahun Ke-12 Harian Ke-3918
Selasa, 21 Ramadhan 1447
Revolusi Ramadhan
Saudaraku, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi juga bulan yang membangkitkan kesadaran ruhani, keberanian moral, dan semangat perjuangan umat. Dalam sejarah Islam, Ramadhan sering menjadi momentum perubahan besar, perubahan hati, perubahan masyarakat, bahkan perubahan peradaban.
Al-Qur’an sendiri diturunkan pada bulan Ramadhan sebagai petunjuk hidup yang membimbing manusia menuju keadilan, kemuliaan dan berkeadaban. Allah berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan tentang petunjuk itu, dan pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185) Ayat ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah bulan kesadaran dan kebangkitan, bulan ketika manusia diseru agar membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara keadilan dan kezaliman.
Dalam perjalanan sejarah modern umat Islam, dunia pernah menyaksikan peristiwa besar pada tahun 1979 ketika Revolusi Islam Iran, dimana Ali Khomenei memiliki andil amat besar sehingga mengguncang tatanan politik global. Revolusi itu bukan sekadar perubahan kekuasaan, tetapi juga simbol perlawanan terhadap dominasi dan ketidakadilan yang dirasakan oleh banyak umat Islam. Peristiwa ini memberikan inspirasi dunia bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah personal, tetapi juga tentang keberanian menegakkan keadilan dalam kehidupan sosial dan politik.
Dalam perkembangan dunia saat ini, banyak umat Islam di berbagai negara merasakan keprihatinan yang sama terhadap konflik, ketidakadilan, dan penderitaan manusia. Dalam konteks inilah muncul seperti Pan-Islamisme gagasan Al-Afghani, solidaritas dan persatuan umat Islam lintas negara dan lintas mazhab, baik Sunni maupun Syiah, yang sama-sama merasakan keinginan untuk membela kemanusiaan dan keadilan.
Ya, Ramadhan sering menjadi momentum spiritual yang memperkuat rasa persaudaraan tersebut. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10) Persaudaraan ini tidak dibatasi oleh perbedaan suku, bangsa, ataupun mazhab. Ia berakar pada kesadaran bahwa umat Islam adalah satu keluarga besar yang diikat oleh iman.
Namun Islam juga menegaskan bahwa perjuangan menegakkan keadilan harus selalu berada dalam batas-batas moral dan hukum yang benar. Allah berfirman: Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(QS. Al-Baqarah: 190) Ayat ini mengajarkan prinsip penting, membela diri dari agresi adalah hak, tetapi melampaui batas tidak dibenarkan.
Dalam Islam juga dikenal konsep qishash, yaitu prinsip keadilan dalam hukum yang memberikan balasan setimpal terhadap kejahatan tertentu. Allah berfirman: Dan dalam qishash itu ada jaminan kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 179)
Tujuan qishash bukanlah balas dendam, tetapi menjaga keadilan dan mencegah kezaliman agar tidak terus berulang. Karena itu, Ramadhan mendidik umat Islam agar memiliki kesadaran perjuangan yang berlandaskan iman, keadilan, dan kebijaksanaan.
Ibrah personalnya bahwa revolusi harus dimulai dari hati. Karena jika kita merenungkan lebih dalam, revolusi terbesar dalam Islam bukanlah revolusi senjata, tetapi revolusi hati. Puasa mendidik manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, menahan amarah, dan membersihkan hati dari kesombongan serta kebencian. Rasulullah saw bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.” *HR. Bukhari dan Muslim) Artinya, kekuatan sejati dalam Islam adalah kekuatan moral dan spiritual.
Jika hati manusia berubah menjadi lebih adil, lebih peduli, dan lebih bertakwa, maka masyarakat pun akan berubah. Spirit perjuangan yang diajarkan Ramadhan dapat diwujudkan dalam berbagai cara yang konstruktif:
Pertama, memperkuat doa dan spiritualitas.
Memohon kepada Allah agar menghadirkan kedamaian, keadilan, dan keselamatan bagi umat manusia. Kedua, memperkuat persatuan umat. Mengurangi perpecahan antar golongan dan membangun solidaritas yang sehat. Ketiga, meningkatkan kepedulian kemanusiaan. Membantu korban konflik, kemiskinan, atau bencana melalui sedekah dan kegiatan sosial. Keempat, memperjuangkan keadilan dengan cara yang bijak. Melalui pendidikan, dakwah, dan penyebaran nilai-nilai kemanusiaan. Kelima, memperbaiki diri sendiri. Karena perubahan besar dalam masyarakat selalu dimulai dari perubahan individu. Allah berfirman Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ramadhan mengajarkan bahwa kebangkitan umat tidak hanya lahir dari kekuatan lahiriah, tetapi dari kekuatan iman, persatuan, dan akhlak yang mulia. Bahagia Ramadhan adalah ketika bulan suci ini mendidik kita menjadi pribadi yang memiliki keberanian menegakkan keadilan, sekaligus kebijaksanaan menjaga kemanusiaan. Karena revolusi terbesar dalam Islam bukan sekadar perubahan kekuasaan, tetapi perubahan manusia menuju ketakwaan, keadilan, dan rahmat bagi seluruh alam.
Jika pada tahun 1979 Imam Khomenei berhasil menancapkan Revolusi Islam di Iran, maka dalam pandangan sebagian umat, semangat perjuangan itu terus bergema hingga hari ini. Banyak umat Islam di berbagai belahan dunia merasakan panggilan moral untuk bersatu menghadapi ketidakadilan dan penindasan yang mereka rasakan, termasuk dalam dinamika konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Sebagian besar umat Islam melihat peristiwa-peristiwa tersebut sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kedaulatan dan martabat bangsa. Dalam Islam memang terdapat prinsip bahwa suatu bangsa berhak mempertahankan diri dari ancaman atau agresi yang datang dari luar. Namun pada saat yang sama, Al-Qur’an tetap menegaskan bahwa setiap perjuangan harus dijalankan dalam koridor keadilan, kebijaksanaan, dan tidak melampaui batas.
Dengan demikian, Ramadhan mendidik umat Islam untuk memiliki keberanian membela kebenaran, tetapi juga memiliki kedewasaan moral untuk menjaga kemanusiaan. Sebab pada akhirnya, revolusi terbesar yang diajarkan Ramadhan adalah revolusi iman, revolusi akhlak, dan revolusi kemanusiaan revolusi yang mengubah manusia menjadi lebih adil, lebih bijaksana, dan lebih dekat kepada Allah.
Tags:
Muhahasah Harian Ke-3918