Bahagia Beridulfitri "Bersama" Nabi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3928
Jumat, 1 Syawal 1447

Bahagia Beridulfitri “Bersama” Nabi
Saudaraku,  Idul Fitri adalah hari kebahagiaan seorang mukmin setelah menempuh perjalanan panjang madrasah Ramadhan. Namun kebahagiaan itu bukan sekadar karena telah selesai berpuasa, melainkan karena harapan untuk kembali kepada fitrah, jiwa yang bersih, hati yang lapang, dan hidup yang lebih dekat kepada Allah.

Lebih dari itu, kebahagiaan Idul Fitri yang sejati adalah ketika kita mampu merasakannya “bersama” Nabi Muhammad saw. Ya, bersama dalam arti mengikuti jejaknya, meneladani akhlaknya, dan menghidupkan sunnahnya dalam setiap detik perayaan. Allah berfirman: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21). Ayat ini menegaskan bahwa kebahagiaan seorang mukmin tidak akan sempurna tanpa meneladani Rasulullah saw. Bahkan dalam merayakan Idul Fitri, Nabi memberikan contoh yang penuh makna, sederhana, khusyuk, dan sarat dengan nilai spiritual.

Rasulullah saw merayakan Idul Fitri dengan takbir yang mengagungkan Allah, bukan dengan kemewahan dunia yang berlebihan. Allah berfirman: "…Hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185). Takbir atau mengagungkan Allah adalah inti dari Idul Fitri. Ia adalah pengakuan bahwa segala keberhasilan dalam menjalani Ramadhan bukan karena kekuatan kita, tetapi karena pertolongan Allah.

Rasulullah saw juga menampilkan wajah Idul Fitri yang penuh kasih sayang, kebersamaan, kwbersahajaan. Dan justru di sinilah letak kebahagiaannya. Beliau bersabda: “Puasa adalah perisai… dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: ketika berbuka dan ketika bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Idul Fitri adalah perpanjangan dari kebahagiaan itu kebahagiaan karena telah menjalani ibadah, dan harapan akan kebahagiaan yang lebih besar saat bertemu dengan Allah.

“Bersama” Nabi bukan berarti secara fisik, tetapi bersama dalam nilai dan akhlak. Bersama Nabi dalam kelembutan hati.
Bersama Nabi dalam kejujuran. Bersama Nabi dalam kesederhanaan. Bersama Nabi dalam kasih sayang kepada sesama. Bersama Nabi dalam berbagi kemaafan.  Bersama Nabi dalam mendawamkan ketaatan meski Ramadhan telah berlalu. Idul Fitri menjadi momen untuk menghidupkan kembali semua nilai ketaatan dalam kehidupan. Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menjadi ruh Idul Fitri: saling memaafkan, saling menguatkan, dan saling mencintai.

Agar kebahagiaan Idul Fitri benar-benar bernilai spiritual, beberapa langkah praktis dapat dilakukan: Pertama, menghidupkan malam dan pagi Idul Fitri dengan takbir. Mengagungkan Allah dengan penuh kesadaran dan rasa syukur. Kedua, menjaga kesederhanaan. Tidak berlebihan dalam berpakaian, makanan, atau perayaan. Ketiga, mempererat silaturahmi. Mengunjungi keluarga, tetangga, dan sahabat dengan penuh kasih sayang. Keempat, saling memaafkan dengan tulus. Melepaskan dendam dan membuka lembaran baru dalam hubungan. Kelima, berbagi kebahagiaan.
Menyantuni fakir miskin, anak yatim, dan mereka yang membutuhkan. Keenam, menjaga akhlak setelah Ramadhan.
Melanjutkan kebiasaan baik yang telah dibangun selama bulan suci.

Idul Fitri bukan sekadar hari raya, tetapi hari kembali, kembali kepada fitrah, kembali kepada Allah, dan kembali kepada nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Bahagia Idul Fitri adalah ketika kita tidak hanya merayakannya, tetapi juga menghidupkan ruhnya. Dan kebahagiaan yang paling indah adalah ketika kita merasa berjalan di jalan yang sama dengan Nabi, meneladani akhlaknya, mengikuti sunnahnya, dan berharap kelak dikumpulkan bersamanya di surga Allah. Karena pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukan hanya merayakan Idul Fitri di dunia, tetapi bertemu kembali dengan Nabi di akhirat dalam ridha Allah.

Maka di hari raya ini, izinkan Saya Sri Suyanta dan keluarga menghaturkan Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa qiyamana. Semoga Allah menerima ibadah  puasa kita. Jika selama Ramadhan kita belajar menahan diri, maka hari ini kita belajar memohon maaf dengan kerendahan hati, memberi maaf dengan kebesaran jiwa, dan mengikhlaskan segala yang pernah melukai. Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita benar-benar kembali, dan benar-benar menang, bukan atas orang lain, tetapi atas diri kita sendiri. Aamiin


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama