Bahagia Diwisuda di Hari Raya


Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3930
Ahad, 3 Syawal 1447

Bahagia Diwisuda di Hari Raya
(Sari Khutbah Idul Fitri di Masjid Al-Wustha Jeulingke)
Saudaraku, Ramadhan adalah madrasah ruhani, sebuah institusi pendidikan ilahiah yang mendidik manusia selama sebulan penuh. Ia bukan sekadar ritual, tetapi proses pembentukan jiwa, penguatan iman, dan penyempurnaan akhlak.

Dalam Al-Qur’an, Allah telah merumuskan dengan sangat indah kurikulum Ramadhan: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183) Ayat ini setidaknya mengandung tiga kata kunci untuk menggambarkan adanya input, proses dan output yang menjadi fondasi pendidikan Ramadhan. Dan kini Syawal diwisuda dan seterusnya menjadi outcome, bukti takwa yang membumi.

Beriman sebagai input. Ramadhan hanya bermakna bagi mereka yang memiliki iman. Iman adalah pintu masuk atsu syarat masuk, kesadaran awal bahwa segala ibadah dilakukan karena Allah di jalan Allah dan untuk Allah.

Berpuasa sebagai proses. Puasa adalah metode pendidikan. Ia melatih kesabaran, kejujuran, pengendalian diri, dan kepekaan sosial.

Bertakwa sebagai output. Inilah tujuan akhirnya: lahirnya manusia bertakwa manusia yang sadar akan kehadiran Allah dalam setiap langkah hidupnya.

Maka di Hari Raya Idul Fitri merupakan Hari Wisuda Ruhani. Jika Ramadhan adalah madrasah, maka Idul Fitri adalah hari wisuda. Hari ketika seorang mukmin diharapkan telah lulus dari proses pendidikan spiritual. Hari ketika Allah menganugerahkan “gelar” paling mulia: takwa. Allah  berfirman:“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Gelar ini tidak diberikan berdasarkan harta, jabatan, atau status sosial, tetapi berdasarkan kualitas hati dan amal. Gdlar yang hanya disematkan oleh Allah, naka ia tidak diumumkan oleh manusia, tidak ditulis di lembar ijazah atau di spanduk-spanduk. Ia di hati orang-orang yang lulus dari madrasah Ramadhan.

Namun, seperti halnya wisuda di dunia, kelulusan ini bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan baru. Inilah makanya gelar takwa harus membumi sebagai outcome kehidupan Takwa yang diperoleh dari Ramadhan harus terlihat dalam kehidupan setelahnya. Ia bukan hanya label, tetapi energi hidup yang membentuk perilaku sehari-hari. Allah berfirman: “Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Bekal ini harus dibawa dalam seluruh perjalanan hidup. Rasulullah saw juga bersabda: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada…” (HR. Tirmidzi) Artinya, takwa tidak berhenti di Ramadhan, tetapi terus hidup dalam setiap ruang dan waktu.

Outcomenya, kini gelar takwa harus mewujud setelah Ramadhan dan seterusnya. Agar “wisuda” perolehan madrasah Ramadhan benar-benar bermakna, takwa harus diwujudkan dalam amal nyata.

Pertama, menjaga dan menguatkan iman.
Melanjutkan shalat tepat waktu, menjaga hubungan dengan Allah, dan tidak kembali pada kebiasaan lama yang buruk.

Kedua, terus belajar dan menambah ilmu.
Membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian, dan memperdalam pemahaman agama.

Ketiga, memperbanyak amal shalih. Bersedekah, membantu sesama, dan melakukan kebaikan sekecil apa pun.

Keempat, membiasakan berbagi. Tidak hanya di Ramadhan, tetapi sepanjang tahun.

Kelima, menjaga silaturahim dan saling memaafkan. Menguatkan hubungan keluarga, memperbaiki hubungan yang retak, dan menjaga hati tetap bersih.

Bukankan ini wisuda yang hakiki, apalagi tidak semua orang yang menjalani Ramadhan benar-benar “lulus”. Ada yang hanya menahan lapar, tetapi tidak berubah hatinya. Ada yang menjalankan ritual, tetapi tidak meningkat ketakwaannya.

Wisuda Ramadhan yang sejati adalah ketika kita keluar dari bulan suci ini sebagai pribadi yang lebih dekat kepada Allah, lebih baik akhlaknya, dan lebih bermanfaat bagi sesama.

Bahagia di Hari Raya adalah ketika kita merasakan bahwa Ramadhan telah mengubah diri kita meskipun sedikit, tetapi nyata. Dan ketika takbir menggema, semoga itu bukan hanya penanda berakhirnya Ramadhan, tetapi juga tanda bahwa kita telah “diwisuda” oleh Allah dengan gelar yang paling mulia: takwa. Karena pada akhirnya, gelar terbaik dalam hidup ini bukanlah yang disematkan oleh manusia, tetapi yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang bertakwa.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama