Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3932
Selasa, 5 Syawal 1447
Bahagia Membuktikan Takwa
Saudaraku, Ramadhan telah berlalu. Kita telah menempuh perjalanan ruhani yang panjang menahan lapar dan dahaga, menundukkan hawa nafsu, memperbanyak ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah. Namun satu pertanyaan besar kini hadir di hadapan kita: Apakah ketakwaan yang menjadi tujuan puasa itu telah benar-benar terwujud dalam diri kita?
Karena sesungguhnya, puasa bukanlah sekadar menahan diri dari bersenang-senang menikmati makanan minuman, tetapi melahirkan ketakwaan. Allah berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Ayat ini menjadi penegasan bahwa Ramadhan adalah proses, dan takwa adalah hasilnya. Namun hasil itu tidak cukup hanya dirasakan ia harus dibuktikan dalam kehidupan nyata.
Ketakwaan bukanlah gelar yang cukup diucapkan atau terpahat di namanya, tetapi kualitas yang harus terlihat. Ia terlihat dalam sikap. Ia tampak dalam perilaku. Ia terasa dalam interaksi dengan sesama. Allah berfirman: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh apa yang kita miliki, tetapi oleh bagaimana kita hidup setelah Ramadhan. Rasulullah saw juga bersabda: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapusnya, serta bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini menjelaskan bahwa ketakwaan harus hadir dalam setiap situasi di mana pun, kapan pun.
Bagaimana kita mengetahui bahwa ketakwaan itu benar-benar ada? Bukan dari banyaknya ibadah di masa lalu semata, tetapi dari perubahan ke arah yang lebih baik secara istikamah berkelanjutan setelahnya.
Ketakwaan tampak ketika hati menjadi lebih takut kepada Allah, lisan lebih terjaga dari kata-kata yang menyakiti, perilaku lebih jujur dan amanah, dan hati lebih lembut terhadap sesama, dosa-dosa mulai ditinggalkan. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa godaan setan, mereka segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’raf: 201) Ayat ini menunjukkan bahwa orang bertakwa bukanlah orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang segera kembali kepada Allah ketika tergelincir.
Agar ketakwaan tidak hanya menjadi sebuah sebutan, ia harus diwujudkan dalam tindakan nyata: Pertama, menjaga hubungan dengan Allah agar tetap istikamah seperti dalam shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an. Kedua, menjaga kejujuran dalam setiap urusan baik dalam pekerjaan, dalam perkataan maupun dalam amanah. Ketiga, memperbaiki akhlak kepada sesama, bersikap lembut, pemaaf, dan tidak mudah menyakiti. Keempat, menjauhi dosa secara sadar, menghindari hal-hal yang dahulu sering dilakukan tetapi diketahui salah. Menggantinya dengan memperbanyak amal kebaikan, seperti bersedekah, membantu orang lain, dan memberi manfaat bagi lingkungan. Kelima, menjaga hati dari kesombongan.Menyadari bahwa semua kebaikan adalah karunia Allah.
Ketakwaan bukanlah sesuatu yang selesai di Ramadhan. Ia adalah perjalanan seumur hidup. Maka bahagia bukan hanya karena kita telah beribadah di bulan suci, tetapi karena kita mampu membuktikan hasilnya dalam kehidupan sehari-hari.
Jika setelah Ramadhan kita menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah, maka itulah tanda bahwa ketakwaan mulai tumbuh dalam diri kita. Namun jika kita kembali seperti sebelumnya, maka kita perlu kembali bermuhasabah. Karena pada akhirnya, yang dinilai oleh Allah bukanlah apa yang kita lakukan sesaat, tetapi apa yang kita pertahankan sepanjang hidup. Dan bahagia yang sejati adalah ketika kita mampu membuktikan bahwa Ramadhan tidak hanya kita lalui, tetapi benar-benar mengubah kita menjadi hamba yang bertakwa. Semoga
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3932