Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3927
Kamis, 30 Ramadhan 1447
Bahagia Sambut Kemenangan
Saudaraku, kini kita bergembira sekaligus bersedih. Bergembira karena kita sudah di penghujung Ramadhan 1447. Artinya kita bersyukur bergembira masih dianugrahi kesempatan oleh Allah untuk menambah pundi-pundi pahala Ramadhan tahun ini. Namun kita juga bersedih, karena Ramadhan bulan yang penuh berkah sudah akan meninggalkan kita. Esok atau lusa sudah idul fitri.
Ya, bagi kita orang-orang beriman, Ramadhan adalah perjalanan panjang menuju kemenangan, kemenangan yang membahagiakan. Namun kemenangan yang diajarkan oleh Ramadhan bukanlah kemenangan yang menundukkan orang lain, bukan pula kemenangan yang melahirkan kesombongan, melainkan kemenangan atas diri kita sendiri; kemenangan atas hawa nafsu kita; kemenangan atas amarah; kemenangan atas ego yang ingin selalu benar; dan kemenangan atas kebiasaan saling menyalahkan.
Inilah kemenangan sejati yang sering tidak terlihat, tetapi justru paling bernilai di sisi Allah. Allah berfirman: “Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.(QS. An-Nazi’at: 40–41). Ayat ini menegaskan bahwa kemenangan terbesar manusia adalah ketika ia mampu mengendalikan hawa nafsunya, mampu menguasai dirinya sendiri, bukan atas lainnya.
Ramadhan melatih kemenangan itu setiap hari. Ketika lapar datang, kita menahannya. Ketika marah muncul, kita meredamnya. Ketika ego ingin menang sendiri, kita belajar mengalahkan. Di sinilah kemenangan sedang terjadi, pelan, dalam diam, tetapi nyata. Rasulullah saw bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah. (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menegaskan bahwa kekuatan sejati adalah kemenangan atas diri sendiri.
Kemenangan ini tanpa mengalahkan siapa-siapa. Sering kali manusia memahami kemenangan sebagai keberhasilan mengalahkan orang lain. Namun Ramadhan mengajarkan makna yang berbeda. Kemenangan dalam Islam adalah kemenangan yang tidak melukai, tidak menyakiti, dan tidak merendahkan orang lain. Ia adalah kemenangan yang melahirkan kelembutan, bukan kesombongan. Allah berfirman: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati. (QS. Al-Furqan: 63)
Orang yang benar-benar memperoleh kemenangan justru akan rendah hati, bukan angkuh. Ia tidak merasa lebih baik dari orang lain. Ia tidak sibuk menyalahkan. Ia tidak mudah menghakimi. Karena ia sadar, perjuangan terberat adalah melawan dirinya sendiri.
Hari ini juga merupakan kemenangan dalam menyambut Idul Fitri. Puncak perolehan dari didikan Ramadhan dirayakan saat Idul Fitri, sebagai hari kemenangan. Namun kemenangan ini bukan untuk dirayakan dengan euforia berlebihan, melainkan dengan syukur yang mendalam kepada Allah. Allah berfirman “…Hendaklah kamu menyempurnakan bilangan (puasa), dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185). Ayat ini menunjukkan bahwa kemenangan Ramadhan harus diisi dengan takbir, tahmid, dan syukur, bukan dengan kesenangan yang melalaikan.
Idul Fitri adalah saat kembali kepada fitrah, hati yang suci, bersih dari dosa, jiwa yang tenang, dan hubungan yang kembali harmonis. Rasulullah saw juga mengajarkan pentingnya menjaga akhlak hingga akhir Ramadhan dan saat hari raya.
Agar kemenangan Ramadhan benar-benar bermakna, beberapa langkah praktis dapat dilakukan: Pertama, menang atas hawa nafsu.
Menjaga diri dari makanan berlebihan, menjaga pandangan, dan mengendalikan keinginan yang tidak perlu. Kedua, menang atas amarah. Memilih diam ketika emosi muncul, memaafkan kesalahan orang lain, dan menjaga ketenangan hati.Ketiga, menang atas ego. Tidak merasa paling benar, mau mendengar, dan siap meminta maaf. Keempat, menang atas kebiasaan menyalahkan. Lebih banyak introspeksi diri daripada menghakimi orang lain. Kelima, menyambut Idul Fitri dengan sederhana dan penuh syukur. Memperbanyak takbir, mempererat silaturahmi, dan menghindari berlebihan dalam perayaan.
Ramadhan telah mengajarkan kita arti kemenangan yang sesungguhnya. Bukan kemenangan yang riuh, tetapi kemenangan yang hening. Bukan kemenangan yang terlihat oleh manusia, tetapi kemenangan yang dikenal oleh Allah.
Bahagia Ramadhan adalah ketika kita keluar dari bulan suci ini sebagai pribadi yang lebih tenang, lebih sabar, dan lebih mampu mengendalikan diri. Dan ketika takbir menggema di hari Idul Fitri, semoga itu bukan hanya suara di lisan, tetapi gema kemenangan di dalam hati. Karena pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita mengalahkan siapa pun, tetapi ketika kita berhasil menundukkan diri kita sendiri dan kembali kepada Allah dengan hati yang bersih.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3927